My WordPress Blog

Mental Tangguh di Tengah Proyek Gedung FIB Unair: Kunci Komunikasi Keselamatan Kerja



Pembangunan gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga terus berlangsung dengan aktivitas yang dinamis. Suara mesin, lalu-lalang pekerja, serta material berat yang diangkut menjadi ciri khas dari proyek ini. Di tengah kegempaan tersebut, keselamatan kerja menjadi aspek penting yang tidak boleh dikesampingkan.

Para pekerja tampak mengenakan alat pelindung diri seperti helm, rompi keselamatan, dan sepatu pelindung. Namun, penggunaan alat tersebut saja tidak cukup untuk memastikan keselamatan. Diperlukan komunikasi yang konsisten agar setiap pekerja memahami risiko dan prosedur yang harus diikuti.

Di sinilah peran petugas Health, Safety, and Environment (HSE) sangat penting. Tidak hanya bertugas mengawasi penerapan aturan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan keselamatan secara berulang di tengah tekanan kerja proyek. Kehadiran mereka menjadi penjaga utama dalam menjaga keselamatan di lokasi pembangunan.

Dari Bangku Pendidikan ke Dunia Proyek

Petugas HSE yang ditemui di lokasi pembangunan menceritakan bahwa minatnya pada bidang keselamatan kerja berasal dari minat awal di kesehatan masyarakat. Ia kemudian menempuh pendidikan vokasi dan memilih fokus pada keselamatan dan kesehatan kerja di sektor konstruksi. Ke depan, ia berharap dapat mengembangkan karier hingga ke sektor pertambangan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa profesi di bidang keselamatan kerja bukan sekadar pekerjaan teknis. Dibutuhkan kesiapan mental, ketegasan, serta kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak di lapangan.

Komunikasi K3 Bukan Sekadar Aturan

Dalam praktiknya, tantangan terbesar justru terletak pada komunikasi. Menurutnya, penggunaan alat pelindung diri sering menjadi persoalan yang berulang. Aturan sudah jelas, namun kepatuhan tidak selalu berjalan mulus.

“Di lapangan itu susah. Harus terus mengingatkan. Jadi memang harus kuat mental,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan realitas komunikasi keselamatan kerja di sektor konstruksi. Informasi keselamatan tidak cukup disampaikan sekali. Pesan harus terus diulang dan disesuaikan dengan kondisi lapangan serta karakter pekerja yang beragam.

Secara konseptual, komunikasi keselamatan dan kesehatan kerja merupakan proses penyampaian informasi, instruksi, dan peringatan terkait risiko kerja kepada seluruh pihak di tempat kerja. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan mencegah terjadinya kecelakaan. Di sektor konstruksi yang memiliki tingkat risiko tinggi, komunikasi ini menjadi fondasi utama dalam menciptakan budaya keselamatan.

Ketika Insiden Terjadi

Dalam situasi darurat atau ketika terjadi kecelakaan kerja, prosedur yang diterapkan harus jelas dan tegas. Petugas HSE menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah menghentikan seluruh aktivitas pekerjaan. Setelah itu, kondisi korban diperiksa dan investigasi dilakukan untuk mengetahui penyebab kejadian.

Selama proses investigasi berlangsung, pekerjaan tidak diperbolehkan dilanjutkan. Setiap kejadian juga harus didokumentasikan dan dilaporkan secara resmi. Dokumentasi ini berfungsi sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Langkah tersebut sejalan dengan prinsip manajemen keselamatan kerja yang menekankan pentingnya pembelajaran dari setiap insiden, baik kecelakaan maupun kejadian nyaris celaka.

Alasan Komunikasi Menjadi Kunci

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi keselamatan yang efektif berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap prosedur K3. Komunikasi yang dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui pengarahan rutin, diskusi informal, maupun dukungan manajemen, terbukti mampu menurunkan risiko kecelakaan kerja.

Di lingkungan konstruksi, komunikasi informal antarpekerja juga memiliki pengaruh besar. Ketika pekerja saling mengingatkan tentang bahaya dan prosedur keselamatan, kesadaran kolektif dapat terbentuk. Hal ini memperkuat gagasan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab petugas HSE, melainkan tanggung jawab bersama.

Tantangan di Lapangan

Meski demikian, penerapan komunikasi keselamatan tidak selalu berjalan ideal. Tekanan target proyek, keterbatasan waktu, serta kebiasaan kerja yang sudah mengakar sering kali menjadi hambatan. Dalam kondisi tersebut, petugas HSE dituntut untuk tetap konsisten dan tegas, meskipun harus menghadapi resistensi dari pekerja.

Beban mental inilah yang jarang terlihat. Keselamatan kerja bukan hanya soal prosedur, tetapi juga soal keberanian untuk menghentikan pekerjaan dan mengambil keputusan yang tidak selalu populer.

Pesan untuk Mahasiswa dan Calon Praktisi

Di akhir wawancara, petugas HSE tersebut menyampaikan pesan bagi mahasiswa, khususnya yang tertarik pada bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Menurutnya, penguasaan materi teknis harus diimbangi dengan penguatan mental dan wawasan.

Ia mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kuliah pakar, pelatihan, dan forum pembelajaran lainnya agar memiliki pemahaman yang lebih luas serta kesiapan menghadapi dunia kerja yang penuh tantangan.

Keselamatan sebagai Nilai Kemanusiaan

Pembangunan gedung sering kali dipandang sebagai simbol kemajuan fisik. Namun, di balik beton dan baja yang berdiri kokoh, terdapat proses panjang yang melibatkan manusia dengan segala risikonya. Pengalaman di proyek pembangunan gedung FIB Unair menunjukkan bahwa komunikasi keselamatan kerja merupakan kunci untuk menjaga agar proses pembangunan tetap menjunjung nilai kemanusiaan.

Keselamatan bukan sekadar kelengkapan alat atau aturan tertulis. Keselamatan adalah hasil dari komunikasi yang terus hidup di lapangan. Sebab, proyek dapat diulang dan bangunan dapat diperbaiki, tetapi nyawa manusia tidak pernah bisa digantikan.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *