My WordPress Blog

Tembus Rp 455 Juta! Persebaya Jadi Runner Up Donatur Denda ke PSSI!

Persebaya Surabaya Jadi Klub dengan Denda Terbesar Kedua di Super League 2025/2026



Total denda yang harus dibayar oleh Persebaya Surabaya sepanjang paruh musim Super League 2025/2026 mencapai angka fantastis sebesar Rp 455 juta. Angka ini menjadikan klub asal Surabaya sebagai runner up penyumbang denda terbesar kepada Komite Disiplin PSSI, hanya kalah dari PSM Makassar yang menduduki posisi pertama.

Denda yang mencapai angka ratusan juta rupiah menjadi sorotan karena menunjukkan tingginya intensitas pelanggaran yang terjadi di kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional musim ini. Persebaya Surabaya bahkan mampu unggul atas klub-klub besar seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung dalam daftar “donatur” denda Komdis PSSI.

Berdasarkan rekapitulasi yang dilakukan, PSM Makassar memimpin daftar dengan total denda sebesar Rp 525 juta. Diikuti oleh Persebaya Surabaya dengan jumlah denda Rp 455 juta, kemudian Persija Jakarta dengan Rp 410 juta. Selanjutnya, Persik Kediri, Arema FC, Madura United, dan Bhayangkara FC juga masuk dalam daftar sepuluh besar dengan nominal denda masing-masing Rp 260 juta, Rp 255 juta, Rp 200 juta, dan Rp 195 juta.

Persib Bandung dan Malut United sama-sama memiliki total denda sebesar Rp 185 juta, disusul oleh Persita Tangerang dengan Rp 165 juta. Di bawahnya, Persijap Jepara, Persis Solo, dan Dewa United masing-masing memiliki denda sebesar Rp 145 juta, Rp 105 juta, dan Rp 100 juta.

PSIM Yogyakarta, Semen Padang, Bali United, serta Borneo FC melengkapi daftar dengan nominal denda yang lebih kecil. Sementara itu, PSBS Biak menjadi satu-satunya klub yang tidak terkena denda selama putaran pertama Super League 2025/2026.

Persebaya Surabaya Masuk Era Baru dengan Pelatih Bernardo Tavares

Persebaya Surabaya menjadi salah satu klub yang paling sering terkena sanksi, baik akibat ulah pemain, ofisial, maupun faktor nonteknis lainnya. Fakta ini menjadi catatan minor bagi klub yang sedang memasuki era baru bersama pelatih Bernardo Tavares.

Pelatih asal Portugal tersebut mulai menangani tim di tengah ekspektasi besar untuk membawa Green Force lebih kompetitif dan stabil. Menatap putaran kedua, Tavares menilai masa jeda kompetisi sebagai fase penting untuk berbenah. Ia ingin memastikan seluruh elemen tim memahami arah permainan dan disiplin yang diharapkan.

“Kami perlu lebih mengenal karakteristik semua pemain. Melalui pertandingan persahabatan, kami bisa melihat siapa saja yang siap bersaing di putaran kedua,” ujarnya.

Persebaya Surabaya pun telah merancang sejumlah laga uji coba selama masa jeda kompetisi. Seluruh pemain dan staf pelatih akan dilibatkan untuk memastikan evaluasi berjalan menyeluruh. Menurut Tavares, uji coba tidak hanya berfungsi mengasah taktik, tetapi juga membuka kesempatan bagi pemain yang minim menit bermain.

Evaluasi Internal dan Penambahan Pemain

Pelatih berusia 44 tahun itu menekankan pentingnya adaptasi cepat, terutama bagi pemain baru yang bergabung di tengah musim. Ia ingin ritme permainan tim semakin solid tanpa mengorbankan kedisiplinan di dalam dan luar lapangan.

Selain pembenahan internal, peluang penambahan pemain juga masih terbuka. Manajemen Persebaya Surabaya dan tim pelatih disebut terus berdiskusi untuk menentukan kebutuhan skuad di putaran kedua. “Kami akan mencari solusi terbaik demi memperkuat tim. Semua pemain akan kami evaluasi dan dibahas bersama manajemen,” tegasnya.

Langkah evaluasi ini diharapkan mampu mengurangi potensi pelanggaran yang berujung denda. Stabilitas permainan dan kontrol emosi pemain menjadi fokus utama agar Persebaya Surabaya tak lagi menjadi langganan sanksi Komdis.

Kondisi di Klasemen Sementara

Di sisi prestasi, posisi Persebaya Surabaya di klasemen sementara masih tergolong aman. Hingga akhir putaran pertama Super League 2025/2026, Green Force menempati peringkat ketujuh dengan koleksi 28 poin. Jarak poin dengan papan atas masih terbuka, meski konsistensi menjadi pekerjaan rumah terbesar.

Persib Bandung sementara keluar sebagai juara paruh musim dengan torehan 38 poin. Dengan selisih sepuluh poin, Persebaya Surabaya masih memiliki peluang untuk menembus papan atas jika mampu tampil stabil di putaran kedua. Syaratnya, disiplin permainan dan kontrol nonteknis harus berjalan seiring dengan peningkatan performa.

Total denda Rp 455 juta kini menjadi alarm keras bagi seluruh elemen tim. Era baru Bernardo Tavares diharapkan tidak hanya membawa perubahan taktik, tetapi juga budaya disiplin yang lebih kuat. Jika evaluasi berjalan efektif, Persebaya Surabaya berpeluang membalik narasi dari runner up donatur denda menjadi penantang serius di papan atas. Putaran kedua akan menjadi panggung pembuktian apakah Green Force mampu belajar dari catatan mahal di paruh musim pertama.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *