My WordPress Blog

Profesor FIK UI Buka Mata tentang Kompetensi Budaya dalam Perawatan Indonesia

Pentingnya Kompetensi Kultural dalam Pendidikan Keperawatan

Pendidikan keperawatan di Indonesia tidak hanya berfokus pada aspek teknis dan klinis, tetapi juga membutuhkan penguasaan kompetensi kultural. Hal ini ditegaskan oleh Enie Novieastari, Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), dalam orasi ilmiah yang disampaikannya dengan judul “Kompetensi Kultural sebagai Transformasi Pendidikan Tinggi Keperawatan di Indonesia: Merawat dalam Keberagaman”.

Keberagaman budaya di Indonesia menjadi dasar utama dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang inklusif. Dengan lebih dari 1.200 suku dan 694 bahasa daerah, keberagaman tersebut bukan sekadar data statistik, melainkan fondasi penting untuk memberikan layanan kesehatan yang bermartabat.

Enie menekankan bahwa di era menuju Indonesia Emas 2045, penguasaan teknologi saja tidak cukup. Dunia keperawatan juga membutuhkan peningkatan literasi humaniora agar perawat mampu merawat manusia secara utuh, bukan hanya secara medis.

Risiko Pengabaian Aspek Budaya dalam Pelayanan Kesehatan

Dalam orasinya, Enie menyampaikan adanya risiko pengabaian aspek budaya dalam pelayanan kesehatan. Hal ini dapat mengakibatkan hambatan komunikasi dan menurunnya kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan. Akibatnya, masyarakat sering kali lebih memilih penyembuh tradisional sebagai alternatif.

Untuk mengatasi hal ini, Enie mengacu pada model Campinha-Bacote yang memandang kompetensi kultural sebagai proses berkelanjutan, bukan hasil akhir. Model ini mencakup lima komponen utama, yaitu:

  • Kesadaran budaya
  • Pengetahuan budaya
  • Keterampilan budaya
  • Interaksi budaya
  • Hasrat budaya

Selain itu, ia juga memperkenalkan konsep “cultural competemility”, yakni sinergi antara kompetensi dan kerendahan hati budaya. Gagasan ini dinilai relevan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga berkontribusi pada diskursus global mengenai pendidikan keperawatan transkultural.

Kontribusi dan Prestasi Enie Novieastari

Dalam pengembangan keilmuan, Enie aktif menghasilkan berbagai karya ilmiah dan inovasi di bidang keperawatan. Beberapa di antaranya adalah buku Kurikulum Pendidikan Ners Indonesia Tahun 2024 dan aplikasi Caring dalam Praktik Keperawatan Indonesia: Tangguh Denara Jaya (2023), serta sejumlah produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Atas kontribusinya, Enie menerima beberapa penghargaan, seperti:

  • Satyalancana Karya Satya X Tahun pada 2006
  • Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2018
  • Penghargaan Kategori Inovasi HKI dari UI pada 2022

Latar Belakang Pendidikan dan Jabatan

Enie menamatkan pendidikan Sarjana Keperawatan (S.Kp.) di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1991. Ia kemudian memperoleh gelar Master of Science in Nursing (M.S.N.) dari School of Nursing, The Catholic University of America pada 1996. Selain itu, ia juga meraih gelar Doktor Ilmu Keperawatan (Dr.) di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pada 2014.

Saat ini, ia merupakan Ketua Bidang Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Keperawatan di Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) periode 2021–2025.

Prosesi Pengukuhan yang Khidmat

Prosesi pengukuhan Enie berlangsung khidmat dan dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Indonesia serta tamu undangan. Dengan pengukuhan ini, Enie menjadi Guru Besar ke-8 FIK UI yang dikukuhkan Universitas Indonesia pada tahun 2026 dari total 475 Guru Besar aktif di UI.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *