Penyakit Leptospirosis Meningkat di Kabupaten Pati
Kasus leptospirosis di Kabupaten Pati mengalami peningkatan yang signifikan pada Januari 2026, terutama setelah terjadinya banjir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat sebanyak 35 kasus dengan empat kematian. Mayoritas korban adalah lansia yang memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan terhadap infeksi.
Bencana banjir menjadi faktor utama dalam meningkatnya kasus leptospirosis. Banjir menyebabkan genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biak bakteri Leptospira. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine atau darah hewan terinfeksi seperti tikus, anjing, kucing, babi, kambing, sapi, dan kuda.
Penyakit ini menyebar melalui air atau tanah yang terkontaminasi oleh urine hewan. Bakteri ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, kulit yang terkelupas, atau selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut. Gejala awal leptospirosis sering kali mirip dengan penyakit umum seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi berat seperti gagal ginjal yang berpotensi menyebabkan kematian.
Penyebab Tingginya Angka Kematian
Menurut Yanti, Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Pati, keterlambatan penanganan medis menjadi faktor utama tingginya angka kematian akibat leptospirosis. Ia menyebut rendahnya kesadaran masyarakat menjadi kendala serius dalam upaya penanganan dini. Banyak masyarakat yang tidak mengenali gejala leptospirosis dan menganggapnya sebagai penyakit biasa.
Yanti menjelaskan bahwa gejala awal leptospirosis seperti demam, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, tubuh lemas, dan perubahan warna kulit menjadi kekuningan sering kali diabaikan. “Yang menjadi masalah ketika datangnya itu terlambat ya, karena masyarakat awam tidak tahu, dinyana-nyana itu biasa aja, dikira penyakit biasa saja,” ujar Yanti.
Sebaran Kasus di Berbagai Wilayah
Kasus leptospirosis tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Pati. Beberapa kecamatan dengan laporan kasus tertinggi antara lain Juwana, Jaken, dan Margoyoso. Selain itu, kasus juga terdeteksi di Kecamatan Trangkil, Dukuhseti, Batangan, hingga Wedarijaksa.
Jumlah kasus pada awal 2026 ini bahkan telah melampaui setengah dari total kasus sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinkes Pati, selama 2025 terdapat 61 kasus leptospirosis dengan angka kematian mencapai 17 orang, dengan lonjakan kasus terjadi pada Februari dan Maret.
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Untuk mencegah penyebaran leptospirosis, Dinkes Pati telah menginstruksikan petugas di seluruh Puskesmas untuk melakukan desinfeksi pada area genangan air pascabanjir. Salah satu media yang digunakan adalah deterjen pembersih rumah tangga yang dinilai efektif membasmi bakteri namun tetap aman bagi lingkungan.
“Kami sudah melaksanakan pemberitahuan kepada petugas Puskesmas agar memberikan desinfektan berupa sabun ‘Boom’ (deterjen) ke genangan air pascabanjir, terus apabila rumah itu dipel pakai sabun ‘Boom’. Karena itu salah satu deterjen yang ramah lingkungan dan bisa membunuh bakteri,” jelas Yanti.
Pihak Dinkes mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi, sakit kepala, mata merah, atau nyeri betis setelah bersentuhan dengan air banjir. Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot dan sarung tangan, serta menjaga kebersihan makanan, juga menjadi kunci utama agar terhindar dari penyakit mematikan ini.
Gejala dan Dampak Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira, sering disebut “demam urine tikus”. Bakteri ini menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi (terutama tikus) ke air atau tanah, masuk ke tubuh manusia via luka atau selaput lendir.
Gejala meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot (terutama betis), mata merah, mual, muntah, dan penyakit kuning (jaundice). Jika tidak diobati, leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis, gagal hati, hingga kematian.
Pencegahan dan Tips untuk Masyarakat
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:
- Menjaga kebersihan lingkungan dengan memastikan tidak ada tikus dan limbah yang menumpuk.
- Menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu boot dan sarung tangan saat bekerja di daerah banjir.
- Mencuci tangan dan kaki setelah kontak dengan air atau tanah yang berpotensi tercemar.
- Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala leptospirosis.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











