JAKARTA,
Penyakit Superflu dan Peran Kewaspadaan bagi Kelompok Rentan
Meskipun penyakit yang dikenal sebagai superflu tidak memiliki tingkat keparahan melebihi influenza biasa, para ahli kesehatan menekankan pentingnya kewaspadaan terutama pada kelompok rentan. Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menjelaskan bahwa meski virus ini tidak bersifat mematikan, dampaknya bisa lebih berat pada kelompok tertentu.
Daeng menyebutkan bahwa kelompok rentan meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid. Selain itu, mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah juga termasuk dalam kelompok yang perlu lebih waspada.
“Orang-orang golongan rentan cenderung lebih mudah terkena penyakit, dan ketika terinfeksi, kondisinya bisa menjadi lebih parah dibandingkan orang yang tidak rentan,” ujar Daeng.
Ia menegaskan bahwa walaupun superflu bukan satu-satunya penyebab kondisi berat pada pasien, faktor kerentanan individu memegang peran besar dalam menentukan tingkat keparahan penyakit. Seseorang dengan kesehatan baik dan daya tahan tubuh optimal umumnya dapat menghadapi infeksi influenza dengan lebih ringan dibandingkan mereka yang memiliki risiko.
Waspada Tanpa Kepanikan
Daeng menekankan pentingnya kewaspadaan yang proporsional, bukan kepanikan. Ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh, mengenali gejala sejak awal, serta tidak memaksakan aktivitas ketika mulai merasa sakit.
Menurutnya, penyebaran superflu tergolong cepat, sehingga perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi penting untuk mencegah dampak yang lebih berat. “Karena ada gejala-gejala yang seperti itu dan penyebarannya cepat, masyarakat tetap harus waspada,” kata Daeng.
Flu Biasa, Bukan Virus Baru
Pernyataan IDI tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Ia menegaskan bahwa superflu bukanlah virus baru dan tidak memiliki tingkat keganasan seperti varian Delta Covid-19 yang pernah memicu krisis kesehatan global.
Budi menjelaskan bahwa istilah superflu merujuk pada virus influenza tipe A dengan subclade K. Ia menekankan perbedaan karakteristik antara influenza dan Covid-19.
“Covid-19 itu nama virusnya. Tapi variannya kan ada yang Delta, Omicron, Beta, Alpha, segala macam. Jadi ini sebenarnya virus H3N2. Namanya, nama ininya, populernya Influenza A,” ujar Budi.
Menurut Budi, influenza A (H3N2) sudah lama dikenal dan sering muncul secara musiman, terutama di negara-negara dengan empat musim. Meski penularannya cepat, tingkat kematian akibat virus ini sangat rendah.
Di Indonesia, jumlah kasus masih terbatas dan mayoritas dapat ditangani dengan pengobatan standar. “Yang saya lihat laporan terakhir masih puluhan ya. Dan enggak parah sih. Artinya bisa dengan pengobatan biasa tetap sembuh,” kata Menkes.
Pentingnya Pencegahan
Budi menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh sebagai benteng utama. “Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang super flu ini, kita bisa sembuh,” paparnya.
Selain itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti mencuci tangan dan memakai masker dalam situasi tertentu. “Nah, kalau ternyata di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, ya kita untuk precautions kita pakai masker lah, pakai masker dan rajin cuci tangan,” ucap Budi.
Antisipasi Sejak Dini
Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa meminta pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi tanpa menunggu lonjakan kasus, mengingat influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, hingga Singapura.
“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” ujar Neng Eem dalam keterangannya.
Ia menekankan bahwa pencegahan lebih efektif dan lebih murah dibandingkan penanganan ketika kasus sudah meluas. “Pencegahan lebih murah dan lebih efektif dibanding penanganan ketika kasus sudah meluas. Koordinasi lintas sektor dan kesiapan layanan kesehatan tidak boleh ditunda,” katanya.
62 Kasus Tercatat di Indonesia
Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Prima Yosephine menyampaikan bahwa kasus tersebut tersebar di delapan provinsi.
“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Prima dalam siaran pers, Senin (5/1/2026).
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











