My WordPress Blog

Saat Kerja dan Penyembuhan Bersatu di Lombok

Pengalaman yang Mengubah Perspektif

Aku tiba di The Jayakarta Resort and Spa Lombok dengan pikiran yang penuh sejak pagi. Penerbangan pendek sebenarnya tidak melelahkan, tetapi pikiranku seperti sudah bekerja bahkan sebelum kakiku benar-benar menapak tempat tujuan. Daftar kebutuhan acara, detail teknis yang harus dipastikan, dan bayangan kemungkinan kecil yang perlu diantisipasi memenuhi benakku sejak turun dari pesawat.

Aku datang sebagai EO dan biasanya mode kerjaku langsung menyala begitu tiba di lokasi. Namun, langkahku melambat tanpa kusadari ketika memasuki lobi. Ada sesuatu yang berbeda dari cara staf menyapa. Keramahan mereka terasa wajar. Tidak ada senyum kaku yang dipaksakan. Sapaan mereka sederhana, tetapi terasa tulus dan menenangkan.

Ada sesuatu yang perlahan menurunkan ketegangan di dadaku, seolah ada suara pelan di dalam diriku yang berkata: tenang dulu. Aku menyadari, ini pertama kalinya sejak mendarat, aku benar-benar mengizinkan diriku untuk sejenak menikmati momen.

Setelah check in, aku mulai menyusuri area untuk melihat venue acara. Biasanya, langkah-langkahku cepat dan terukur saat melakukan ini. Anehnya, kali itu aku tidak bisa mengabaikan suasana sekitar. Ada angin laut yang masuk dari celah pepohonan, ada warna hijau yang tidak hanya menjadi background, tetapi benar-benar hidup. Bahkan udara di sini terasa lebih ramah pada napas yang sering terburu-buru.

Ketika waktunya makan siang tiba, aku duduk di area yang langsung menghadap pantai. Sejujurnya, awalnya aku hanya ingin makan cepat lalu kembali bekerja. Namun, duduk di sana ternyata membuat rencana itu mengendur. Deburan ombak terdengar begitu jelas, tetapi tidak berisik. Seperti musik latar yang tanpa diminta langsung pas dengan suasana hati.

Pohon-pohon palem bergoyang lembut, menari pelan ditiup angin siang yang mulai condong ke sore. Daun-daunnya saling bersentuhan, menghasilkan suara kecil yang entah mengapa membuatku merasa aman. Di saat itu aku mulai menyadari sesuatu. Mungkin tempat ini bukan hanya lokasi event, melainkan jeda yang hadir tanpa kusadari. Bukan liburan penuh, hanya ruang kecil untuk bernapas di sela kesibukan.

Pengalaman Meditasi Senja

Sore hari menjadi waktu paling berkesan. Kami memiliki sesi Twilight Humming, meditasi senja yang dilakukan di tepi pantai. Awalnya aku hanya berniat melihat sebentar sebelum kembali ke urusan event, tetapi ujungnya aku larut bersama peserta lain. Matahari mulai turun perlahan. Warna langit berubah dari biru ke jingga keemasan, lalu sedikit demi sedikit menjadi temaram. Angin menyentuh kulit seperti mengusap pelan.

Suara ombak pun menjadi ritme yang membimbing napas. Tidak ada instruksi yang kaku. Tidak ada keharusan untuk fokus. Kami hanya diminta untuk hadir. Hanya itu. Saat memejamkan mata, ada rasa yang sulit dijelaskan. Seperti tubuhku sedang menurunkan beban yang tidak kusadari aku bawa.

Seolah alam menyediakan ruang kosong dan aku diizinkan tinggal di sana sebentar. Sesederhana itu, tetapi efeknya terasa sangat kuat. Untuk beberapa menit, aku tidak memikirkan rundown acara, siapa yang harus kutemui, atau apa yang perlu diantisipasi. Yang ada hanya desiran angin, bunyi ombak, dan detak jantung yang akhirnya bergerak lebih pelan.

Ketika matahari akhirnya tenggelam, aku membuka mata dengan perasaan yang jarang kutemukan dalam keseharianku. Tenang, tetapi bukan tenang yang dibuat-buat. Lebih seperti tenang yang tumbuh dari dalam, dari tubuh yang akhirnya dipercaya untuk beristirahat sebentar.

Perubahan dalam Pola Kerja

Di malam hari aku kembali bekerja seperti biasa. Mengecek ulang persiapan, berbicara dengan tim, memastikan detail tidak ada yang terlewat. Hanya saya, ada perbedaan kecil dalam cara aku melakukannya. Aku tidak lagi terburu-buru, tidak lagi terengah-engah oleh ritme kerja EO yang biasanya menegangkan.

Ada sesuatu dalam diriku yang lebih lembut, lebih sabar. Malam itu aku tidur dengan pikiran yang lebih rapi, seolah sebagian beban sudah diletakkan di tempatnya. Pagi ini, begitu kusibakkan pintu kamar, dunia seperti sudah lebih dulu bangun dan menungguku keluar. Udara laut menyambutku dengan cara yang sederhana, penuh kelembutan—hembusan angin membawa aroma asin, iringan debur ombak yang datang dan pergi seperti napas panjang yang menenangkan.

Dari kejauhan terdengar cericit burung, berpadu dengan suara serangga yang entah apa namanya, tetapi ritmenya begitu lembut dan menyatu, seperti latar alami yang menemani pagiku. Aku melangkah keluar, membiarkan kaki berjalan tanpa tujuan. Hanya ingin menyapa pagi sebelum tenggelam dalam tugas.

Keajaiban di Setiap Detik

Langit masih pucat, tetapi matahari mulai mengirim cahaya keemasan yang memantul di permukaan kolam. Segalanya terasa hidup tanpa tergesa. Petugas kebersihan sudah lebih dulu berkeliling. Ada yang menyapu halaman, ada yang membersihkan sisi kolam renang di depan kamarku. Gerakan mereka teratur dan tenang, seolah menjadi bagian dari ritme pagi itu sendiri.

Tidak ada suara keras, hanya gesekan sapu dan percikan kecil air. Kehadiran mereka memberi rasa aman—bahwa tempat ini dirawat oleh tangan-tangan yang memperhatikan detail. Dari arah restoran yang jaraknya tidak jauh, alunan musik tradisional terdengar. Melodinya pelan, mengalir bersama angin laut, melengkapi suara ombak dan kicau burung.

Aku mencoba mengenali sumbernya: entah itu melodi Sasak yang lembut atau instrumen Gus Teja yang menenangkan. Apa pun jenisnya, musik itu hadir bukan untuk pertunjukan, melainkan sebagai iringan pagi yang membuat napas terasa panjang dan lega.

Pengalaman yang Tak Terduga

Di antara tugas dan tanggung jawab yang menunggu, semua terasa seperti hadiah kecil—waktu singkat untuk sekadar merasakan hidup. Rupanya, jeda kecil itu tidak berhenti di hari pertama. Setelah melewati pagi yang tenang, di sela-sela jadwal, aku mendapati sesi lanjutan yang disebut Soul Plan.

Para peserta, termasuk aku yang hanya berniat mampir, diajak duduk di area terbuka berbekal kertas gambar, kuas, dan cat air. Kami diminta menuangkan warna-warna atau bentuk yang muncul dalam benak selama meditasi, menorehkannya secara spontan di atas kertas. Tidak ada keharusan untuk indah.

Menarik sekali melihat goresan spontan yang tercipta. Rasanya seperti mengizinkan tangan untuk bergerak tanpa berpikir, membebaskan energi kreatif yang selama ini tertekan rutinitas. Ini bukan tentang melukis indah, melainkan tentang ekspresi murni.

Aku menyadari, ini bukan berasal dari liburan yang direncanakan, bukan dari itinerary healing, bukan pula dari niat untuk berhenti sejenak. Ia hadir lewat momen-momen kecil yang tidak diminta: sapaan staf yang tulus, debur ombak saat makan siang, palem yang melambai pelan, canda dan tawa para peserta yang layaknya sahabat lama bahkan saudara, hingga senja yang memintaku duduk dan diam.

Aku datang ke sini untuk working. Namun, di antara jadwal, tanggung jawab, dan detail yang harus dijaga, healing itu pelan-pelan menyusup. Tanpa seremoni, tanpa janji besar. Ia tidak menggantikan pekerjaanku, hanya menyatu dengannya.

Mungkin, di situlah maknanya. Bekerja tidak selalu harus menjauhkan kita dari diri sendiri. Di waktu dan tempat tertentu, working dan healing bisa berjalan beriringan, saling mengimbangi. Menyatu, tanpa perlu dipaksakan. Seperti cara Lombok menyapaku kali ini.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *