My WordPress Blog

Profil Indy Barends, Presenter yang Dikritik Anak Soal Luka Mental dari Ucapan Orang Tua, Responsnya Jadi Sorotan

Profil Indy Barends, Presenter yang Disentil Anak Soal Luka Mental

Indy Barends adalah seorang presenter ternama di Indonesia yang dikenal dengan gaya bicaranya yang khas dan kepribadiannya yang ceria. Ia lahir di Bogor pada 15 Januari 1972. Awal kariernya dimulai sebagai penyiar radio, dan pernah memecahkan rekor MURI sebagai penyiar terlama selama 32 jam dalam acara Radionthlon pada tahun 2002.

Selain dikenal lewat kariernya, Indy juga akrab dengan sesama presenter Indra Bekti. Keduanya telah bersahabat sejak lama dan sering tampil bersama di berbagai acara, seperti “Ceriwis” hingga “OTW”. Meskipun pernah mengalami ujian persahabatan akibat perbedaan pendapat di awal karier, hubungan mereka kini semakin kuat. Indy bahkan dikenal setia mendampingi Indra Bekti saat sahabatnya itu sempat jatuh sakit dan mengalami gangguan ingatan jangka pendek.

Indy memiliki nama asli Mendya Barends. Ia menikah dengan Benyamin Sarmanella pada 19 Oktober 2002. Suaminya lebih tua empat tahun darinya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak, yaitu Raphael Benaya Sarmanella yang lahir pada 2003 dan Manuel Tobias Sarmanella yang lahir pada 2009.

Perseteruan dengan Anak di Media Sosial

Baru-baru ini, Indy Barends tengah berseteru dengan putranya, Manuel, di media sosial. Putranya menyentil soal kesehatan mental yang ia alami akibat ucapan orang tua. Melalui video berdurasi 57 detik yang diunggah pada 21 Januari 2026, Manuel menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan mental diri sendiri. Ia juga memberikan dorongan semangat agar seseorang tidak mudah menyerah ketika kondisi mental sedang menurun, sambil secara singkat membagikan pengalamannya.

Dalam unggahan tersebut, Manuel membahas pengaruh ucapan orang tua terhadap kesehatan mental anak saat terjadi perbedaan pendapat. Ia menegaskan bahwa anak tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri. “Jikalau hari ini habis menderita dengan omongan orang tua dengan penuh rasa dendam selalu keras kepala dan merasa omongan mereka itu salah. Ini bukan salah lo kok,” katanya.

Menurut Manuel, rasa kecewa atau kesal yang muncul akibat perkataan orang tua adalah hal yang normal. Ia menekankan bahwa anak tidak berkewajiban menanggung ataupun memperbaiki luka emosional yang timbul sebagai dampaknya. “Gue pun sering banget ngalamin ini, enggak cuman lo. Perasaan lo valid. Reaksi lo wajar. Dan luka yang mereka berikan? Itu tanggung jawab mereka, bukan lo,” tambahnya.

Manuel kembali mengingatkan bahwa tidak setiap perkataan orang tua perlu dipercaya atau dijadikan pedoman hidup. Menurutnya, ucapan tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai harga diri seseorang. “Kalau omongan mereka bikin lo ngerasa lemah, salah, atau enggak berharga, intinya gini aja ya, kalau lo punya impian besar yang mau lo capaikan di masa depan kayak gue, omongan yang diberikan orang tua lo itu enggak selalu benar dan kata-kata mereka enggak nentuin nilai dari diri lo sendiri,” ujarnya.

Remaja berusia 17 tahun itu menegaskan bahwa perasaan yang dirasakannya bukanlah suatu kesalahan. Ia menyampaikan bahwa seorang anak pada dasarnya hanya berupaya bertahan dari sikap orang tua yang seharusnya memberi rasa aman, termasuk yang ia alami sendiri. “Lo enggak salah, lo cuman berusaha bertahan dari orang tua yang seharusnya melindungi lo aja, begitu juga gue,” ujar Manuel.

Respons Indy Barends atas Unggahan Putranya

Sebagai seorang ibu, Indy Barends menyatakan dukungannya kepada sang anak. Ia menanggapi unggahan Manuel dengan menegaskan komitmennya untuk selalu hadir serta mendampingi. “Manuel…mama selalu ada buat kamu,” tulis Indy.

Ia menambahkan bahwa anak memiliki hak untuk mengemukakan pendapat sebagai bagian dari proses belajar bersama. Selain itu, ia menegaskan bahwa orang tua tidak perlu sungkan untuk mengakui dan meminta maaf apabila menyadari telah berbuat keliru. “Kadang boleh komen kak, supaya jadi pembelajaran buat kita semua. Kadang anak belum paham, sayangnya orang tua dianggap jadi luka. Boleh kok orang tua minta maaf, dan anak juga mau menerima dan berubah,” tuturnya.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *