My WordPress Blog

Dinkes Basel Temukan Balita Diberi Kacang dalam Menu MBG

Peninjauan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Bangka Selatan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, kini mendapat perhatian serius dari dinas terkait. Hasil peninjauan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan menunjukkan bahwa sebagian menu makanan masih belum sepenuhnya memenuhi standar gizi yang ditetapkan.

Evaluasi Komposisi Gizi Menu

Kepala Dinas Kesehatan, dr Agus Pranawa menjelaskan bahwa secara umum, menu kering MBG yang disiapkan oleh setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mengacu pada rekomendasi ahli gizi. Namun, dalam peninjauan tersebut, ia menemukan beberapa catatan penting yang perlu diperbaiki. Beberapa menu dinilai masih berada di bawah standar kebutuhan gizi, baik dalam hal angka kecukupan gizi (AKG) maupun angka kecukupan minimal (AKM) per porsi.

“Memang menunya menurut ahli gizi itu sesuai. Saya juga sempat turun ke beberapa SPPG dan ada beberapa menu yang sudah sesuai dengan standarnya,” kata dia.

Namun, ia juga menyebutkan adanya beberapa menu yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Misalnya, terdapat balita di bawah 10 bulan yang diberikan menu kacang-kacangan. Meskipun kacang-kacangan memiliki nilai protein yang tinggi, namun menurutnya, pemberian makanan tersebut belum tentu sesuai dengan kondisi balita yang giginya belum tumbuh.

Pentingnya Tampilan Makanan

Selain komposisi gizi, Agus Pranawa juga menyoroti pentingnya tampilan makanan yang disajikan kepada anak-anak. Menurutnya, menu yang menarik akan membuat peserta didik lebih tertarik untuk mengonsumsi makanan yang diberikan. Ia menilai penyajian makanan yang monoton dapat membuat anak-anak kurang berminat untuk makan, terutama bagi peserta didik di tingkat PAUD hingga sekolah dasar.

“Terkait menu juga kalau bisa tampilannya menarik. Jangan nasi-nasi saja. Buat model semenarik mungkin sehingga anak-anak peserta didik di tingkat PAUD hingga SD bisa tertarik,” jelas Agus Pranawa.

Ia juga menyoroti menu yang terlalu kering tanpa kuah atau sayur bagi anak-anak usia dini. Kondisi ini dinilai kurang ideal karena membuat makanan sulit dikonsumsi anak-anak. Kondisi ini harus menjadi perhatian bagi seluruh SPPG di Bangka Selatan dalam menentukan menu makanan.

Masalah Distribusi dan Pengemasan Makanan

Selain menu, Agus Pranawa menekankan pentingnya menjaga kualitas distribusi dan pengemasan makanan. Ia meminta setiap SPPG memastikan makanan yang dibagikan kepada masyarakat dalam kondisi layak konsumsi. Kasus makanan berjamur atau tidak matang harus benar-benar dihindari karena dapat menimbulkan masalah baru.

“Misalnya roti maupun makanan lain jangan sampai berjamur diberikan kepada masyarakat. Jangan sampai nanti ada roti berjamur atau telur tidak masak dan dikembalikan lagi,” katanya.

Agus Pranawa menilai hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi banyak pihak, terlebih jika kejadian tersebut menyebar di media sosial. Saat ini, kata Agus Pranawa, setiap SPPG juga telah memiliki media sosial yang digunakan untuk mempublikasikan menu MBG yang dibagikan kepada masyarakat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi sekaligus menjadi sarana komunikasi dengan masyarakat.

Komitmen Dinas Kesehatan

Agus Pranawa menegaskan pihaknya tidak menutup mata terhadap kondisi di lapangan. Ia memahami bahwa penyedia makanan juga menghadapi tantangan harga bahan pokok yang terus berubah. Di sisi lain, masyarakat juga semakin memahami harga bahan makanan karena sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang terbiasa berbelanja di pasar.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Selatan berkomitmen membantu SPPG dalam menyusun menu yang lebih baik. Ia juga membuka ruang diskusi dengan para pengelola program melalui puskesmas di masing-masing kecamatan.

“Setiap SPPG jangan takut berdiskusi dengan kami terkait menu program MBG,” ucap Agus.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *