My WordPress Blog

Yuki Kato Abaikan Penglihatan Buram, Ini Akibatnya pada Matanya

Pengalaman Pribadi Yuki Kato dengan Kesehatan Mata

Yuki Kato, seorang aktris yang dikenal melalui sinetron Heart Series, berbagi pengalaman pribadinya terkait kesehatan mata. Di tengah kesibukan syuting dan aktivitas di dunia hiburan, ia sempat menganggap rasa perih, sepet, dan lelah pada mata sebagai hal sepele yang wajar terjadi karena kelelahan.

Namun, belakangan ini ia mulai lebih sadar bahwa gejala tersebut bisa jadi tanda dari mata kering. “Dulu aku tidak memahami betul tentang mata kering. Aku hanya mengira itu adalah kelelahan biasa,” ujarnya dalam acara peluncuran Kampanye “Bebas Mata SePeLe” oleh Combiphar di Jakarta Selatan.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan seperti terlalu lama menatap layar gadget atau membaca dalam pencahayaan redup bisa menjadi penyebab. “Awalnya aku hanya merasa butuh istirahat sebentar. Tapi setelah mendengarkan presentasi dokter mata, barulah aku menyadari bahwa gejala itu bukan sekadar ‘mata capek’,” tambahnya.

Warna Biru yang Menenangkan Mata

Di luar pengalaman itu, Yuki juga mengungkap hal unik, yaitu bahwa ia merasa warna biru memiliki efek menenangkan bagi dirinya. “Aku suka melihat sesuatu yang biru-biru. Karena warna biru itu memberikan rasa tenang dan relaks,” katanya sambil tersenyum.

Dalam psikologi warna, biru sering dikaitkan dengan rasa tenang, stabil, dan menurunkan stres. Tak heran jika Yuki menyukai suasana bernuansa biru, termasuk benda-benda yang identik dengan warna tersebut. “Aku senang melihat produk seperti Insto Dry Eyes yang berwarna biru,” ujarnya spontan.

Meski menyebut merek dalam konteks keseharian, Yuki menekankan bahwa yang paling penting baginya adalah kesadaran menjaga kesehatan mata di tengah aktivitas yang padat.

Sepele Tapi Bisa Jadi Serius

Banyak orang mungkin berpikir seperti Yuki dulu, bahwa mata lelah cukup diistirahatkan, selesai. Padahal, menurut para ahli, mata kering bisa berkembang menjadi masalah serius jika dibiarkan. Terlalu lama menatap layar, membaca dalam pencahayaan redup, atau jarang berkedip bisa mengganggu produksi air mata alami.

Gejala awalnya sering disalahartikan, mulai dari perih, terasa panas, berpasir, hingga penglihatan yang tiba-tiba kabur sesaat. “Kelelahan mata” yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menurunkan kenyamanan dan fokus, terutama bagi orang yang bergantung pada penglihatan tajam seperti aktor, penulis, atau pekerja digital.

Yuki pun mengaku sempat mengalami fase itu. “Aku tuh simple mikirnya tuh kayak oh matanya lelah berarti ototnya tense, tegang gitu. Jadi kayak so-so kayak oh stretching mata, stretching mata so tau ya kan. Kita kan sebagai masyarakat awam bukan dokter. So tau. Terus gausah kayak stretching, stretching, stretching. Terus tiba-tiba kayak ga ada ngaruh apa-apa,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Peran Sang Ibu dan Edukasi Sederhana di Rumah

Menariknya, kesadaran Yuki soal pentingnya merawat mata justru datang dari ibunya. Menurutnya, sang ibu selalu menjadi pengingat agar ia tidak memaksakan diri saat mata mulai terasa perih atau panas.

[MEDIA-1]

“Mamah bilang, ‘udah relaxin, tidur, jangan main HP dulu’. Tapi ini harus ada yang di-posting, harus ada yang di-posting. Tapi mamah tetep bilang, ‘udah, udah, merem dulu istirahat’. Gitu,” cerita Yuki menirukan nasihat ibunya.

Kebiasaan sederhana itu kini ia jaga sampai sekarang. Setelah memahami pentingnya menjaga kelembapan mata, Yuki mulai menerapkan pola hidup lebih seimbang. Membatasi waktu layar, menjaga jarak pandang, dan memberikan waktu istirahat yang cukup untuk mata.

Yuki sendiri mengaku kini jauh lebih berhati-hati. “Sekarang makin teredukasi lagi,” ujarnya dengan nada lega. Ia menyadari, menjaga kesehatan mata bukan hanya soal penampilan, tapi juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri.

Harapan untuk Generasi Muda

Sebagai figur publik yang aktif di dunia digital, Yuki berharap generasi muda tak menyepelekan keluhan kecil pada mata. “Kadang kita pikir cuma capek, tapi ternyata bisa lebih dari itu. Apalagi sekarang kerjaan semua di depan layar, nulis, baca skrip, edit video. Kita tuh harus aware, jangan tunggu sampai parah baru periksa,” katanya.

Baginya, keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan adalah kunci. “Aku sekarang belajar buat lebih mindful. Kalau mata udah kasih sinyal, ya berarti harus istirahat. Nggak semua hal harus diselesaikan buru-buru,” tambahnya.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *