Mengenal Batuk Rejan atau Pertusis yang Kini Viral
Batuk rejan, atau dikenal juga sebagai pertusis, adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini sangat menular dan bisa menyebar melalui droplet dari orang yang batuk atau bersin. Dalam beberapa kasus, gejalanya bisa menyerupai flu biasa, tetapi seiring berjalannya waktu, gejala bisa menjadi lebih parah.
Kasus terbaru yang viral di Palembang menggambarkan bagaimana batuk rejan bisa menyebabkan mata merah pada anak SD, sehingga sempat dianggap sebagai tanda kekerasan di sekolah. Namun, setelah pemeriksaan medis dilakukan, ternyata penyebabnya adalah infeksi pertusis.
Apa Itu Batuk Rejan?
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit yang ditandai dengan batuk hebat dan berkepanjangan. Pada tahap awal, gejala-gejalanya mungkin mirip dengan pilek biasa, seperti demam ringan, batuk ringan, dan hidung tersumbat. Namun, dalam beberapa minggu, gejala bisa memburuk dan memicu serangan batuk yang intens.
Gejala utama batuk rejan antara lain:
* Pilek
* Demam ringan
* Batuk ringan, sesekali
* Apnea – jeda dalam bernapas (pada bayi)
Setelah beberapa minggu, gejala bisa berkembang menjadi:
* Serangan batuk cepat diikuti oleh “rejan” bernada tinggi
* Muntah setelah batuk
* Kelelahan ekstrem setelah batuk
Batuk bisa berlangsung hingga 10 minggu atau lebih. Di Cina, penyakit ini dikenal sebagai “batuk 100 hari”.
Kenapa Batuk Rejan Bisa Menyebabkan Mata Merah?
Dr Frengky Sp.A menjelaskan bahwa batuk rejan bisa menyebabkan mata merah lebam karena tekanan darah meningkat akibat batuk yang keras. Tekanan tersebut dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil di area mata, sehingga menyebabkan pendarahan. Hal ini membuat mata tampak merah dan lebam, meskipun tidak ada tanda-tanda kekerasan.
Menurut dr Frengky, penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi DPT. Vaksinasi ini sangat penting untuk melindungi anak-anak dari infeksi yang bisa berbahaya, terutama pada bayi.
Kronologi Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Palembang
Seorang ibu di Palembang, Sumatra Selatan, membuat laporan kekerasan setelah melihat mata anaknya merah dan lebam. Korban, F (7 tahun), adalah siswi kelas satu SD Negeri 150 Palembang. Ibu korban, Erna, mencurigai bahwa anaknya dipukul guru hingga matanya merah.
Pihak sekolah membantah adanya kekerasan dan menyatakan bahwa F datang ke sekolah dalam kondisi mata merah. Proses visum dilakukan untuk mengungkap penyebab mata merah korban. Hasil visum menunjukkan bahwa tidak ada bekas kekerasan benda tumpul maupun tajam.
Setelah pemeriksaan medis, diketahui bahwa korban mengalami batuk rejan selama sebulan, yang menyebabkan mata merah seperti lebam. Dengan hasil pemeriksaan dokter, kasus ini dihentikan karena tidak ada tanda-tanda kekerasan.
Penutup
Setelah penyelidikan dihentikan, pihak sekolah tidak membuat laporan balik, sehingga kasus dapat selesai tanpa ada aksi saling lapor. Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, mengimbau masyarakat untuk tidak menyebar informasi yang belum valid dan menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Sementara itu, Kepala SDN 150 Palembang, Eka Octa Nugraha, mengaku belum mendapat kabar kondisi F setelah dirawat di rumah sakit. Ia mengapresiasi niatan keluarga F untuk meminta maaf dan berharap agar kasus ini segera selesai.











