Program Cegah Stunting Itu Penting: Upaya BRI Peduli dalam Meningkatkan Kesehatan Anak dan Ibu Hamil
Di tengah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta Utara, program Cegah Stunting Itu Penting dari BRI Peduli menjadi salah satu inisiatif penting dalam upaya memerangi stunting. Kawasan Cilincing, salah satu kelurahan di Jakarta Utara, masih memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi, dengan sekitar 55 anak berisiko stunting sedang dalam tahap pemulihan dan 150 anak lainnya sedang dalam penyuluhan.
Program ini dilaksanakan sebagai bagian dari perayaan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari 2025, bersama Bank BRI di Puskesmas Cilincing, Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara. Selain itu, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Puskesmas Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tujuan utama dari program ini adalah untuk menjangkau para balita dan ibu hamil dengan pencegahan stunting.
Kawasan Cilincing terdiri dari 7 kelurahan, yaitu Kelurahan Semper Barat, Kalibaru, Rorotan, Cilincing, Semper Timur, Marunda, dan Sukapura. Wilayah ini dikenal sebagai pusat industri dan pemukiman padat. Penduduknya bekerja sebagai buruh pelabuhan, sopir truk kontainer, nelayan, hingga pekerja pabrik garmen atau manufaktur. Sebagian besar penduduk tinggal di kelas menengah ke bawah, sehingga masalah stunting menjadi fokus utama.
Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Dhanny, menjelaskan bahwa program Cegah Stunting Itu Penting merupakan bentuk dukungan BRI terhadap program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka prevalensi stunting. Hal ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) Nomor 2 “Tanpa Kelaparan”.
Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menyasar 7.783 warga yang terdiri dari orang tua, balita, ibu hamil, dan remaja putri. Selain itu, program ini juga telah menyalurkan 130 paket antropometri dan dilaksanakan di 49 posyandu/puskesmas di berbagai wilayah seperti Jakarta, Padang, Yogyakarta, Denpasar, Malang, Makassar, Banjarmasin, dan Manado.
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam program ini meliputi:
* Sosialisasi pencegahan stunting
* Pemberian Paket Makanan Tambahan (PMT)
* Pemeriksaan kesehatan gratis
* Pemberian antropometri kit
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ciri utama stunting adalah tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan standar usianya. Dampak jangka panjang meliputi perkembangan otak yang terhambat, produktivitas rendah, serta risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas.
Target nasional prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 18,8 persen, lebih rendah dari angka 19,8 persen pada tahun 2024. Pemerintah fokus pada intervensi spesifik dan sensitif, termasuk program makan bergizi gratis, untuk mengejar target jangka panjang 14,2% pada 2029.
Prevalensi stunting dihitung dengan rumus dasar = (Total Jumlah Balita yang Diukur : Jumlah Balita Stunting) × 100%. Anak dengan tinggi badan di bawah -2 SD pada kurva pertumbuhan WHO dikategorikan pendek (stunted), sedangkan di bawah -3 SD disebut sangat pendek (severely stunted).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Badan Gizi Nasional (BGN) berkolaborasi dalam program makan bergizi gratis untuk ibu hamil, menyusui, dan balita mulai awal 2025. Program ini dilaksanakan secara bertahap dengan fokus utama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dalam kegiatan CSR, BRI Peduli memberikan paket nutrisi bergizi bagi anak stunting, paket makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta antropometri kit. Setiap satu paket antropometri kit terdiri dari timbangan digital, timbangan bayi, infantometer, stadiometer, dan tensimeter digital.
Program ini juga diperkuat dengan edukasi gizi dan pola asuh bagi orang tua, ibu hamil, serta remaja putri sebagai upaya pencegahan sejak dini. Hal ini menunjukkan bahwa program dilaksanakan dengan pendekatan menyeluruh, tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memperkuat fondasi pencegahan stunting.
“Melalui pelaksanaan kegiatan ini, pencegahan stunting tidak hanya diposisikan sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas,” ujar Dhanny.
Masliani Novaria, Ahli Gizi Puskesmas Kecamatan Cilincing, mengungkapkan bahwa pelaksanaan program Cegah Stunting Itu Penting dari BRI Peduli merupakan wujud kolaborasi bersama dari berbagai instansi dan masyarakat untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah Kecamatan Cilincing. Ia berharap BRI terus dapat mendukung intervensi pencegahan stunting di Indonesia.











