My WordPress Blog

Fakultas Psikologi Unair Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat

Fakultas Psikologi Unair Berupaya Tingkatkan Kesadaran Masyarakat terhadap Kesehatan Mental

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental melalui berbagai kegiatan ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun fakultas, yang bertujuan memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas.

Kesehatan Mental sebagai Masalah Publik

Data global menunjukkan bahwa depresi dan gangguan kecemasan menyebabkan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun di seluruh dunia, dengan kerugian ekonomi lebih dari satu triliun dolar Amerika Serikat per tahun. Di Indonesia, berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga pekerja mengalami tingkat stres kerja sedang hingga tinggi. Angka-angka ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan lagi sekadar masalah individu, tetapi sudah menjadi isu publik, terutama dalam lingkup tempat kerja.

Upaya Fakultas Psikologi Unair

Dekan Fakultas Psikologi Unair, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga menyasar masyarakat secara langsung agar lebih sadar dan memahami isu kesehatan mental. “Dalam rangkaian kegiatan ini kami ingin memberikan dampak langsung kepada masyarakat, salah satunya melalui pengabdian masyarakat. Tujuannya agar masyarakat lebih aware terhadap kesehatan mental, karena mental health merupakan isu yang sangat utama saat ini,” ujarnya.

Kegiatan orasi ilmiah menghadirkan sejumlah akademisi yang membahas kesehatan mental dari berbagai perspektif. Prof. Seger Handoyo menyampaikan topik kesehatan mental di dunia kerja, Prof. Endang membahas isu kesehatan mental secara umum, serta Dr. Nur Aini menyoroti pentingnya literasi sejak dini untuk mencegah berbagai persoalan psikologis di masa depan.

Rendahnya Literasi dan Kemampuan Bernalar

Menurut Dewi, rendahnya literasi dan kemampuan bernalar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan mental masyarakat di era digital. Paparan informasi melalui media sosial yang serba cepat dinilai membuat individu cenderung bereaksi spontan tanpa proses refleksi yang matang. “Kesempatan menalar harus ditanamkan sejak dini melalui literasi. Anak yang terbiasa membaca akan memproses informasi terlebih dahulu sebelum merespons, berbeda dengan konsumsi media digital yang sering memicu reaksi spontan dan emosional,” jelasnya.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, Fakultas Psikologi Unair juga mendorong interaksi langsung sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental, terutama pada anak-anak.

Keseimbangan Emosional

Aktivitas seperti permainan dan pertunjukan interaktif dilakukan untuk membangun keseimbangan emosional serta mengurangi ketergantungan pada gawai. Dewi menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi kebutuhan semua kelompok usia, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, termasuk di lingkungan kerja. Ia menilai kesejahteraan psikologis tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi atau pekerjaan.

“Kesejahteraan psikologis adalah hal utama. Orang yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan pun tetap dapat mengalami masalah mental. Karena itu, kesejahteraan mental harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Di lingkungan kerja, Dewi menekankan pentingnya kepemimpinan yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Pemimpin, menurutnya, harus mampu memperlakukan karyawan secara manusiawi, bukan sekadar menekan target kerja. Ia menambahkan bahwa sejumlah institusi kini mulai menerapkan program seperti coaching, mentoring, dan counseling untuk mendukung kesejahteraan psikologis pekerja.

Fasilitas Kesejahteraan Psikologis

Fakultas Psikologi Unair sendiri telah menyediakan fasilitas kesejahteraan psikologis bagi dosen dan tenaga kependidikan, termasuk program rekreasi dan kegiatan pemulihan mental. Sementara itu, Prof. Dr. Seger Handoyo menjelaskan bahwa persoalan kesehatan mental di tempat kerja tidak lagi dapat dipandang sebagai tanggung jawab individu semata, melainkan menjadi tanggung jawab organisasi dan sistem kerja secara keseluruhan.

Menurutnya, perubahan dunia kerja akibat digitalisasi, otomatisasi, serta pergeseran karakter tenaga kerja, khususnya generasi muda, meningkatkan tekanan psikologis pekerja. “Riset psikologi industri menunjukkan bahwa tingginya tuntutan kerja, rendahnya kontrol pekerjaan, serta ketidakseimbangan antara usaha dan penghargaan menjadi pemicu utama stres kerja,” urainya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, organisasi, dan pemangku kebijakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, sehat secara psikologis, serta mampu mendukung kesejahteraan dan produktivitas pekerja secara berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Fakultas Psikologi Unair berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat dan mampu mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih sehat secara psikologis.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *