My WordPress Blog

Dokter Bongkar Dampak Kurang Gizi pada Anak yang Bisa Sebabkan Stunting

Apa Itu Stunting dan Bagaimana Terjadi?

Stunting adalah kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam jangka panjang, sehingga memengaruhi pertumbuhan anak secara signifikan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga tinggi badan anak. Jika dibiarkan, stunting dapat memengaruhi perkembangan fisik dan mental anak hingga masa dewasa.

Kurang gizi bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu kurang gizi akut dan kurang gizi kronis. Kurang gizi akut biasanya terjadi dalam waktu singkat, seperti ketika anak mengalami penurunan berat badan mendadak karena tidak makan cukup atau sakit. Sementara itu, kurang gizi kronis terjadi dalam jangka panjang, di mana anak tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup secara konsisten. Akibatnya, berat badan dan tinggi badan anak tidak berkembang sesuai usianya, sehingga terjadi stunting.

Perbedaan Stunting dengan Pendek Genetik

Stunting berbeda dengan pendek genetik. Pendek genetik terjadi karena faktor keturunan, yakni tinggi badan orang tua yang rendah. Namun, stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sejak lahir hingga masa pertumbuhan anak. Artinya, anak yang lahir dari orang tua dengan tinggi badan normal bisa saja mengalami stunting jika tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup selama masa pertumbuhannya.

Proses stunting membutuhkan waktu yang lama untuk terjadi. Misalnya, jika anak tidak mau makan selama seminggu, hal tersebut tidak akan menyebabkan stunting. Namun, jika kekurangan gizi terus-menerus terjadi dalam jangka panjang, maka risiko stunting meningkat.

Prevalensi Stunting pada Anak

Stunting bisa terjadi sejak dalam kandungan. Dalam kondisi intra-uterine, sekitar 20% anak mengalami stunting. Pada usia 0-6 bulan, angka kejadian stunting mencapai sekitar 20%, sementara usia 6 bulan hingga 2 tahun memiliki prevalensi tertinggi, yaitu sekitar 50%. Masa MPASI (makanan pendamping ASI) sering kali menjadi titik kritis karena gangguan dalam pemberian makanan yang tepat.

Setelah usia 24 bulan hingga 3 tahun, angka kejadian stunting menurun menjadi sekitar 10%. Hal ini menunjukkan bahwa stunting lebih rentan terjadi pada usia balita, terutama pada masa transisi dari ASI ke makanan padat.

Cara Mencegah Stunting pada Anak

Untuk mencegah stunting, beberapa langkah penting perlu dilakukan:

  • Memenuhi asupan hewani

    Ibu hamil, ibu menyusui, serta bayi dan balita perlu mendapatkan asupan protein hewani yang cukup. Makanan hewani seperti daging, telur, dan susu mengandung nutrisi penting seperti protein dan vitamin yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Selain itu, ibu hamil dan menyusui juga dianjurkan mengonsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.

  • Memberikan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan

    ASI merupakan sumber nutrisi terbaik untuk bayi. Kandungan gizinya, seperti protein whey dan kolostrum, membantu menjaga kesehatan dan pertumbuhan bayi. Memberikan ASI eksklusif hingga usia enam bulan dapat menurunkan risiko stunting.

  • Rutin membawa bayi ke posyandu

    Memantau pertumbuhan bayi melalui posyandu atau klinik sangat penting. Di sana, tinggi dan berat badan bayi akan diukur secara berkala agar sesuai dengan standar pertumbuhan. Dengan pemantauan ini, masalah pertumbuhan dapat diketahui lebih dini dan segera ditangani.

  • Mengonsumsi tablet penambah darah

    Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk bayi lahir dengan berat badan rendah. Untuk mencegah hal ini, tablet penambah darah dianjurkan dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur dan disertai asupan vitamin C.

  • Menjaga kebersihan

    Kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah penyakit yang dapat memicu diare dan gangguan pencernaan. Hal ini berdampak langsung pada penyerapan nutrisi dan risiko stunting.

Profil Dokter Spesialis Gizi

dr. Lusiana, SP. GK, AIFO-K adalah Dokter Spesialis Gizi Klinik yang berpraktik di RS Hermina Solo dan RS Hermina Wonogiri. Beliau ahli dalam penanganan gizi medis, konseling pola makan sehat, serta gizi olahraga (AIFO-K). Selain itu, dr. Lusiana juga bersertifikasi nutrigenomik dari University of Toronto.

Fokus keahliannya meliputi penanganan nutrisi untuk berbagai kondisi medis, konsultasi gizi seimbang, manajemen berat badan, dan konsultasi nutrisi. dr. Lusiana aktif memberikan edukasi kesehatan dan menjadi narasumber di Tribun Health. Jika Anda ingin berkonsultasi dengan dr. Lusiana, Sp.GK, AIFO-K, silahkan mengunjungi laman Instagram @rsuherminasolo untuk mengetahui jadwal praktiknya.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *