My WordPress Blog

Penyidik Temukan 2 Bukti Kunci Kasus Kematian Dosen Dwi, AKBP Basuki Tidak Bisa Berkutik

Kasus Kematian Dosen Muda di Semarang: Bukti Penting dan Perilaku Mencurigakan

Kasus kematian Dwinanda Linchia Levi, seorang dosen muda dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, semakin memicu kecurigaan setelah polisi mengamankan dua bukti penting yang diduga terkait dengan kematian korban. Dua barang bukti tersebut adalah laptop dan HP milik Dwi. Namun, proses pengambilan barang bukti ini disertai dengan tindakan yang mencurigakan dari saksi kunci, yaitu AKBP Basuki.

Bukti Penting yang Diamankan

Dari hasil penyelidikan, polisi berhasil menemukan dua bukti penting yang diyakini memiliki kaitan dengan kematian Dwi. Barang bukti tersebut berupa laptop dan HP milik korban. Namun, saat tim penyidik ingin membawa barang tersebut, AKBP Basuki sempat menghalangi. Ia bahkan meminta untuk mengamankan laptop dan HP korban sendiri.

Menurut pengacara keluarga korban, Zainal Abidin Petir, permintaan itu ditolak oleh tim penyidik Inafis Polda Jateng. “Ada (bukti penting berupa) laptop. Laptop itu kan tadinya mau diminta oleh AKBP (Basuki), oh enggak bisa, ini untuk barang bukti,” ujarnya. Selain itu, Basuki juga meminta HP korban, namun permintaan tersebut ditolak.

Perilaku Tidak Wajar AKBP Basuki

Selain tindakan menghalangi pengambilan barang bukti, perilaku AKBP Basuki saat pemeriksaan di TKP juga menjadi sorotan. Menurut Zainal Abidin Petir, Basuki tampak grogi dan panik. Hal ini terlihat dari cara ia berbicara dengan penyidik, yang sering menggunakan kata “ndan” sebagai bentuk hormat. Menurut Petir, hal tersebut menunjukkan bahwa Basuki sedang dalam keadaan tidak tenang.

“Kenapa selalu ngomong siap ndan? pasti dalam keadaan panik. Nah keadaan panik, bingung itu karena ada apa?” tanya Petir. Menurutnya, jika tidak ada sesuatu yang disembunyikan, tidak perlu merasa panik dan bingung.

Chat yang Menghebohkan

Selain itu, keluarga juga curiga setelah menerima chat dari AKBP Basuki. Bude korban, Tiwi, mengungkap bahwa Basuki pernah mengirimkan foto-foto kepada keluarga di Purwokerto. Foto-foto tersebut menunjukkan kondisi jasad Dwi yang terdapat bercak darah di paha dan perut. Namun, foto-foto tersebut tiba-tiba dihapus oleh Basuki setelah dikirim.

“Belum sempat foto dan gambar itu disimpan, itu ditarik lagi oleh pengirimnya (oleh Basuki). Belum sempat kesimpan,” ujar Petir. Meskipun begitu, ia menyatakan bahwa banyak barang bukti lain yang kini dibawa oleh polisi.

Penyebab Kematian Dwi

Sementara itu, pihak kepolisian mengungkapkan bahwa penyebab kematian Dwi diduga akibat sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis sementara, Dwi sempat menjalani pengobatan di rumah sakit sebelum meninggal. AKBP Basuki lah yang menemani Dwi berobat ke Rumah Sakit Tlogorejo Semarang pada Minggu (16/11/2025), satu hari sebelum korban tewas.

Dari catatan rekam medis, tensi darah Dwi mencapai 190 mmHg dan kadar gula darahnya mencapai 600 mg/dl. Kapolsek Gajahmungkur AKP Nasoir menyebut bahwa tidak ditemukan tanda kekerasan di jenazah Dwi.

Namun, meskipun penyebab kematian diduga karena sakit, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah ada unsur pidana dalam kasus ini.

Keputusan Keluarga

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap, keluarga korban meminta agar AKBP Basuki diperiksa secara intensif. Mereka percaya bahwa tindakan dan perilaku Basuki selama penyidikan menunjukkan adanya ketidaknormalan yang perlu diungkap lebih lanjut.


Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *