Tragedi Penyerangan terhadap Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara
Tragedi penyerangan yang menimpa Agrapinus Rumatora, atau dikenal sebagai Nus Kei, Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Minggu (19/4/2026) memicu kehebohan di kalangan masyarakat. Insiden ini terjadi saat korban tiba dari Jakarta dan berada di area pintu keluar bandara.
Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Rositah Umasugi, menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi sesaat setelah Nus Kei tiba dari ibu kota. “Kejadiannya itu terjadi di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun,” ujar Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi pada hari yang sama.
Profil Nus Kei
Agrapinus Rumatora, atau Nus Kei, kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara. Sebelumnya, ia dikenal sebagai tokoh Maluku yang tinggal di Jakarta. Nama Nus Kei memiliki hubungan dengan John Kei, seorang pemimpin kelompok preman. Ia merupakan paman kandung dari John Kei. Keduanya berasal dari etnik Kei, kelompok masyarakat yang tinggal di Kepulauan Kei. Komunitas ini tersebar di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, dengan jumlah penduduk sekitar 219.000 jiwa pada 2022.
Meski memiliki hubungan darah antara paman dan keponakan, keduanya terlibat dalam perselisihan besar yang berujung pada hilangnya nyawa. Bentrok terjadi di Tangerang pada 2020 dan Bekasi pada 2023. Pada Juni 2020, anak buah John Kei menyerang kelompok Nus Kei di Kosambi, Cengkareng. Selain itu, mereka merusak rumah Nus Kei di Green Lake City, Tangerang. Satu anggota kelompok Nus Kei tewas dalam insiden tersebut.
Bentrok juga terjadi pada 2023 di Bekasi, yang dipicu oleh dendam lama dan masalah di Maluku Tenggara. Seorang anggota kelompok Nus Kei tewas tertembak di kepala.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa konflik antara John Kei dan Nus Kei bermotif masalah pribadi terkait pembagian hasil penjualan tanah yang digunakan untuk RSUD Haulussy di Ambon, Maluku. Konflik dipicu oleh ketidakpuasan terkait pembagian uang hasil penjualan tanah, yang berlanjut menjadi saling ancam.
Namun, John Kei membantah bahwa Nus Kei adalah pamannya. Ia mengklaim bahwa Nus adalah anak buahnya yang dibawa ke Jakarta dari Maluku. Hal ini disampaikan John Kei di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada 19 Oktober 2020 silam.
Menurut John Kei, pernyataan Nus Kei di media soal penyebab perselisihannya juga bohong. Ia mengatakan akar permasalahan dengan Nus Kei adalah utang sebesar Rp 1 miliar. Saat masih mendekam di Rutan Salemba, John Kei mengaku didatangi Nus Kei yang mengajukan pinjaman Rp 1 miliar. Nus Kei menjanjikan akan membayar utangnya sebesar Rp 2 miliar dalam waktu 6 bulan.
Namun setelah dipinjamkan uang tersebut, John Kei mengatakan Nus Kei tak pernah lagi membesuknya di penjara. Bahkan sampai ia bebas bersyarat pada Desember 2019, sosok Nus Kei tak pernah menjenguknya. John Kei akhirnya mengutus anak buahnya untuk menagih utang tersebut, namun hasilnya nihil.
Terkait penyerangan rumah Nus Kei, John Kei mengatakan itu merupakan salah satu cara pihaknya menagih utang. Namun, ia menampik memerintahkan pembunuhan terhadap Yustus Corwing Rahakbau, orang dekat Nus Kei.
Karier Politik Nus Kei
Di bidang politik, Nus Kei diketahui pernah mendapatkan surat tugas dari Partai Golkar untuk mengikuti kontestasi Pilkada di Maluku Tenggara pada 2024. “Agrapinus Rumatora sendiri telah mendaftar di Partai Golkar dan sejak empat bulan lalu telah mengantongi surat tugas dari DPP, untuk itu beliau sementara berkoordinasi dan melakukan pendekatan dengan beberapa partai lainnya,” ucap perwakilan tim pemenangan Paulus Kameubun, dikutip dari TribunAmbon, Sabtu (18/5/2024).
Kronologi Penikaman
Ketua DPP Partai Golkar Dave Laksono mengatakan, Nus Kei awalnya tiba di Bandara Karel Sadsuitubun sekitar pukul 10.45 WIT. Ia terbang dari Jakarta menggunakan pesawat Lion Air JT880 dari Bandara Pattimura, Ambon. “Pukul 10.45 WIT, pesawat Lion Air JT880 (yang ditumpangi Nus Kei) landing di Bandara Udara Karel Sadsuitubun dari Bandara Pattimura Ambon,” ujarnya, Minggu.
Korban kemudian bergegas menuju pintu keluar untuk menemui keluarga yang sudah menunggu. Tanpa diduga, seorang pria yang mengenakan masker dan jaket merah langsung menyerang korban. Korban mengalami empat luka tusuk di beberapa bagian tubuh akibat serangan pelaku. “Selang beberapa menit, datang seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan menggunakan masker langsung menikam Saudara Almarhum Agrapinus Rumatora,” kata Dave.
“Mengalami empat luka tusuk di bagian dada kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang,” katanya. Nus Kei sudah berusaha menyelamatkan diri sebelum akhirnya terjatuh di area pintu keluar bandara dan mendapat pertolongan. “Saudara Agrapinus Rumatora sempat lari ke dalam bandara namun terjatuh di pintu keluar bandara dan sempat mendapat pertolongan dari petugas bandara Karel Sadsuitubun,” kata Dave.
“Pukul 11.44 WIT, Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal dunia oleh dr. Irene Ubro akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital,” ujar Dave. Sejauh ini, polisi menyatakan telah mengamankan dua orang yang diduga sebagai pelaku. Keduanya berinisial HR (28) dan FU (36).











