Keinginan Sederhana yang Mengubah Hidup
Jika hanya ada satu barang yang benar-benar ingin aku wujudkan di tahun 2026, maka jawabanku tidak rumit: sebuah motor. Bukan rumah besar, bukan gawai terbaru, bukan pula sesuatu yang tampak mencolok. Hanya satu motor – Honda Vario 160 CC warna biru. Baru. Dan aku menjadi orang pertama yang memilikinya, bukan perpanjangan dari orang lain.
Keinginan ini bukan muncul karena ikut-ikutan, apalagi karena ingin terlihat “sudah sampai”. Ia tumbuh pelan-pelan, dari pengalaman yang sederhana, dari kebutuhan yang nyata, dan dari niat yang aku jaga diam-diam sejak lama.
Aku masih ingat betul kapan pertama kali merasa yakin. Waktu itu aku diminta saudara mengantar ke warung. Ia punya motor yang sama. Aku mencobanya sebentar saja. Tidak lama. Tapi entah kenapa, ada rasa pas. Aku suka dengan tampilan dan desain motornya. Visualnya yang menenangkan mata, tidak berlebihan. Nyaman. Sederhana, tapi terasa dewasa. Dan pastinya tidak kegedean maupun kekecilan untuk tubuhku.
Sejak saat itu, motor itu menetap di pikiranku sebagai sebuah motor impian. Sebenarnya, dulu aku hampir membelinya. Niat itu pernah sangat dekat dengan kenyataan. Namun keadaan berkata lain. Dengan gaji yang masih terbatas, aku harus memilih dengan kepala dingin. Akhirnya, aku mengambil motor di bawahnya. Keputusan itu tidak membuatku kecewa. Tidak juga membuatku iri. Saat itu, itu adalah pilihan terbaik. Hanya saja, keinginan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat.
Sekarang, aku berada di tanah rantau – tempat pertama aku benar-benar belajar hidup mandiri. Di sini, memiliki kendaraan sendiri bukan lagi soal gaya, tapi soal kebutuhan. Mengandalkan angkutan umum memang memungkinkan. Tapi jika dihitung setiap hari, biayanya juga tidak sedikit. Waktu banyak terpotong, tenaga terkuras, dan ruang gerak terbatas.
Motor pribadi terasa lebih masuk akal. Lebih hemat. Lebih fleksibel. Lebih memudahkan. Namun jujur saja, alasan terbesarku bukan hanya soal efisiensi. Motor ini aku niatkan untuk menemani niat-niat baik. Aku ingin menggunakannya untuk datang ke majelis-majelis – majelis ta’lim, dzikir, dan ruang-ruang ilmu lainnya. Aku ingin lebih mudah ikut mengawal Abah, guru yang aku hormati, dalam berdakwah. Dalam mensyiarkan dakwah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW). Aku ingin motor itu membawaku untuk silaturahmi, tholabul ilmi, dan bekerja.
Aku ingin setiap perjalanan punya arah, dan setiap putaran roda bernilai niat. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar berlebihan. Tapi bagiku, inilah bentuk hadiah untuk diri sendiri yang paling masuk akal. Hadiah yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga menguatkan jalan hidup yang sedang aku tempuh.
Saat ini, usahaku sangat sederhana. Aku menabung sedikit demi sedikit. Menyisihkan dari gaji, tanpa target yang memaksa. Aku tidak ingin mengejar cepat, aku ingin menjaga konsisten. Aku juga mulai belajar mengurangi pengeluaran yang tidak benar-benar perlu. Bukan hidup serba menahan, tapi lebih memilih.
Menariknya, proses ini tidak melelahkan. Aku tidak merasa ragu. Godaan untuk menyerah hampir tidak ada. Mungkin karena sejak awal aku sadar: ini bukan perlombaan. Tidak ada siapa pun yang harus aku kalahkan. Tidak ada tenggat yang membuat napas sesak.
Targetku memang masih jauh. Tapi aku tenang. Aku percaya, selama niatnya baik, Allah selalu punya cara membuka jalan. Tugasku hanya berusaha dan berdoa. Soal kapan terwujud, aku serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kalau 2026, aku bersyukur. Kalau lebih cepat, aku bersujud lebih lama. Kalau harus menunggu lebih panjang, aku belajar lebih sabar.
Dari proses ini, aku pelan-pelan belajar tentang diriku sendiri. Bahwa mencintai diri tidak selalu berarti memanjakan. Kadang, ia justru hadir dalam bentuk kesabaran, dalam kemampuan menunda, dan dalam keberanian memperjuangkan sesuatu dengan tenang.
Motor ini mungkin hanya benda. Tapi di baliknya ada cerita tentang perantauan, tentang pilihan hidup, tentang usaha kecil yang dijaga agar tidak putus. Tentang doa-doa sunyi yang mungkin tidak terdengar oleh siapa pun, tapi tetap naik ke langit.
Kelak, jika motor itu benar-benar ada di hadapanku, aku ingin mengenangnya bukan sebagai puncak keinginan, tapi sebagai tanda bahwa proses pelan pun bisa sampai. Bahwa niat baik yang dijaga dengan sabar, tidak pernah benar-benar sia-sia.
Dan jika hari ini ada yang bertanya: “Kenapa hanya satu motor?” Aku akan menjawab dengan jujur: karena satu niat baik yang dijaga sungguh-sungguh, sering kali jauh lebih berarti daripada banyak keinginan yang dikejar tanpa arah.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











