My WordPress Blog

Makan Bersama Teman di Mall

Pengalaman Ngejamu yang Menyenangkan di Acaraki

Beberapa teman mengingatkan saya untuk segera beristirahat setelah meliput sehari semalam. Faktanya, mata baru bisa terpejam pukul 02.00 dini hari, sudah masuk hari Minggu. Dalam benak, rasanya ingin ngejamu. Tetapi tidak saya temukan tukang jamu di pulau pagi itu.

Iya, selepas meliput festival Reggae di Pulau Untung Jawa. Saya tiba di dermaga Marina sekitar pukul 09.00 dan mendadak ingin mampir ke AEON Tanjung Barat, ngajak kak Ganesh seorang teman dan kebetulan dia bisa. Yaudah gaskeun sajalah. Toh Senin saya sudah harus berjibaku dengan kerjaan dan segala kemacetan serta kepadatan KRL.

Tiba di Mall AEON Tanjung Barat masih pukul 10.30 WIB dan teman sedang dalam perjalanan. Yasudah saya langsung menepi ke Acaraki. Acaraki itu kalau dalam kondisi sekarang seperti seorang barista kopi bedanya ia meracik jamu.

Pas saya samperin staf Acaraki, dia bertanya mau jamu apa? Beras kencur atau kunyit asam. Lantas saya pesan jamu beras kencur hangat. Ia dengan cekatan menyiapkan jamu yang saya pesan. Sambil mempersilakan duduk dan “bayarnya nanti setelah habis minum jamu kak” ujarnya ramah.

Niat ngejamu pun terlaksana. Beberapa menit kemudian, seporsi jamu beras kencur hangat, penanda tunggu beberapa menit, sebuah gelas lengkap dengan tatakan dan gula sachet serta sendok tersedia lengkap.

“Kak, jamu baru bisa di minum setelah jam pasir ini habis ya. Selama tiga menit nunggu nya” ujar ia menjelaskan. Memang betul, di alat penyajian jamu tampak jelas ada part untuk saya tekan ke bawah, alat itu berfungsi jika jam pasir sudah habis. Tiga menit saya menunggu.

Masa kini, ngejamu saja sudah semenarik itu ya. Bukan hanya sekadar ngejamu tetapi dikasih pengalaman menarik lewat alat yang disiapkan dan cara meracik jamu, lalu tempat minum jamu nya pun nyaman serta estetik.

Acaraki sendiri punya beberapa cabang. Yang paling spesial itu memang di Jakarta Kota, kawasan Kota Tua di gedung kertaniaga. Lokasi vintage, kemudian menyediakan beberapa makanan berat ala Nusantara, tentu menjadi semakin memikat.

Untuk Acaraki AEON Tanjung Barat, tempatnya tidak terlalu luas, tetapi mudah di temui karena di lantai dasar berdekatan dengan pintu masuk dan uniknya bantal-bantal di setiap bangku bermotif batik. Autentik dan menarik.

Seporsi jamu beras kencur ditambah PPN masih dibawah lima puluh ribuan. Mungkin ini terasa sangat lumayan mahal jika dibandingkan dengan ngejamu di ibu penjual jamu gendongan. Lantas kenapa saya rela mengeluarkan uang sedemikian di Acaraki?

Lokasinya mudah disambangi, sekalian ketemuan sama teman, sesekali refreshing mudah ke mall, Acaraki jamu yang di sajikan berbeda, menarik dan kekinian serta tetap mempertahankan rasa jamu yang khas. Jamu beras kencur, hangat ke badan, apalagi saya sudah begadang beberapa hari dan kondisinya sedang batuk serta sakit badan.

Kalau cari jamu gendong, jarang ditemukan. Di daerah rumah yang masih nggak terlalu Kota pun, hanya sesekali ketemu. Jadi gapapa banget sesekali cobain ngejamu beda suasana. Meski harus mengeluarkan uang agak lebih, tetapi worth it bangetlah dengan yang didapatkan.

Sekitar tiga puluh menit saya menghabiskan jamu beras kencur. Selesai ngejamu, saya mau ketemuan dengan teman sambil menemani ia sarapan di salah satu kedai.

Kami bertemu di kedai bernuansa toska dan teman sudah mulai memesan makanan serta minuman. Lantas saya ditawari untuk memesan juga. Saya mengecek beberapa makanan dan tertarik sama waffle strawberry serta artisan tea chamomolie hangat.

Kedua menu itu saya pesan, dengan pertimbangan kalau makan makanan berat, belum waktunya saya makan siang dan saya butuh minuman hangat agar tenggorokan saya lega.

Teman memilih spaghetti, disertai minuman lemon honey yang tampak menyegarkan. Sebagai orang yang sering masak di rumah, untuk mendapatkan makanan lebih berasa dan sesuai selera sambil menghemat pengeluaran, memang momen makan di luar apalagi di mall jadi sesuatu yang menantang.

Satu sisi, ini cara refreshing rasa. Sisi lain harus siap mengeluarkan biaya agak lebih. Apalagi kalau resto mengenakan PPN dan biaya service rasanya emang lumayan. Sesekali makan di mall bareng teman sambil saling bertukar kabar, silaturahmi positif rasanya gapapa bangetlah. Meski nggak harus di normalisasi juga sih, mesti sadar kondisi kantong hahaha.

Makanan dan minuman yang kami pesan so far so good. Rasanya oke, porsinya pun mengenyangkan. Saya pun jadi tau gimana kabar teman, apa kesibukannya. Maklum kami ketemu nya beberapa bulan sekali saja. Alhamdulillah ia ngajarnya lancar, muridnya sudah mulai libur tetapi masih ada saja yang minta kelas. Rezeki memang begitu, tetap ada asal diusahakan. Teman saya memang seorang edupreneur.

Selalu salut dengan dengan pola pikir dan obrolan berfaedah nya. Meski jarang bertemu, sesekali bertukar kabar, rasanya tetap jadi teman yang akrab dan menyenangkan.

Makan bareng, ngobrol bareng setelah saya ngejamu sendiri. Rasanya tuh refresh sejenak. Ternyata pertemuan kami yang jarang bikin ide tambahan, buat nonton film Agak Laen yang belum sempat kami tonton.

Cerita terkait film Agak Laen akan saya tulis di artikel berikutnya ya. Supaya tidak terlalu panjang lebar. Intinya sih dalam satu Minggu sekali perlu banget ketemu sama teman dan bertukar kabar langsung sambil makan bareng. Semacam cara merawat pertemanan sambil melepas segala penat dalam kehidupan yang fana ini.

Kami punya keresahan yang serupa, terutama tentang kondisi saudara-saudari di Sumatera yang secara update dari media kredible terus bertambah korban meninggal, korban hilang dan beberapa titik masih terisolir. Mari terus bergerak dan bersuara, membantu mereka agar segera pulih dan bangkit lagi.

Gimana hari Minggu kemarin sobat kompasiner? Ada cerita menarik apa nih? Yuk sini sharing di komentar.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *