My WordPress Blog

Inspiratif, Penari Muda Pilih Wajib Militer Meski Diterima di Sekolah Balet Bergengsi

Perjalanan Penuh Tantangan Seorang Penari Balet Muda

Di usia yang baru menginjak 18 tahun, Leo Cheng sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dunia tari. Ia mulai belajar balet sejak usia tiga tahun, mengikuti jejak kedua orang tuanya yang merupakan mantan penari Singapore Dance Theatre sekaligus pendiri Cheng Ballet Academy di kawasan Bukit Timah.

Mimpi untuk Negara

Dalam episode terbaru program Real Talk No Filter di 8world, Leo Cheng bersama kedua orang tuanya berbagi kisah tentang perjalanan panjangnya di dunia balet, termasuk tantangan dan keputusan besar yang kini harus ia hadapi sebagai penari muda berbakat.

Meski masih belia, Cheng telah menorehkan pencapaian luar biasa. Remaja bertinggi 1,81 meter ini menerima beasiswa penuh ke sekolah balet di Inggris saat usianya baru 11 tahun. Beberapa tahun kemudian, pada 2021, ia kembali memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Tari Zurich, Swiss.

Ayah Cheng, yang juga menjadi guru baletnya, mengaku sempat merasa ragu untuk mengizinkan putranya pergi ke luar negeri sendirian di usia yang sangat muda. Namun, ia akhirnya menyadari bahwa pengalaman tersebut penting untuk perkembangan Cheng sebagai penari profesional.

“Jika dia benar-benar ingin menekuni balet secara serius, terus berada di bawah bimbingan saya saja tidak akan cukup. Dia perlu belajar dari guru lain dan mendapatkan pengalaman baru. Karena itu, saya memutuskan untuk mengirimnya ke luar negeri,” ujar sang ayah.

Karier yang Mulai Berjalan

Keputusan tersebut terbukti tepat. Cheng terus menunjukkan perkembangan pesat dan prestasi membanggakan. Tahun ini, ia terpilih sebagai salah satu dari 86 penari terbaik dari total 445 peserta untuk berlaga di Prix de Lausanne, kompetisi balet klasik internasional bergengsi yang diikuti oleh penari berusia 15 hingga 18 tahun dari seluruh dunia.

Namun, karier balet Cheng kini harus memasuki masa jeda sementara. Ia sempat ditawari kontrak dua tahun oleh Birmingham Royal Ballet, salah satu dari lima perusahaan balet terkemuka di Inggris. Sayangnya, pada hari yang sama, ia juga menerima pemberitahuan bahwa ia harus segera menjalani wajib militer (National Service/NS) di Singapura.

Para direktur dan profesional di dunia balet menyarankan Cheng untuk menyelesaikan wajib militernya lebih awal, mengingat usianya masih muda. Menurut mereka, jeda karier di tahap awal akan lebih mudah diatasi dibandingkan jika ia menundanya hingga berada di puncak karier.

Cheng mengakui bahwa kabar tersebut sempat membuatnya kecewa. Saat itu, ia masih berada di Swiss dan melihat banyak teman seangkatannya mulai bergabung dengan perusahaan balet ternama, bahkan mendapatkan peran utama.

“Jujur saja, saya merasa sedih. Teman-teman saya sudah menari di perusahaan besar, sementara saya harus kembali untuk menjalani wajib militer. Tapi saya mencoba berpikir positif. Setelah itu, perasaan saya membaik dan saya yakin bisa melewatinya,” ujarnya.

Kekhawatiran Ayah

Sang ayah juga mengungkapkan kekhawatiran tentang dampak jeda latihan terhadap kondisi fisik putranya. Menurutnya, penari balet harus berlatih setiap hari untuk menjaga kekuatan, teknik, dan daya ingat otot.

“Jika berhenti terlalu lama, teknik dan kekuatannya bisa menurun. Itu tantangan besar bagi seorang penari,” jelasnya.

Pada September lalu, Cheng meraih prestasi gemilang dengan memenangkan satu-satunya Grand Prix kawasan Asia-Pasifik di ajang Youth America Grand Prix (YAGP) di Manila. Kemenangan tersebut mengantarkannya pada undangan ke YAGP Global Finals di Amerika Serikat pada Mei mendatang. Namun, ia dijadwalkan mulai menjalani wajib militer pada 5 Januari, sehingga harus melewatkan kesempatan tersebut.

Optimisme untuk Masa Depan

Meski menghadapi berbagai tantangan, Cheng tetap optimistis menatap masa depan. Ia bertekad untuk bergabung dengan perusahaan balet besar di Eropa setelah menyelesaikan wajib militernya dan berencana terus berlatih selama menjalani NS.

“Saya tahu saya tidak bisa berharap langsung menjadi penari top setelah dua tahun wajib militer. Saya harus bekerja lebih keras dan tetap berlatih agar tidak tertinggal,” katanya.

Meski kedua orang tuanya berasal dari Taiwan, Cheng menegaskan bahwa Singapura memiliki tempat yang sangat penting dalam hidupnya. Ia tumbuh besar, berlatih, dan membangun fondasi karier baletnya di negara tersebut.

“Saya dibesarkan di Singapura. Semua pelatihan balet saya berasal dari sini, dan itu yang membuat saya bisa bersinar di luar negeri. Singapura adalah bagian dari diri saya, dan karena itu saya merasa bangga bisa mengabdi melalui dinas nasional,” tuturnya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *