Momen Kehilangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Ada momen dalam hidup ini ketika dunia rasanya sedang tidak baik-baik saja. Ketika seseorang yang begitu berarti tiba-tiba tidak ada lagi. Entah karena meninggal dunia, memilih pergi, atau sekadar menghilang tanpa ada penjelasan, omongan, bahkan perpisahan. Ada… Momen itu memang ada.
Kehilangan dan ditinggalkan itu sakit. Dan sakit itu hampir tidak ada obatnya. Sakitnya sering sekali merembes sampai kedalam dada, bikin napas terasa berat, bikin mata sulit sekali terpejam.
Satu hal yang paling menyiksa itu ketika ada orang-orang di sekitar kita berkata, “Kamu harus move on.” Sadar nggak sih kalian yang bilang kalimat itu… merelakan itu tidak semudah menutup pintu lantas pergi berlalu begitu saja. Tidak sesederhana itu.
Merelakan Itu Tidak Sama Dengan Melupakan
Mari kita jujur-jujuran, pasti kita nggak pernah menemukan cara instant untuk merelakan kehilangan dan juga nggak pernah ada formula ajaib yang bisa membuat rasa sakit hilang dalam semalam. Siapa pun yang pernah bilang “kamu akan baik-baik saja dalam tiga hari” atau “sibukin diri aja kamu pasti lupa deh” BOHONG… mereka sedang menjual harapan palsu.
Merelakan itu adalah proses. Dan prosesnya itu panjang banget, melelahkan, bahkan sering kali membuat hidup jadi nggak nyaman. Hari ini kita merasa sudah lebih baik, besok tiba-tiba nangis lagi karena mendengar lagu yang dulu sering didengerin bareng. Minggu ini kita merasa kuat, tau-tau minggu depan tiba-tiba rindu menghantam layaknya ombak yang menampar karang.
Dan itu normal.
Merelakan bukan berarti kita harus melupakan orang itu. Konsepnya nggak gitu… Bukan juga kita harus berpura-pura bahwa hubungan itu tidak pernah ada. Bukan berarti juga kita harus menghapus semua kenangan dan berjanji tidak akan pernah memikirkannya lagi. Bukan begitu juga.
Merelakan itu adalah belajar hidup dengan kehilangan itu sendiri. Belajar membawa kenangan tanpa terus-menerus terluka. Belajar mengingat tanpa berharap mereka kembali.
Sedap nggak tuh!!
Kenapa Sih Sulit Sekali Merelakan?
Karena kita tuh bukan cuma kehilangan seseorang. Kita juga kehilangan masa depan yang sudah kita bayangkan bersama mereka. Kita kehilangan rutinitas yang sudah terbangun. Kita kehilangan bagian dari identitas kita yang terbentuk dalam hubungan itu. Makannya sulit!
Ketika seseorang yang kita sayangi pergi, yang hilang bukan hanya kehadiran fisik mereka. Kita juga kehilangan kata-kata semangat yang biasanya muncul setiap pagi. Kita juga kehilangan seseorang yang tahu kita suka kopi hitam tanpa gula. Kita juga kehilangan rencana liburan yang sudah direncanakan. Kita juga kehilangan masa depan yang sudah kita gambar dalam pikiran.
Kita juga sering terjebak dalam pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab. “Apa yang salah ?”, “Apa yang kurang?”, “Kenapa aku?”, “Apa dia benar-benar cinta sama aku?” Pertanyaan-pertanyaan ini terus-terus berputar-putar di kepala, membuat kita tidak bisa tidur, membuat kita selalu mempertanyakan segalanya tentang diri kita sendiri.
Dan yang paling berat adalah ketika kita masih berharap. Berharap mereka akan kembali. Berharap ada keajaiban. Berharap semua ini hanya mimpi buruk. Harapan-harapan itu yang membuat proses merelakan menjadi semakin panjang sekaligus menyakitkan.
Hal-Hal Berikut Mungkin Membantu
Tidak ada jaminan bahwa cara-cara ini akan berhasil untuk semua orang. Setiap orang punya proses healing yang berbeda. Tapi mungkin beberapa hal ini bisa membantu:
- Izinkan diri kamu untuk bersedih. Jangan dipaksakan untuk “tegar” atau “kuat”. Menangis bukan tanda kelemahan. Air mata adalah cara alamiah tubuh untuk memproses kehilangan. Kalau kita terus menekan perasaan itu, suatu saat akan meledak dalam bentuk yang lebih buruk.
- Jangan terburu-buru. Tidak pernah ada deadline untuk move on. Nah! Catet tuh… Tidak ada standar waktu yang harus dipenuhi. Beberapa orang butuh waktu berbulan-bulan, beberapa orang butuh waktu bertahun-tahun. Inget guys… Healing bukan lomba.
- Tulis atau bicara. Kadang rasa sakit itu perlu dikeluarkan. Entah dengan menulis di jurnal, mengetik di notes hp, buku diary, atau curhat keteman yang bisa dipercaya. Mengeluarkan apa yang ada di dalam dada bisa sedikit meringankan beban.
- Batasi stalking. Ini yang paling sulit tapi ini paling penting. Berhenti lah untuk mengecek sosial media mereka, menanyakan kabar mereka ke teman, mencari tahu dengan siapa mereka sekarang. Setiap kali kita stalking, luka yang mulai mengering kembali terbuka. Jangan ya, dek, ya!
- Jangan memaksa diri untuk langsung “produktif”. Kita sering dibilang harus menyibukkan diri, harus produktif, harus fokus ke hal-hal lain. Bener juga sih, tapi kadang kita butuh waktu untuk sekadar bertahan hidup. Itu aja sebenarnya udah cukup. Bisa bangun dari tempat tidur saja sudah menjadi pencapaian yang luar biasa loh!! Makan dengan benar itu sudah kemajuan. Mandi dan keluar rumah itu udah sesuatu banget.
- Terima bahwa hikmah itu tidak selalu datang. Kadang kita tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya kenapa mereka pergi. Kadang tidak ada penjelasan yang memuaskan. Dan kita harus belajar berdamai dengan ketidakpastian itu. Hikmah dari kejadian itu bukan sesuatu yang mereka berikan ke kita. Hikmahnya adalah sesuatu yang kita berikan ke diri sendiri.
Suatu Hari Nanti
Tidak, kita tidak akan pernah benar-benar “sembuh” dari kehilangan. Luka itu akan selalu ada. Tapi suatu hari nanti, luka itu tidak lagi terasa seperti waktu pertama kali kita rasakan. Suatu hari nanti, mengingat mereka tidak lagi membuat dada sesak. Suatu hari nanti, kita bisa tersenyum ketika teringat kenangan indah tanpa menangis karena kenangan itu sudah berlalu.
Suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa kita sudah tidak lagi ngecek ponsel dan berharap ada pesan dari mereka. Suatu hari nanti, kita akan bangun pagi tanpa langsung memikirkan mereka. Suatu hari nanti, kita akan tertawa lepas tanpa beban karena kita sudah bisa merasa bahagia lagi.
Proses itu tidak terjadi dalam semalam. Proses itu terjadi dalam ribuan momen-momen kecil yang kita lalui kemudian terbentuk menjadi karakter pejuang yang tangguh.
Kita Itu Lebih Kuat dari yang Kita Kira
Yang pasti, kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi seperti sebelum kehilangan itu terjadi. Kita akan berubah. Mungkin menjadi lebih waspada, mungkin lebih sulit untuk percaya. Tapi kita juga akan menjadi lebih kuat, lebih tangguh, lebih menghargai diri sendiri.
Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa kita bisa bertahan dari hal-hal yang kita kira akan menghancurkan diri kita. Kehilangan juga mengajarkan kita bahwa kita lebih kuat dari yang kita kira. Kehilangan mengajarkan kita bahwa hidup harus tetap berjalan, bahkan ketika rasanya kita tidak sanggup melangkah.
Yang terpenting, kehilangan mengajarkan kita bahwa kita tidak membutuhkan orang lain untuk menjadi utuh. Kita sudah utuh sejak awal. Mereka yang pergi hanya menunjukkan bahwa kita bisa berdiri sendiri, bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
Jadi, bagaimana merelakannya ? Satu hari pada satu waktu nanti. Satu napas pada satu waktu nanti. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu memaksa. Terus saja berjalan, meski langkahnya terasa berat. Karena suatu hari nanti, kita akan melihat kebelakang dan menyadari bahwa kita sudah sejauh ini.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











