My WordPress Blog

Suriani Ditipu Rp75 Juta oleh ASN, 11 Tahun Tak Jadi PNS

Penipuan CPNS dan Akpol yang Mengakibatkan Kerugian Besar

Beberapa kasus penipuan terkait penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan akademi kepolisian (Akpol) telah menimpa banyak korban. Dua contoh kasus yang cukup mengerikan adalah kisah Suriani Putri, seorang ibu rumah tangga yang ditipu oleh oknum ASN, serta Dwi Purwanto, yang menjadi korban modus penipuan jalur khusus masuk Akpol.

Kasus Penipuan CPNS di Kabupaten Asahan

Suriani Putri mengaku ditipu oleh oknum ASN berinisial NM pada tahun 2014 silam. Modus penipuan ini dilakukan dengan mengaku bisa memasukkan dirinya sebagai CPNS sisipan di Pemerintah Kabupaten Asahan. Ia mengatakan bahwa uang sebesar Rp75 juta diberikan secara bertahap, yaitu awalnya sebesar Rp30 juta, kemudian tambahan Rp45 juta setelah satu minggu.

“Awalnya saya dibilang sama teman ASN ini, ada orang yang mencari orang mau masuk PNS melalui sisipan,” kata Suriani saat dijumpai Tribun Medan di kediamannya.

Setelah berkompromi dengan keluarga, Suriani mendapatkan restu untuk mencoba keberuntungan. Namun, hingga belasan tahun berlalu, uang tersebut tidak kunjung dikembalikan. Suriani mengaku masih menunggu itikad baik dari NM, meski ia menyatakan bahwa jika tidak ada tindakan lanjut, ia akan membuat laporan ke polisi.

Kasus Penipuan Akpol yang Menyebabkan Kerugian Miliaran Rupiah

Kasus lainnya terjadi pada Dwi Purwanto (42), warga Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Ia menjadi korban penipuan modus jalur khusus masuk Akpol. Akibatnya, Dwi mengalami kerugian sebesar Rp2,65 miliar.

Kasus bermula ketika Dwi menerima pesan dari Aipda F alias Rohim, anggota Polres Pekalongan. Rohim menawarkan bantuan agar anak Dwi bisa lolos Akpol lewat jalur istimewa yang disebutnya sebagai “kuota Kapolri”. Dwi awalnya menolak, tetapi setelah diyakinkan oleh Rohim dan rekannya Alex, ia akhirnya menyerahkan uang sebesar Rp500 juta sebagai tanda jadi.

Uang tambahan sebesar Rp1,5 miliar diminta pada Januari 2025 untuk alasan “proses administrasi di Jakarta”. Dwi kemudian dipertemukan dengan Agung, yang mengaku sebagai adik dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam pertemuan tersebut, Agung memperkuat keyakinan Dwi bahwa anaknya akan “diperjuangkan langsung” oleh pihak Mabes Polri.

Atas bujukan ini, Dwi mentransfer uang sebanyak empat kali ke rekening Joko dengan total Rp650 juta. Namun, setelah anaknya gagal dalam seleksi tahap pertama, para pelaku saling melempar tanggung jawab.

“Totalnya semua Rp2,65 miliar. Dua miliar diserahkan tunai ke Alex, sisanya ke rekening Joko. Saya langsung klarifikasi, dan mereka berjanji akan mengembalikan uang. Tapi sampai sekarang belum ada itikad baik,” kata Dwi.

Dwi mengaku kecewa karena sudah mengenal Rohim sejak 2011, dan tak menyangka orang yang dikenalnya bisa menipunya. Ia berharap laporan yang ia buat bisa ditindaklanjuti.

Penanganan Kasus oleh Pihak Berwenang

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan terhadap laporan tersebut. “Ini sedang saya cek dulu ke Krimum dan Propam. Nanti kalau sudah lengkap saya kabari,” katanya.

Kasus-kasus seperti ini menunjukkan betapa rentannya sistem perekrutan pegawai negeri dan akademi kepolisian terhadap tindakan penipuan. Korban sering kali merasa tidak memiliki alternatif lain selain menyerahkan uang besar demi harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil. Namun, hasilnya justru menimbulkan kerugian besar dan kekecewaan yang tidak tergantikan.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *