My WordPress Blog

Media Sosial Merusak Anak? Ahli Ungkap Akar Masalahnya



JAKARTA — Media sosial sering dianggap sebagai ancaman bagi perkembangan anak dan remaja. Namun, kasus terbaru yang terjadi di SMAN 72 Jakarta, Jakarta Utara, menunjukkan dampak buruk dari penggunaan media sosial yang tidak terkendali. Ledakan yang terjadi mengakibatkan 96 orang luka-luka, menjadi peringatan bahwa media sosial bisa berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.

Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menjelaskan bahwa media sosial hanyalah alat seperti pisau dapur. Alat tersebut bisa digunakan untuk hal positif atau justru berbahaya, tergantung pada cara penggunaannya.

Konektivitas dan Peran Orangtua

Menurut Indriyatno, pentingnya peran orangtua dalam memandu penggunaan media sosial oleh anak-anak dan remaja. “Pisau bisa menghasilkan makanan enak, tapi juga bisa menjadi alat pembunuh. Dalam konteks media sosial, konektivitas dan peran orangtua menjadi penting,” ujarnya.

Psikolog sekaligus Ketua Bidang E (Humas, Media dan Edukasi) Himpunan Psikologi Indonesia, Samanta Elsener, M.Psi., menambahkan bahwa pengasuhan yang permisif bisa menjadi faktor utama penyebab masalah. “Ketika orangtua terlalu membiarkan anak melakukan apa pun tanpa batasan, atau justru cuek terhadap kebutuhan emosional anak, itu bisa berdampak buruk pada perkembangan emosi mereka,” kata Samanta.

Perkembangan emosi anak berkaitan erat dengan kemampuan mereka untuk meregulasi emosi, yang disebut disregulasi emosi. Hal ini juga berpengaruh pada fungsi kognitif, seperti daya pikir, memori, konsentrasi, dan kemampuan pengambilan keputusan.

Riset Nasional tentang Fungsi Kognitif Remaja

Dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), menjelaskan bahwa penelitian nasional tahun ini menunjukkan adanya gangguan pada fungsi kognitif remaja. Riset dilakukan terhadap 624 remaja usia 13-24 tahun menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI).

AUFEI mencakup lima domain, yaitu Working Memory, Inhibitory Control, Cognitive Flexibility, Planning and Organization, serta Spiritual Function. Hasilnya, sebanyak 507 remaja belum berkembang secara optimal pada fungsi eksekutif, sedangkan 117 remaja telah berkembang dengan baik.

“Fungsi eksekutif adalah pusat kendali otak yang menentukan kemampuan seseorang mengatur diri, berpikir fleksibel, dan mengambil keputusan bijak,” kata Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K), MARS, dalam keterangan pers.

Konten Kesehatan Mental di Media Sosial

Selama sepuluh tahun terakhir, media sosial dipenuhi oleh konten-konten soal kesehatan mental. Meski konten-konten ini bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, namun tidak semua dibuat oleh tenaga profesional. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi anak dan remaja jika orangtua tidak aktif memantau.

Samanta menekankan bahwa orangtua harus menjadi garda terdepan dalam menyaring aktivitas anak di media sosial. “Orangtua perlu berfungsi sebagai penjaga agar anak tidak terpapar konten yang merugikan,” ujarnya.

Pentingnya Pengawasan Orangtua

Dengan pengawasan yang tepat, orangtua dapat membantu anak menelaah konten yang mereka lihat dan menilai apakah hal tersebut baik atau buruk. Selain itu, orangtua juga bisa membatasi waktu layar anak untuk mencegah penurunan fungsi kognitif akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.

Indriyatno menambahkan bahwa peran orangtua sangat penting dalam mencegah kejadian seperti ledakan di SMAN 72. “Teroris dulu harus merekrut orang secara langsung, tetapi sekarang semua bisa dilakukan melalui media sosial,” ujarnya.

Manfaat Media Sosial Jika Dikelola dengan Baik

Meski memiliki risiko, media sosial bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan batasan dan didampingi orangtua. Anak bisa belajar banyak hal, seperti bahasa baru, informasi beasiswa, hingga belajar bermain gitar.

“Adanya komunikasi, konektivitas, dan hubungan kuat antara orangtua dan anak akan menjadikan media sosial sebagai alat edukasi yang efektif,” pungkas Indriyatno.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *