Kehilangan yang Mendalam
Kepedihan yang luar biasa dirasakan oleh ayah bernama Iskandarudin setelah putranya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, gugur dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kapten Zulmi gugur dalam serangan di Bani Hayyan, Lebanon, pada Senin (30/3/2026), sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Ia tewas bersama Sersan Satu Ichwan dari Kesdam IX Udayana yang berada dalam rombongan kendaraan 1 (Ran1). Dua prajurit lainnya, Lettu Inf. Sulthan dan Praka Deni, mengalami luka-luka. Kendaraan 1 yang ditumpangi keempat korban terkena serangan hingga rusak parah.
Sosok Kapten Zulmi menjadi sorotan publik karena gugur menjelang kepulangannya ke Tanah Air pada Mei 2026 mendatang. Iskandarudin membeberkan sosok Kapten Zulmi yang diharapkan memiliki karir cemerlang di TNI. Kapten Zulmi adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2015. Ia kemudian ditugaskan dalam satuan elite TNI AD dari Grup 2 Kopassus. Iskandarudin menaruh harapan besar pada Kapten Zulmi yang merupakan lulusan Akmil, tidak seperti dirinya. Kapten Zulmi dibayangkan akan mengemban jabatan sebagai pimpinan militer.
“Sosoknya itu anak kebanggaan, masa depan yang bayangan saya sangat cemerlang,” kata Iskandarudin di rumah duka, Kampung Cikendal, Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, Rabu (1/4/2026). Sebelum berangkat ke Lebanon, Kapten Zulmi menjabat sebagai Pasi Ops Grup 2 Kopassus. Ia dikenal sebagai prajurit yang gigih dan selalu berhasil dalam menjalankan tugas. Hal itu pulalah yang membuat Iskandarudin yakin anaknya akan memiliki karir cemerlang di TNI. Apalagi, Kapten Zulmi dikenal sebagai pribadi yang baik oleh kawan di militer.
“Dari Akmil tugasnya selalu berhasil, di mata anggota dan rekannya di kenal orang baik, saya merasa dari bawahan, saya sampaikan jadilah pemimpin yang baik yang dikenal oleh anggota,” ujarnya.
Hal yang tak pernah dibayangkan Iskandarudin terjadi pada Senin (30/3/2026). Kapten Zulmi dilaporkan gugur akibat ledakan saat menjalankan tugas misi perdamaian di Lebanon Selatan. Dengan terbata dan raut wajah penuh kesedihan, Iskandar memilih untuk ikhlas terhadap kepergian putra bungsunya. “Saya hampir 40 tahun menjadi anggota TNI, yang belum pernah menduduki jabatan karena dari golongan paling rendah. Alhamdulillah saya mempunyai anak yang akan membuat masa depan terbaik dan menjadi kebanggaan, tapi Allah berkehendak lain. Do’akan anak saya syahid,” tandasnya.
Pesan Terakhir Kapten Zulmi
Iskandarudin masih mengingat dengan jelas komunikasi terakhir dengan sang anak, almarhum Kapten Zulmi Aditya Iskandar pada Senin (30/3/2026). Saat itu, sang almarhum Zulmi menelepon di pagi hari untuk menanyakan kabar sang ayah. “Komunikasi terakhir Senin pagi, komunikasi dari telpon WA, menanyakan kepada saya, assalamu’alaikum pak rencana hari mau kemana,” kata Iskandarudin di rumah duka, Kampung Cikendal, Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, Rabu (1/4/2026). Iskandarudin mengaku tak memiliki firasat buruk terhadap nasib anaknya yang tengah menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Komunikasi berjalan normal, layaknya sang anak yang tengah memastikan keadaan ayahnya.
“Saya sampai kan mau ke cirebon, kebetulan saudara istri ada yang meninggal, dia bilang kalau berangkat ada yang temeni karena umur saya (sudah tua), bawa teman,” kata Iskandarudin. Ayah dua anak itu tidak menyangka sambungan telepon tersebut menjadi komunikasi terakhir. Usai pulang dari Cirebon, Iskandarudin mengaku sudah tidak bisa menghubungi almarhum Kapten Zulmi yang kemudian dilaporkan gugur akibat ledakan di Lebanon Selatan. “Setelah pulang dari Cirebon sudah tidak ada kontak,” ujarnya.
Gugur di Lebanon
Tiga prajurit TNI gugur dalam tugas misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Satu dari tiga prajurit TNI tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar. Dia meninggal dunia akibat serangan yang dilancarkan pasukan Israel pada Senin (30/3/2026). Dalam serangan itu, Sertu Muhammad Nur Ichwan juga meninggal dunia. Pada serangan Israel sebelumnya, Minggu (29/3), Praka Farizol Rhomadhon meninggal dunia akibat ledakan proyektik di salah satu pos Indonesia di Desa Adchit Al Qusayr.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











