My WordPress Blog

Ahli epidemiologi ingatkan protokol ketat evakuasi jenazah korban banjir dan longsor di Sumatera

Tugas Berisiko Tinggi dalam Evakuasi Jenazah Saat Banjir

Evakuasi jenazah dari kendaraan atau lokasi yang terendam banjir merupakan salah satu tugas paling berbahaya bagi petugas dan relawan. Proses ini tidak hanya melibatkan risiko fisik, tetapi juga ancaman biologis dan kimia yang sangat serius jika tidak dilakukan dengan standar keselamatan yang benar.

Risiko yang Membahayakan Petugas

Menurut epidemiolog Dicky Budiman, evakuasi jenazah dalam kondisi banjir bukanlah pekerjaan biasa. Ia menegaskan bahwa proses ini termasuk operasi berisiko tinggi secara biologis, kimia, dan mekanik. Banyak petugas di lapangan belum memahami potensi ancaman yang lebih besar dibanding situasi normal.

“Evakuasi jenazah dari dalam kendaraan pasca banjir ini bukan pekerjaan biasa, ini termasuk operasi berisiko biologis, kimia, dan mekanik tinggi. Jadi hal wajib dilakukan dengan standar keselamatan ketat,” ujar Dicky.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang Wajib

Dalam proses evakuasi, seluruh petugas harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. APD ini mencakup sarung tangan tebal (lebih baik dobel), masker medis atau respirator, sepatu boots tahan air, pelindung mata, hingga baju lengan panjang atau coverall.

Mengabaikan APD dapat menyebabkan risiko infeksi serius. Selain itu, proses membuka mobil yang terendam banjir juga harus dilakukan dengan hati-hati. Mobil yang terendam bisa menahan gas berbahaya hasil pembusukan seperti H₂S, amonia, dan metana, yang dapat menyebabkan pingsan atau keracunan akut.

“Prosedur aman itu dibukanya perlahan dari arah samping. Petugas tidak boleh tepat di depan pintu dan pastikan sirkulasi udara berjalan dulu,” jelas Dicky.

Jika prosedur ini diabaikan, petugas bisa mengalami gangguan pernapasan, pingsan mendadak, hingga cedera akibat tekanan gas atau kondisi mekanis dari pintu kendaraan.

Potensi Penyakit Menular

Dalam kondisi banjir, potensi paparan penyakit meningkat. Petugas dapat terpapar hepatitis, infeksi kulit, bahkan tuberkulosis. Luka kecil yang terjadi saat proses evakuasi dapat menjadi pintu masuk infeksi, sehingga wajib segera dibersihkan dan ditangani tim medis.

Jenazah pasca banjir juga lebih rapuh. Salah teknik saat mengangkat dapat menyebabkan kulit terkelupas, jaringan rusak, dan cairan tubuh mengalir keluar, yang berisiko mencemari petugas maupun lingkungan. Untuk itu, penggunaan kantong jenazah, tandu, serta supervisi tenaga medis menjadi prosedur wajib.

Ancaman Wabah Sekunder

Evakuasi jenazah yang dilakukan tanpa standar dapat menimbulkan dampak luas. Selain membahayakan petugas secara langsung, kesalahan teknis bisa memicu wabah sekunder di lokasi bencana bila bakteri dari cairan jenazah mencemari air warga. Penyakit bisa menyebar tidak hanya ke petugas, tetapi juga ke keluarga mereka atau masyarakat pengungsi.

“Jika tidak hati-hati dampaknya bisa sangat serius, petugas bisa sakit karena infeksi atau keracunan gas, dan ini bisa memicu kluster penyakit baru,” tegas Dicky.

Selain risiko kesehatan, evakuasi sembarangan bisa menyebabkan kerusakan jenazah hingga hilangnya identitas korban. Hal ini berdampak pada proses pemakaman layak maupun proses hukum yang mengharuskan identitas korban tetap utuh.

Dampak Psikologis pada Petugas

Di tengah bencana, proses evakuasi jenazah sangat berpotensi menimbulkan trauma psikologis. Tanpa persiapan mental, petugas dapat mengalami stres berat, gangguan tidur, hingga depresi. Dicky menekankan agar pemerintah dan instansi terkait menyediakan dukungan psikologis, melibatkan tokoh agama, dan memastikan petugas tidak dipaksa bekerja saat kelelahan ekstrem.

“Banyak petugas bencana di dunia itu gugur bukan karena fisik, tapi karena trauma mental yang tidak ditangani,” jelasnya.

Seruan untuk Keselamatan Petugas

Di akhir penjelasannya, Dicky memberikan seruan tegas kepada pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan keselamatan petugas sebagai prioritas utama. “Jangan sampai membolehkan ada petugas evakuasi tanpa APD. Ini jangan ada toleransi berbahaya. Keselamatan petugas itu sama dengan keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa petugas adalah garda terdepan dalam penanganan bencana. Sehingga perlindungan penuh, pengawasan medis, dan istirahat yang cukup menjadi kewajiban yang tidak boleh dinegosiasikan.


Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *