My WordPress Blog

Banjir Ganggu Akses Sekolah, Disdik OKU Timur Minta Satuan Pendidikan Waspada

Dampak Banjir di Kecamatan Belitang III terhadap Sekolah dan Sektor Pertanian

Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, menyebabkan gangguan pada akses jalan menuju sekolah. Meskipun bangunan sekolah masih dalam kondisi aman, genangan air yang menggenangi sejumlah ruas jalan membuat mobilitas siswa dan tenaga pendidik menjadi sulit.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKU Timur, Wakimin, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan tentang sekolah yang terkena dampak langsung banjir. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah akses menuju sekolah yang terganggu karena banyak jalan yang tergenang.

“Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada sekolah yang terdampak banjir di Kecamatan Belitang III. Tetapi yang menjadi kendala adalah akses menuju sekolah, karena banyak jalan yang tergenang dan sulit dilalui,” ujar Wakimin.

Ia menekankan pentingnya antisipasi terhadap situasi cuaca ekstrem yang masih berlangsung. Wakimin juga meminta seluruh kepala satuan pendidikan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menjaga aset sekolah seperti barang elektronik dan instalasi listrik agar tidak rusak akibat banjir.

Selain itu, ia mengimbau pihak sekolah untuk terus memantau kondisi lingkungan secara berkala. Jika terjadi genangan atau banjir yang mulai memasuki area sekolah, pelaporan cepat sangat diperlukan agar dapat segera ditindaklanjuti.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan OKU Timur akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keselamatan siswa serta kelangsungan proses belajar mengajar di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Banjir Mengancam Sektor Pertanian

Tidak hanya mengganggu aktivitas pendidikan, banjir di Kecamatan Belitang III juga mengancam sektor pertanian. Sedikitnya 90 persen areal persawahan warga yang telah ditanami padi dilaporkan terendam air, sehingga petani berada di ambang gagal panen.

Tanaman padi yang terdampak rata-rata masih berusia muda, sekitar 10 hingga 30 hari masa tanam. Sebagian besar bahkan baru berusia 15 hari dan telah dipupuk dengan kondisi pertumbuhan yang semula dinilai sangat baik.

Namun genangan air yang belum juga surut membuat tanaman padi terancam rusak bahkan mati. Banjir masih menggenangi sejumlah desa di Kecamatan Belitang III, di antaranya Desa Ringin Sari, Kutosari, Nusaraya, Dadi Rejo, Karang Sari, hingga Sukanegara.

Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan debit air meningkat dan merendam hamparan sawah warga.

Petani Pasrah, Biaya Tanam Terancam Hilang

Salah satu petani terdampak, Marham (51), mengaku pasrah melihat kondisi sawahnya yang kini terendam banjir. Ia menyebut banjir datang di saat petani baru saja mengeluarkan biaya tanam yang tidak sedikit.

“Padi baru 15 hari, sudah dipupuk dan hidupnya bagus. Sekarang hampir semua sawah terendam. Kalau air tidak cepat surut, habis semuanya,” ujar Marham dengan nada cemas.

Ia juga menambahkan, banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan membuat posisi petani semakin terjepit. Menurutnya, hingga kini belum ada solusi jangka panjang yang benar-benar dirasakan untuk mengatasi persoalan banjir di wilayah persawahan.

Hal senada disampaikan Nuriyanto, warga Desa Dadi Rejo, Kecamatan Belitang III. Ia menyebut di wilayahnya terdapat sekitar 20 hektare sawah yang terdampak banjir.

“Di sini ada sawah yang sudah tanam padi umur satu bulan, ada yang 20 hari, bahkan ada yang baru 10 hari. Areal ini berbatasan dengan tiga desa, Dadi Rejo, Karang Sari, Ringin Sari, dan Sukanegara,” jelasnya.

Pemkab Siapkan Langkah Penanganan

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Dinas Pertanian OKU Timur, Niswaturrohmah, menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan pendataan berapa jumlah areal persawahan yang terdampak banjir dari seluruh kecamatan.

Ia juga menjelaskan, sejak November lalu Dinas Pertanian telah menginstruksikan Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta ketua dan anggota Gapoktan dan Poktan se-Kabupaten OKU Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem.

“Curah hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan banjir dan serangan organisme pengganggu tanaman, sehingga dapat berdampak pada penurunan produksi pangan. Kami minta seluruh jajaran melakukan pemantauan, pengendalian, serta pendataan dan pelaporan secara rutin,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, kondisi pertanaman padi di OKU Timur saat ini bervariasi. Sebagian petani masih dalam masa panen, sebagian baru tanam, dan sebagian lainnya sudah selesai panen.

“Banyak yang tanam bulan September sehingga panen Desember, tapi ada juga yang tanam Oktober sampai Desember,” ujarnya.

Bupati Perintahkan Penanganan Awal

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian OKU Timur, Andri Irawan, mengakui adanya lahan pertanian yang terendam banjir, terutama di wilayah Kecamatan Belitang III. Namun hingga kini belum ada angka pasti luas lahan terdampak.

“Saat ini kami sedang melakukan pendataan. Lahan yang terendam tentu ada, tetapi kami perlu memastikan apakah lahan tersebut sudah ditanami atau belum,” katanya.

Andri menegaskan, Pemerintah Kabupaten OKU Timur akan mengambil langkah penanganan terhadap lahan pertanian yang terdampak banjir, termasuk kemungkinan pemberian bantuan kepada petani.

“Nanti akan kita tentukan langkah apa yang paling tepat, termasuk bantuan apa yang bisa diberikan kepada petani,” ujarnya.

Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, M.T., M.M., menyampaikan bahwa dirinya telah menerima laporan terkait banjir yang melanda wilayah Belitang. Saat ini ia dalam perjalanan kembali ke OKU Timur setelah menghadiri kegiatan swasembada pangan.

“Subuh tadi sudah saya perintahkan BPBD dan dinas terkait untuk bergerak ke lokasi dan melakukan penanganan awal,” kata Bupati.

Hingga berita ini diturunkan, genangan air masih bertahan di sejumlah areal persawahan di Kecamatan Belitang III. Petani berharap cuaca segera membaik dan pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah nyata agar tanaman padi yang tersisa masih dapat diselamatkan.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *