JAKARTA – Ketua DPC Peradi Jakarta Barat Suhendra Asido Hutabarat menyampaikan bahwa Surat Keputusan Mahkamah Agung (SKMA) Nomor 73 Tahun 2015 telah memicu munculnya advokat yang sering berganti organisasi. Ia menilai, pihak yang menjadi korban adalah masyarakat pencari keadilan.
“Ini yang menjadi korban adalah masyarakat pencari keadilan,” ujar dia dalam pembukaan PKPA Angkatan XXVIII Peradi Jakbar-Ubhara Jaya pada Jumat (10/4).
SKMA tersebut mengizinkan banyak organisasi advokat (OA) di luar Peradi untuk mengajukan penyumpahan ke pengadilan tinggi dan pengangkatan advokat, yang sebelumnya merupakan kewenangan Peradi selaku satu-satunya organisasi advokat sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
Dampak dari hal ini adalah, jika seorang advokat dipecat karena melanggar kode etik di satu OA, ia bisa bergabung dengan OA lain dan menjadi “advokat kutu loncat”.
“Nanti kira-kira dia mau dipecat lagi, dia buat organisasi advokat sendiri, enggak ada yang bisa memecat karena dia yang punya organisasi advokat,” ujarnya.
Asido menegaskan bahwa SKMA tersebut mengacaukan standar kualitas calon advokat dan merugikan masyarakat pencari keadilan.
“Salah advice pembelaan hukumnya. Yang ada sebenarnya, penyakitnya cuma ringan, akhirnya jadi berat, malah gara-gara salah interpretasi pasal misalnya, pembelaannya salah. Malah jadi (klien) koma, malah jadi mati. Padahal tadinya sebenarnya masalahnya enggak terlalu sulit untuk diselesaikan,” kata dia.
Menurutnya, SKMA itu merupakan pembangkangan terhadap UU Advokat. “SKMA 073 Tahun 2015 itu disobidience konstitusi,” ucapnya.
Peradi di bawah kepemimpinan Otto Hasibuan termasuk DPC Peradi Jakbar, sangat menjaga kualitas calon advokat dengan menyelenggarakan PKPA berkualitas sesuai UU Advokat.
“Pemateri yang terbaik, ada ketua MK, beberapa hakim agung, dari DPN, kemudian dari dosen, akademisi, praktisi. Kami ingin dari PKPA DPC Jakarta Barat ini menjadi advokat yang berkualitas, profesional, dan memiliki integritas,” katanya.
Untuk menjaga profesionalisme, kualitas, dan integritas serta kode etik advokat, lanjut Asido, pihaknya terus menggaungkan bahwa sistem OA di Indonesia adalah wadah tunggal (single bar).
“Karena memang menurut Undang-Undang Advokat hanya ada satu organisasi advokat,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum DPN Peradi Sutrisno yang membuka PKPA mewakili Otto Hasibuan, menegaskan para peserta telah memilih PKPA yang tepat sesuai UU Advokat.
“Itu berupa satu sikap awal bahwa Bapak/Ibu akan masuk ke profesi advokat ini dengan cara yang benar, melalui proses PKPA, melalui ujian profesi advokat insya Allah akan diadakan pada 11 Juli 2026,” katanya.
Dekan Fakultas Hukum Ubhara Jaya, Prof Laksanto Utomo menyampaikan peran advokat sangat penting dan strategis dalam penegakan hukum.
“Memastikan keadilan subtantif bagi setiap warga negara, terutama tadi disebut oleh Ketua, Pak Asido, bahwa ini Bapak/Ibu nanti dipersiapkan untuk memberikan pembelaan hukum,” katanya.
Ketua Panitia PKPA Angkatan XXVIII, Fortuna Alvariza melaporkan bahwa PKPA yang dihelat secara hybrid ini diikuti oleh 169 orang peserta, terdiri 68 peserta online dan 101 peserta offline.
“Diselenggarakan selama tiga pekan, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, sehingga total kami 9 hari, dari 10 sampai dengan 26 April 2026,” katanya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











