Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai Bentuk Kepedulian Negara
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan terus menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam menjamin akses pelayanan kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Program ini memberikan rasa tenang bagi peserta, karena berbagai jenis pelayanan kesehatan dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Salah satu peserta yang merasakan manfaat hadirnya program ini adalah Hasnatang (50), seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Belu yang kini harus berjuang melawan penyakit epilepsi pasca kecelakaan lalu lintas yang dialaminya. “Seingat saya dulu namanya PT Askes (Persero) tapi sekarang sudah berganti menjadi BPJS Kesehatan memang sudah lama saya terdaftar. Saya terdaftar dari tanggungan suami sejak dulu, sebagai seorang polisi jadi saya dan anak-anak sudah lama menjadi peserta JKN,” ungkapnya, Jumat (28/11/2025).
Ibu empat anak ini mengungkapkan jika dirinya sudah sering mengakses pelayanan Kesehatan dengan memanfaatkan Program JKN baik bagi dirinya maupun anak-anaknya. Musibah tersebut terjadi ketika Hasna hendak menuju pasar. Sebuah kecelakaan motor membuatnya terjatuh dan mengalami benturan keras di kepala. Ia sempat tak sadarkan diri.
Setelah menjalani perawatan awal untuk memulihkan luka fisik, Hasna mulai merasakan gejala-gejala yang sebelumnya tidak pernah ia alami, seperti pusing berputar, kehilangan kesadaran, hingga kejang mendadak. “Awalnya saya kira hanya efek benturan. Tapi lama-lama kejangnya sering datang tanpa saya sadari,” cerita Hasna.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa gejala tersebut merupakan bentuk epilepsi yang dipicu oleh cedera kepala akibat kecelakaan yang dulu dialami. Hasna pun harus menjalani pengobatan jangka panjang dan kontrol rutin untuk memantau kondisinya secara berkala di RSUD Gabriel Manek Atambua.
Dokter kemudian mendiagnosis Hasna bahwa serangan kejang yang sering dialaminya merupakan gejala penyakit epilepsi akibat cedera kepala dari kecelakaan tersebut. Kondisi itu membuat Hasna harus selalu menjalani pengobatan rutin dan kontrol. “Waktu pertama kali dibawa ke rumah sakit, posisi saya sudah tidak sadarkan diri akhirnya dokter menyarankan untuk rawat inap, awalnya saya merasa sangat cemas dengan kondisi saya. Karena saya takut jika semakin parah, tapi setelah mendapatkan penanganan dari dokter dan petugas rumah sakit selama satu minggu lamanya, saya merasa tenang karena semua proses berjalan dengan baik,” ungkap Hasna.
Hasna mengaku pelayanan yang diberikan selama di rumah sakit sangat memuaskan. Semua proses administrasi berjalan cepat dan mudah. Ia juga menambahkan bahwa jika dengan terdaftar sebagai peserta JKN ia tidak perlu lagi memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. “Saya pikir sudah membaik. Tapi hanya seminggu di rumah, saya drop lagi. Lalu rawat inap satu minggu dan masuk ICU juga seminggu,” ungkapnya.
Karena kondisinya memerlukan penanganan lanjutan, Hasna kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Leona Kupang. Di sana, ia kembali harus masuk ICU selama tiga hari sebelum akhirnya kondisinya kembali stabil. Meskipun silih berganti keluar-masuk rumah sakit, Hasna merasa sangat terbantu oleh kemudahan pelayanan yang ia terima sebagai peserta JKN.
“Di rumah sakit, saya hanya perlu menunjukkan kartu JKN digital atau KTP. Tidak diminta fotokopi ataupun berkas tambahan lainnya. Semuanya berjalan cepat dan petugasnya ramah,” tuturnya penuh rasa syukur. Bagi Hasna, Program JKN bukan sekadar perlindungan kesehatan, tetapi juga bentuk nyata kepedulian negara terhadap warganya. Ia kini rutin menjalani kontrol dan minum obat sesuai anjuran dokter tanpa perlu merasa khawatir.
Tidak terbayangkan berapa besar biaya yang harus ditanggung Hasna seandainya ia tidak menjadi peserta JKN. Mulai dari rawat inap, ICU, obat-obatan anti kejang, hingga pemeriksaan lanjutan, semuanya membutuhkan biaya yang besar. Namun berkat perlindungan Program JKN, seluruh kebutuhan tersebut dapat diakses tanpa membuatnya terbebani secara finansial.
Saat ini, Hasna telah memasuki fase pemulihan yang lebih stabil. Ia rutin kontrol, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, dan terus memantau kondisi agar serangan tidak kambuh. “Kalau harus bayar sendiri, saya tidak tahu apakah saya mampu. Puji Tuhan semua ditanggung JKN. Saya sangat bersyukur,” ucapnya.
Pengalaman panjang dan melelahkan itu menyadarkan Hasna tentang pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Ia kini mengajak masyarakat Belu agar tidak menunda menjadi peserta JKN. “Kita tidak bisa menebak kapan sakit atau musibah datang. Setelah saya alami sendiri, saya benar-benar merasakan bahwa Program JKN adalah perlindungan terbaik untuk melindungi diri saya dan keluarga. Saya ingin mengajak semua masyarakat untuk dapat mendaftar sebagai peserta JKN dan menjaga status aktifnya,” tutupnya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











