My WordPress Blog

Joey Pelupessy Buka Rahasia Penurunan Timnas Indonesia Era Kluivert: Hati Saya Hancur Selama 2 Minggu

Joey Pelupessy Mengungkap Rasa Hancur Setelah Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026

Joey Pelupessy, gelandang Timnas Indonesia, mengaku hatinya hancur selama dua minggu setelah timnya gagal melaju ke Piala Dunia 2026. Pemain naturalisasi asal Belanda ini memberikan wawancara yang jujur dan penuh emosi mengenai penurunan performa tim di bawah arahan pelatih baru, Patrick Kluivert.

Dalam pernyataannya, Joey menilai bahwa tren permainan Timnas Indonesia mulai merosot sejak Shin Tae-yong digantikan oleh Kluivert. Ia menyebut bahwa performa tim menjadi kurang solid saat menghadapi tim besar seperti Arab Saudi dan Iran. Meski sempat terpuruk, kini Joey berkomitmen untuk bangkit dan mencuri perhatian pelatih anyar, John Herdman.

Perjuangan di Putaran Keempat Kualifikasi

Joey merupakan bagian dari skuad yang berjuang di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Namun, penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih justru berujung pada kegagalan. Di bawah arahan Kluivert, tren permainan timnas terus menurun hingga akhirnya mimpi berlaga di level tertinggi sepak bola dunia harus terkubur.

Bagi beberapa pemain, kenyataan ini terasa sangat pahit karena faktor usia yang tak lagi muda. Joey menjelaskan bahwa tahun 2025 lalu harus dilewati dengan beberapa momen berat, termasuk kegagalan Timnas Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 setelah tumbang dari Arab Saudi dan Irak.

Padahal, Joey baru saja mendapatkan status WNI dan terlibat dalam perjuangan menuju ajang sepak bola paling bergengsi tersebut. “Saya seperti berada di rollercoaster. Dari Maret, saat saya mendapatkan kewarganegaraan Indonesia di Roma, hingga pertengahan Oktober. Saat kami tersingkir dari Piala Dunia di Arab Saudi,” kata Joey.

Perasaan yang Menyakitkan

Meski masih ada peluang dipanggil oleh pelatih baru, John Herdman, Joey mengakui permainan timnas kurang solid saat menghadapi Arab Saudi dan Iran di putaran keempat. Penyesalan semakin membekas karena peluang Indonesia untuk lolos pada putaran sebelumnya sebenarnya sangat besar.

Fakta inilah yang sulit diterima hingga Joey membutuhkan waktu lama sampai dua minggu untuk pulih dari kegagalan tersebut. “Jika kamu kalah dua kali, maka kamu memang tidak pantas mendapatkannya, tapi kami hampir saja lolos dengan cepat, dan tiba-tiba semuanya berakhir. Itu benar-benar menghancurkan hatiku. Perasaan itu pasti bertahan selama dua minggu,” ujar Joey Pelupessy.

Pemain yang kini berseragam Lommel SK tersebut menyadari usia menjadi penghalang besar untuk mimpi Piala Dunia di masa depan. Meski masih ada kesempatan sebagai pemain pengganti, Joey memilih untuk bersikap realistis menghadapi kondisi saat ini.

“Saya bisa saja pergi ke Piala Dunia. Ini adalah satu-satunya kesempatan saya, seratus persen. Dalam lima tahun, saya akan berusia 37 tahun. Jangan pernah mengatakan tidak pernah, tapi saya lebih suka bersikap realistis. Ini seharusnya terjadi sekarang,” tegasnya.

Fokus pada Performa dan Masa Depan

Pasca-kegagalan tersebut, Joey sempat berkomunikasi dengan beberapa staf pelatih. Namun, pintu komunikasi tersebut tertutup seiring berakhirnya kerja sama mereka dengan PSSI. Kini, Joey hanya fokus bekerja keras untuk menjaga performa terbaik agar tetap masuk dalam radar skuad Garuda di masa depan.

“Bukan berarti kita menangis di telepon satu sama lain, tapi kita bekerja menuju sesuatu, dan tiba-tiba itu berakhir dengan sayang,” ujarnya.

Siap Curi Perhatian John Herdman

Kini Joey Pelupessy menyatakan kesiapannya untuk berjuang demi mengamankan tempat di Timnas Indonesia. Skuad Garuda sendiri akan menghadapi era baru di bawah komando pelatih John Herdman mulai tahun ini.

Demi mendapatkan komposisi baru, John Herdman tentu akan mencari pemain-pemain yang sesuai dengan gaya bermainnya. Performa pemain di liga akan menjadi pertimbangan utama jelang berlaga di FIFA Series pada bulan Maret nanti.

Hal ini memacu para pemain untuk bersaing demi kembali masuk dalam radar timnas. Meski gagal menembus Piala Dunia, timnas tetap memiliki agenda padat mulai tahun ini, termasuk ASEAN Cup 2026 dan Piala Asia 2027 yang perlu dipersiapkan.

Joey berharap masih menjadi pilihan di timnas meskipun persaingan akan semakin ketat. “Asian Cup, kejuaraan Asia, pada Januari 2027. Kami sudah lolos untuk itu. Tugas saya adalah membuktikan bahwa saya masih layak berada di tim nasional,” terangnya.

Pemain asal Lommel SK ini menambahkan bahwa membela timnas menjadi sebuah keputusan yang krusial. Sebagai pemain yang lahir di Belanda, Joey tentu sempat ingin menembus skuad De Oranje suatu saat nanti. Namun, bermain untuk Indonesia memberikan kebanggaan tersendiri dan Joey siap memberikan segalanya demi tanah nenek moyangnya.

Sejauh ini, Joey sudah bermain dalam enam pertandingan untuk skuad Garuda dan menjadi pembeda di lini tengah. “Perkembangan. Kebanggaan. Saya telah mencapai sesuatu lagi, secara pribadi. Bahkan secara tak terduga. Ketika saya masih bermain di FC Twente, agen saya pernah membahas tentang akar Indonesia saya, tapi saat itu hal itu sama sekali tidak relevan. Saya berusia 19 tahun dan bermimpi untuk masuk tim nasional Belanda,” tutupnya.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *