Kehadiran Magistus Miftah dalam “Ghost in the Cell”
Sebagai film garapan terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell menawarkan pengalaman berbeda bagi pencinta film Indonesia. Film ini mengajak penonton keluar dari pasar horor yang semakin ramai dengan kombinasi komedi satir yang menarik. Tampilan visual dan naratif yang kaya membuat film ini menjadi sajian yang lebih menggembirakan. Selain itu, kehadiran aktor-aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Morgan Oey, dan pendatang baru Magistus Miftah menjadi daya tarik utama.
Magistus Miftah, seorang penari yang memulai debut aktingnya dalam film ini, mengaku merasa “literally asam lambung” saat pertama kali bergabung dalam proyek ini. Ia mengatakan bahwa bekerja sama dengan aktor-aktor kawakan seperti Abimana Aryasatya membuatnya merasa seperti “hamster di antara singa dan macan”. Namun, ia berusaha untuk tidak merasa stres dan fokus pada tugasnya sebagai aktor.
“Disuruh buat koreografi, aku buat. Pokoknya yang penting aku bisa deliver apa yang Abang (Joko Anwar) mau,” ujarnya ketika ditanya tentang kesannya berlakon sebagai Novilham.
Debut akting Miftah ini juga menjadi jawaban dari mimpinya setelah menyelesaikan umrah. Ia mengungkapkan bahwa ia mengetahui lolos casting dan mendapatkan peran ini saat sedang membaca tarot. “Client aku saat itu adalah salah satu orang yang tahu duluan dan pernah ngomong kalau aku cocok main film,” katanya.

Sebagai pendatang baru, Miftah disambut hangat oleh para aktor senior. Morgan Oey, yang berperan sebagai Bimo, menyampaikan bahwa tidak ada perbedaan antara aktor lama dan baru. Semua saling mendukung dan memberikan yang terbaik. Bagi Morgan, ini adalah kali kedua ia bekerja sama dengan Joko Anwar dalam proyek film ambisius dan penuh darah.
Morgan bercerita, “Pernah kok, syuting pagi, jam satu siang udah selesai. Jadi ya udah, bebas mau ngapain.” Ia juga menegaskan bahwa Joko Anwar sudah tahu apa yang ingin dilakukannya setiap harinya, sehingga semua kebutuhan adegan sudah siap dieksekusi, dan para aktor juga commit untuk memberikan energi secara total.

Komitmen dari setiap aktor untuk memberikan makna terhadap perannya juga datang dari Abimana Aryasatya yang memerankan karakter Anggoro. Ia memiliki lakon yang mengayomi dan menjunjung tinggi moral. Adegan kunjungan anak Anggoro ke lapas menjadi jangkar Anggoro untuk bertahan hidup di penjara.
“Part family itu ada dan cukup lumayan besar, karena itu bagian dari saya,” ungkap Abi. “Setiap manusia punya reason untuk survive, dan kebetulan yang relatable sama saya adalah keluarga. Ditambah juga menurut saya lebih relatable juga dengan penonton. Semoga ya,” tambahnya lagi.
Namun, Popbela tidak menyangka jika sebelum Joko Anwar menggaet Abimana, aktor yang dulu dikenal dengan nama Robertino itu, sudah hampir pensiun dari dunia akting. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa kecewa dengan industri film setelah 20 tahun bekerja dan merasa masih di sini-sini saja. “Please challenge me on another level,” katanya.
Joko Anwar, Timo Tjahjanto, Upi, adalah nama-nama yang memberi kepercayaan di awal karier Abimana ketika memasuki industri film—setelah mencoba di ranah sinetron. Film memberikannya ruang yang lebih luas untuk berekspresi, dan mencoba hal baru, bahkan sampai meloloskan mimpinya membuat karya film pendek sendiri dan mengikuti beragam festival film di luar negeri.
“Setiap saya bilang pengen berhenti main film, selalu Joko Anwar yang pertama kali ajak saya main lagi. ‘Ini eksperimen ya. Kalau ini jelek bisa jelek banget, kalau ngaco bisa ngaco banget. Kemungkinan gagalnya juga besar banget,’ kata Joko ke saya. Nah, saya senang banget kalau ada yang kemungkinan gagalnya besar,” katanya tertawa.
“Karena dari situ kita belajar juga. Sejarah membuktikan kalau industri film pernah collapse kalau tidak berani buat sesuatu yang baru dan tidak takut untuk gagal,” tutupnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











