Penelitian Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung: Ancaman Kesehatan yang Tersembunyi

Populasi ikan sapu-sapu yang meningkat drastis di sungai-sungai ibu kota, seperti Jakarta, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Ikan sapu-sapu yang hidup di lingkungan yang tercemar berpotensi mengandung logam berat berbahaya, termasuk timbal, yang dapat membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi.
Untuk memahami lebih jauh tentang peredaran ikan invasif ini di sungai-sungai Jakarta, peneliti melakukan survei di Sungai Ciliwung, yang dikenal sebagai habitat utama ikan sapu-sapu. Tim peneliti tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB dan melakukan pemantauan bersama warga setempat, Senin (6/4). Dalam proses penangkapan, mereka dibantu oleh Bang Ipul, warga sekitar yang turut serta dalam pengambilan sampel ikan.

Dari hasil penangkapan, ditemukan sekitar delapan ekor ikan sapu-sapu dengan ukuran relatif kecil, berkisar antara 3 hingga 15 cm. Selama proses penjaringan, sampah juga ikut tersangkut dalam jaring dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi Sungai Ciliwung masih jauh dari kata bersih. Terlihat juga beberapa sampah dan limbah rumah tangga yang mengambang di permukaan sungai.
Bang Ipul menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukan menjadi masalah utama dalam ekosistem sungai. Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi kondisi sungai adalah kesadaran masyarakat.

“Ikan sapu-sapu itu sebenarnya tidak salah, semua tergantung kita. Jika masih membuang sampah sembarangan, ya sungainya tetap kotor. Di mana mereka hidup, di situ mereka akan beradaptasi,” ujarnya.
Sampel ikan sapu-sapu tersebut selanjutnya dibawa ke Laboratorium MIPA Universitas Indonesia untuk dilakukan pengujian kandungan logam berat, seperti kromium, kadmium, timbal, dan merkuri. Penelusuran ini menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan sungai menjadi prioritas utama atas kesadaran manusia. Ikan yang berada di kali menyesuaikan ekosistem di mana ia tinggal.

Ahli ikan dan konservasi ikan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., menjelaskan bahwa kondisi perairan seperti Sungai Ciliwung yang tercemar bisa membuat ikan sapu-sapu menyerap zat beracun ke dalam tubuhnya. Akumulasi logam berat tersebut tidak hanya bertahan di jaringan ikan, tetapi juga berisiko berpindah ke manusia dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Charles menjelaskan bahwa habitat ikan sapu-sapu, khususnya di kawasan hilir, kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa studi menunjukkan bahwa air sungai dan sedimen Sungai Ciliwung di daerah Jakarta dan sekitarnya telah terkontaminasi logam berat beracun seperti kadmium (Cd), raksa (Hg), dan timbal (Pb). Kondisi lingkungan yang toksik ini berdampak langsung pada anatomi ikan sapu-sapu yang berdiam di sana.

“Ketiga logam berat ini juga ditemukan pada organ tubuh (insang, hati, dan daging) ikan sapu-sapu yang tertangkap di Sungai Ciliwung,” jelas Charles dalam keterangan tertulis yang diterima. Ia menambahkan bahwa ikan sapu-sapu telah terbukti mengakumulasi logam berat ini di dalam daging yang secara langsung berkorelasi dengan tingginya tingkat pencemaran di sungai.
Alih-alih mati keracunan, ikan invasif ini justru menyerap racun-racun tersebut ke dalam jaringan tubuhnya. Bahaya laten inilah yang akan berpindah ke tubuh manusia jika ikan tersebut dijadikan lauk-pauk. Menurut Charles, akumulasi logam berat pada ikan sapu-sapu dapat menimbulkan risiko langsung bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi terus-menerus.
“Logam-logam ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kerusakan neurologis, disfungsi ginjal, dan peningkatan risiko kanker, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil,” tegas pakar perikanan IPB tersebut.











