Tugas yang Lebih dari Sekadar Pemadam Kebakaran
Bagi sebagian orang, tugas petugas pemadam kebakaran (Damkar) hanya terbatas pada upaya memadamkan api. Namun, bagi petugas Damkar Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tugas mereka jauh lebih luas. Mulai dari evakuasi ular piton hingga membantu warga dalam situasi darurat lainnya, semua menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.
Dari awal tahun 2025 hingga akhir November, Damkar Trenggalek menerima lebih dari 530 laporan penanganan non-kebakaran. Mayoritas dari laporan tersebut berkaitan dengan evakuasi ular dan pemusnahan sarang tawon vespa. Hal ini menunjukkan bahwa tugas para petugas tidak hanya terbatas pada kebakaran, tetapi juga berbagai ancaman yang muncul di tengah masyarakat.
Ular Piton sebagai “Pelanggan Tetap”
Di antara berbagai jenis hewan liar, ular piton atau sanca kembang menjadi yang paling sering dievakuasi. Hewan melata ini kerap masuk ke permukiman warga, terutama di daerah yang memiliki ternak seperti ayam atau bebek. Menurut Kasi Penyelamatan Kebakaran dan Non Kebakaran Damkar Trenggalek, Burhanudin, laporan mengenai ular biasanya datang pada malam hari, ketika kondisi gelap dan berisiko tinggi.
Jika ukuran ular mencapai empat meter, petugas harus menambah jumlah personel. Minimal empat orang diperlukan untuk melakukan evakuasi, karena lilitan ular sangat kuat dan bisa menyebabkan kesulitan jika hanya dilakukan oleh satu orang.
Setelah dievakuasi, ular tidak langsung dilepaskan ke alam bebas. Mereka dibawa ke kantor Damkar untuk observasi dan perawatan ringan selama sekitar satu minggu sebelum akhirnya dilepas ke hutan yang jauh dari permukiman.
Tantangan King Cobra dan Tawon Vespa
Evakuasi ular berbisa tinggi seperti king cobra memerlukan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi. Untuk menjaga keselamatan petugas, Damkar bahkan bekerja sama dengan relawan dari komunitas reptil dalam proses evakuasi. Burhanudin menjelaskan bahwa keselamatan petugas adalah prioritas utama dalam operasi seperti ini.
Sementara itu, untuk tawon vespa, petugas bekerja pada malam hari ketika tawon berada di sarangnya. Mereka menggunakan baju anti-sengat seperti hazmat untuk melindungi diri. Meski malam hari lebih aman, tantangan pencahayaan minim tetap menjadi kendala.
Banyak Situasi Darurat yang Diatasi
Tidak hanya soal hewan, laporan yang masuk ke Damkar Trenggalek juga mencakup berbagai situasi darurat lainnya. Misalnya, pelepasan cincin yang tersangkut di jari, baik itu cincin milik warga maupun ibu hamil yang akan menjalani operasi. Dalam kasus ini, petugas menggunakan mini gerinda untuk memotong cincin agar tidak merusak jari korban.
Selain itu, ada laporan-laporan unik seperti warga yang terkunci di toilet karena kunci patah, siswa SMP yang jari tersangkut di gagang sapu, atau pintu mobil yang tidak bisa dibuka karena kunci tertinggal di dalam. Semua situasi ini diatasi oleh petugas Damkar dengan tanggap dan profesional.
Tanggung Jawab yang Luas
Meskipun bukan tugas utama, Damkar Trenggalek juga sering menerima laporan dari warga yang ingin curhat masalah rumah tangga atau emosi. Burhanudin mengatakan bahwa meskipun bukan tugas utama, mereka tetap memberikan layanan sebisa mungkin.
Keterbatasan Alat dan Personel
Meski menangani ratusan kasus setiap bulannya, Damkar Trenggalek masih menghadapi keterbatasan alat. Peralatan rescue seperti tali, tandu, dan perahu karet belum tersedia sepenuhnya. Untuk beberapa operasi, mereka harus berkoordinasi dengan Basarnas Pos SAR Trenggalek dan BPBD Trenggalek.
Saat ini, Damkar Trenggalek memiliki 61 personel yang terbagi dalam berbagai struktur. Selain ratusan kasus non-kebakaran, ada 41 laporan kebakaran sepanjang 2025. Rata-rata kebakaran terjadi di dapur rumah warga, sebagian besar karena kelalaian. Skalanya sedang, tetapi tetap membutuhkan respons cepat.
Dengan berbagai tugas yang diemban, Damkar Trenggalek terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Tidak hanya dalam penanganan kebakaran, tetapi juga dalam berbagai situasi darurat lainnya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











