Fransiskus Alfridus Naisaban, Duta Pelajar Antinarkoba yang Menembus Panggung Nasional
Fransiskus Alfridus Naisaban, seorang siswa SMKN 1 Pedan, Klaten, berhasil mengangkat nama daerahnya dengan menjadi Duta Pelajar Antinarkoba Indonesia 2025. Dengan latar belakang sebagai anak pemulung, ia membuktikan bahwa latar belakang tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Pemilihan tingkat nasional di Surabaya ini diikuti oleh Frans dengan tekad penuh, meskipun harus bersaing dengan peserta dari berbagai daerah.
Ia bahkan dinobatkan sebagai Duta Intelegensia Pelajar Anti Narkoba Indonesia, menunjukkan kualitas diri yang matang dan kompeten. Tidak banyak yang tahu bahwa remaja kelahiran 2007 ini tumbuh dalam keterbatasan di Desa Tumpukan, Karangdowo. Namun justru dari tempat sederhana itu, ia belajar ketangguhan yang membawanya menembus panggung nasional.
Kisah Frans mengingatkan bahwa tidak semua juara berasal dari tempat yang nyaman. Beberapa justru lahir dari tumpukan perjuangan. Proses seleksi yang sangat ketat membuatnya berjuang mandiri tanpa banyak bising. Perjalanan menuju gelar duta bukanlah hadiah instan. Seleksi yang digelar pada Minggu (23/11/2025) itu menguji mental, wawasan, dan kepedulian para peserta muda.
Frans menyebut, “Acara itu ada berbagai rangkaian. Rangkaian kegiatannya luar biasa dan benar-benar semuanya dari kalangan orang-orang yang keren.” Ungkapannya memperlihatkan betapa seriusnya ajang tersebut. Meski datang seorang diri, ia tidak terintimidasi, justru merasa tertantang untuk menunjukkan potensi terbaiknya.
Banyak peserta didampingi keluarga atau sekolah, namun Frans berdiri sendiri dan pulang dengan gelar yang membanggakan. Semangat kemandiriannya menjadi bagian paling menyentuh dari proses seleksi ini.
Kepedulian Jadi Alasan Utama Frans Menjadi Duta Antinarkoba
Di balik prestasinya, Frans menyimpan kegelisahan terhadap maraknya kasus narkoba di kalangan remaja usia 11–24 tahun. Ia mengatakan, “Mereka merasa bahwa mereka tidak didengar bahkan mereka itu merasa tidak pernah dipedulikan. Saya ingin merangkul mereka, saya ingin menjadi konselor sebaya bagi mereka. Sejatinya hidup yang berguna adalah hidup yang berdampak.”
Kalimat itu mencerminkan betapa tulus keinginannya menjadi agen perubahan. Bagi Frans, gelar duta bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk membuka ruang dialog bagi teman sebaya. Ia melihat banyak remaja tersesat bukan karena nakal, tetapi karena tidak punya tempat pulang.
Dari kepedulian itulah langkah pertamanya sebagai duta dimulai.
Terinspirasi Guru Disabilitas, Frans Ingin Buktikan Anak Pemulung Juga Bisa Berprestasi
Frans tidak menutupi latar belakang keluarganya justru mengungkapkannya dengan bangga. “Mungkin kita punya kekurangan, tetapi kita tetap harus bisa memberikan yang terbaik. Saya ingin memberikan bahwa anak seorang pemulung ini, anak yang mungkin sering diremehkan juga bisa berprestasi untuk mengangkat derajat orang tua,” ujarnya.
Ia menjelaskan ibunya mencari rongsok keliling, sementara ayahnya kini menjadi pembeli rongsok dengan kendaraan roda tiga. Kondisi itu tidak membuatnya minder, justru menyalakan api untuk mengubah takdir keluarganya. Ia juga terinspirasi oleh guru disabilitas yang mengajarkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdampak.
Dari sana, lahir tekadnya untuk terus maju meskipun jalan hidupnya tidak selalu rata.
Komunitas Peduli, Podcast Positif, hingga Gerakan Sosial
Setelah dinobatkan sebagai duta, Frans langsung menyusun program yang dekat dengan kebutuhan remaja. Salah satunya adalah membangun komunitas berisi 10–15 pelajar yang peduli terhadap isu narkoba dan kesehatan mental. Menurutnya, edukasi antinarkoba tidak bisa hanya berupa peringatan, tapi juga kepedulian.
Ia mengatakan, “Karena bicara tentang narkoba tidak hanya sebatas larangan. Tetapi soal kepedulian dan di situ saya ingin membangun suatu komunitas…”
Selain komunitas, Frans juga menyiapkan gerakan podcast dan konten kreatif untuk kampanye positif. Konten itu tidak hanya tentang bahaya narkoba, tetapi juga memperkenalkan potensi wisata dan generasi muda Klaten. Dengan gaya komunikasi anak muda, ia ingin pesan antinarkoba terasa lebih dekat dan membumi.
Menguatkan yang Lemah, Mengingatkan yang Lupa
Tidak berhenti pada edukasi, Frans juga merencanakan program berbagi kasih untuk anak jalanan dan panti asuhan. Ia percaya bahwa pencegahan narkoba tidak bisa dilepaskan dari dukungan sosial yang memanusiakan. Remaja yang berada di lingkungan rentan membutuhkan perhatian lebih, bukan sekadar nasihat.
Frans juga ingin membina teman-temannya melalui karya dan hobi positif yang dapat menyalurkan energi anak muda ke arah produktif. Selain itu, ia berkomitmen menggali potensi generasi muda Klaten agar makin dikenal nasional. Setiap programnya dirancang dengan semangat “menguatkan sesama sebelum terlambat”.
Langkah-langkahnya membuktikan bahwa duta bukan hanya gelar, tapi aksi nyata.
Bukti Anak Pemulung Bisa Berprestasi
Motivator BNN, Anton Sanjaya, mengapresiasi perjuangan Frans yang mengikuti ajang ini secara mandiri. Pelajar kelas XII itu berangkat sendiri ke Surabaya dan pulang membawa penghargaan. Anton berkata, “Ini menjadi kisah nyata bahwa anak seorang pemulung juga bisa berpretasi.”
Ucapan itu menjadi pengakuan publik atas kerja keras Frans yang sering ia lakukan tanpa sorotan. Kisah ini juga memberi harapan bagi remaja lain bahwa latar belakang bukan penentu masa depan. Dukungan moral dari tokoh BNN itu memperkuat legitimasi perjuangan Frans sebagai inspirasi Klaten.
Di mata masyarakat, Frans kini bukan sekadar pelajar berprestasi—ia simbol harapan.











