My WordPress Blog

Hampir Tujuh Bulan, Pembunuhan Resma Reta di Bengkulu Belum Terungkap

Kasus Pembunuhan Resma Reta Masih Membuat Keluarga dan Masyarakat Gelisah

Hampir tujuh bulan berlalu sejak peristiwa pembunuhan sadis yang menewaskan Resma Reta (23), warga RT 2 RW 1 Kelurahan Dwi Tunggal, Kecamatan Curup. Namun hingga kini, kasus yang merenggut nyawa perempuan muda tersebut masih menyisakan tanda tanya besar.

Resma Reta ditemukan meninggal dunia pada 10 Juni 2025 dalam kondisi mengenaskan. Sejak saat itu, pihak kepolisian melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik pembunuhan tersebut. Meski demikian, hingga akhir tahun 2025, belum ada pengumuman resmi terkait terungkapnya kasus tersebut. Kondisi ini membuat keluarga korban terus diliputi kegelisahan.

Bahkan, masyarakat juga turut mempertanyakan kinerja aparat kepolisian. Mereka berharap aparat penegak hukum dapat segera memberikan kepastian hukum atas kematian Resma. Kapolres Rejang Lebong, AKBP Florentus Situngkir, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dalam menangani setiap kasus tindak pidana yang terjadi di wilayah hukumnya, termasuk kasus pembunuhan Resma Reta.

“Tentunya semua kasus tindak pidana kami tangani semaksimal mungkin. Selama saya bertugas di sini, ada beberapa kasus pembunuhan, sebagian sudah berhasil diungkap. Namun untuk kasus ini memang masih dalam proses, penanganan lidik tetap kami laksanakan,” kata Kapolres kepada media pada Rabu (31/12/2025).

Ia memastikan bahwa proses penyelidikan terhadap kasus Resma Reta masih terus berjalan. Pihaknya menegaskan kasus ini akan terus diusut hingga dapat terungkap dan pelaku ditemukan. “Pasti akan kami kejar terus sampai terungkap. Secara pemeriksaan dan proses, penanganan kasus ini tetap berjalan hingga saat ini,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong, AKP Reno Wijaya. Ia mengakui bahwa pengungkapan kasus tersebut memang membutuhkan waktu panjang karena kompleksitas perkara. Hal itu disebabkan minimnya alat bukti serta sidik jari di lokasi kejadian saat itu.

“Penanganan kasus Resma Reta memang sudah berjalan hampir tujuh bulan. Untuk membongkar suatu tindak pidana, kami bekerja secara bertahap dan mendalam,” jelas Kasat. Ia juga menyebutkan bahwa pihak penyidik secara rutin menjalin komunikasi dengan keluarga korban.

“Dalam beberapa bulan terakhir, kami setiap minggu selalu berkomunikasi dengan pihak keluarga. Untuk penanganannya, percayalah dan yakin, kami serius,” ujarnya.

Menurut AKP Reno, kasus tersebut tidak akan dihentikan sebelum pelaku berhasil diungkap. Ia mengakui terdapat sejumlah kendala yang membuat kasus ini sulit terungkap dengan cepat. Namun terkait dugaan-dugaan yang berkembang, beberapa di antaranya telah dikantongi dan terus dikembangkan.

“Kasus ini belum akan selesai sebelum kebenarannya terungkap. Memang ada sejumlah kendala yang menjadi pekerjaan rumah bagi kami, namun proses tetap berjalan,” katanya.

Kejanggalan dan Dugaan dari Keluarga Korban

Sementara itu, Mungil, ayah kandung almarhumah Resma Reta, tidak mampu menyembunyikan rasa kecewa dan kesedihannya. Ia mengaku semakin cemas seiring berjalannya waktu tanpa kejelasan hukum atas kematian anaknya.

“Kami sebagai keluarga semakin bingung harus berbuat apa. Kami hanya bisa berharap penuh kepada pihak kepolisian,” ungkapnya dengan nada lirih. Keluarga besar Resma Reta berharap kasus tragis yang menimpa putri mereka dapat segera terungkap, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan.

“Kami belum bisa tidur nyenyak sampai sekarang sebelum pelakunya tertangkap. Kami masih terbayang-bayang bahwa anak kami belum mendapatkan keadilannya,” tutup Mungil.

Sosok Pria Misterius

Sementara itu, keluarga Resma Reta sempat melaporkan adanya sosok pria misterius yang kerap mondar-mandir di sekitar rumah dan makam korban. Dugaan keluarga, pelaku kemungkinan orang yang dikenal Reta. Namun, rekaman CCTV buram dan identitas pria tersebut belum terungkap, sehingga misteri di balik kematian tragis gadis ini semakin bertambah.

Keluarga korban merasa gelisah setelah muncul kesaksian tentang sosok misterius tersebut. Kedua orang tua Reta, Mungil dan Eli, mengatakan pelaku kemungkinan besar orang yang dikenal korban. “Tidak mungkin Reta membuka pintu untuk orang asing. Bahkan terhadap saudara yang tidak terlalu dekat, dia sering enggan membukakan pintu,” ujar Eli.

Karena itu, keluarga menduga pelaku bisa saja teman atau kenalan Reta sendiri. Namun, mereka heran karena penyidik belum menelusuri hal itu lebih dalam, melainkan lebih banyak memeriksa teman-teman kakaknya. Beberapa kejanggalan lain membuat keluarga semakin curiga.

Dari rekaman CCTV, terlihat sosok mencurigakan bolak-balik di sekitar rumah korban. Eli juga menjelaskan ciri-ciri pria tersebut. Pria itu diduga memakai celana milik kakak Reta yang hilang. Selain itu, dia mengenakan pakaian hitam dan mengendarai motor berwarna merah. Sayangnya, rekaman CCTV buram sehingga wajah maupun nomor kendaraan tidak terlihat jelas.

Terlihat pula perbedaan celana yang dikenakan saat datang dan saat pergi. “Iya, tapi kakaknya juga tidak kenal siapa orang itu. Rekaman CCTV ada di beberapa titik, tapi memang tidak jelas,” lanjut Eli.

Kejanggalan lain terjadi di makam Reta. Suatu ketika, seorang pria tak dikenal terlihat mondar-mandir di sekitar makam. “Ada orang yang seperti mencari sesuatu di makam. Saat ditanya pak imam masjid, dia langsung lari. Beberapa hari kemudian, makam anak kami sempat ditemukan berlubang. Pria itu pun terlihat lagi. Itu sudah kami laporkan ke polisi, tapi belum ada kabar,” ungkap Mungil.

Selain itu, keluarga juga menemukan percakapan terakhir Reta yang dianggap janggal. Dalam pesan singkat, Reta menulis kepada seseorang, “Ado abang samo kawan-kawannyo.” Padahal, selama ini Reta tidak pernah menyebut kakaknya dengan panggilan “abang”, melainkan selalu “kakak”.

Penggunaan Metode Digital Forensik

Dalam pengusutan kasus ini, penyidik mengandalkan metode digital forensik untuk menelusuri jejak pelaku. Meski demikian, motif pembunuhan masih menjadi teka-teki. Polisi memastikan pembunuhan tersebut bukan merupakan aksi pencurian dengan kekerasan (curas), karena sebagian besar barang berharga milik korban tidak diambil.

Pelaku hanya membawa kabur satu unit laptop dan sebuah dompet berisi kartu identitas serta ATM milik korban. Hal ini memperkuat dugaan bahwa motif pembunuhan berkaitan dengan dendam atau persoalan pribadi, bukan murni perampokan.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong, Iptu Reno Wijaya, S.E., M.H., melalui Kanit Pidum Polres Rejang Lebong, Ipda Andhar Wicaksono, S.Tr.K., menyampaikan bahwa penyelidikan masih terus dilakukan oleh tim kepolisian. Namun, sejauh ini belum ada titik terang terkait identitas pelaku maupun motif pembunuhan.

“Untuk sejauh ini motifnya juga belum bisa dipastikan. Terkait permasalahan pribadi pun tidak ada fakta yang didapat, termasuk dari riwayat chat maupun email di HP korban,” kata Ipda Andhar saat dikonfirmasi, Rabu (30/7/2025) sore.

Pihak kepolisian, lanjut Andhar, masih terus berupaya keras melakukan digital forensik terhadap perangkat milik korban. Termasuk ponsel dan akun media sosialnya, guna mencari petunjuk baru yang bisa mengarah pada pelaku, serta mencari petunjuk-petunjuk lain yang mengarah pada dugaan motif yang ada.

“Namun yang jelas, kita bisa pastikan ini bukan curas. Tapi untuk motif pastinya karena apa, kita belum dapat sampaikan karena masih diselidiki,” lanjut Ipda Andhar.

Sayangnya, keterbatasan alat bukti menjadi tantangan utama dalam pengungkapan kasus ini. Salah satunya adalah minimnya rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dapat mendukung proses penyelidikan. Begitu pula keterangan saksi, baik yang berada di sekitar lokasi kejadian maupun dari tempat lainnya.

“Rekaman CCTV yang kita dapat kondisinya blur dan tidak ada yang mengarah langsung ke rumah korban,” jelasnya.

Meski demikian, pihak kepolisian memastikan tidak akan menyerah dan akan terus berupaya menuntaskan kasus ini demi keadilan bagi korban dan keluarganya. Sebelum kasus ini terang benderang dan pelakunya tertangkap, penyelidikan akan terus dilakukan.

“Kami akan terus bekerja maksimal. Mohon doa dan dukungan masyarakat agar kasus ini segera terungkap,” pungkas Ipda Andhar.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *