Sindikat Ternama di Balik Pencurian di Pesawat Asia
Sejumlah kasus pencurian yang terjadi di dalam pesawat semakin meningkat, khususnya di rute-rute sibuk di Asia. Penyebab utamanya disebutkan adalah sindikat asal China yang dituding menjadi pelaku utama kejahatan ini. Mereka menargetkan penumpang bisnis atau pengunjung yang membawa barang bernilai tinggi seperti uang tunai, kartu kredit, dan tas serta aksesori mewah.
Lonjakan Kasus Pencurian di Pesawat
Menurut laporan dari South China Morning Post edisi Selasa 30 Desember 2025, otoritas penerbangan dan kepolisian bandara di sejumlah negara mencatat lonjakan signifikan kasus pencurian sepanjang tahun 2024. Fenomena ini terjadi karena meningkatnya jumlah penumpang internasional di Asia-Pasifik, yang mencapai 365 juta pada 2024, naik 30,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di Malaysia dan Hong Kong, kasus pencurian di pesawat melonjak hingga 70 persen sepanjang 2024, berdasarkan data kepolisian setempat. Hal ini memicu kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk maskapai dan pejabat keamanan.
Peran Sindikat China dalam Kejahatan
Perwakilan maskapai dan otoritas mengatakan bahwa penangkapan pelaku mencerminkan peran sindikat kriminal asal China dalam kejahatan ini. Fenomena ini semakin meningkat sejak perjalanan internasional kembali dibuka pasca-pandemi dan kebijakan bebas visa di beberapa negara Asia yang menarik wisatawan China.
Nick Careen, Wakil Presiden Senior International Air Transport Association (IATA), menyatakan bahwa kenaikan pencurian di dalam pesawat tampaknya terorganisasi dan sebagian besar dijalankan dari China.
Singapura sebagai Contoh Negara dengan Tindakan Keras
Singapura menjadi salah satu negara yang gencar melakukan tindakan terhadap pelaku pencurian di pesawat. Empat warga negara China didakwa atas kasus pencurian di penerbangan yang mendarat di Bandara Changi sepanjang tahun ini. Salah satu tersangka, Liu Ming, dihukum 20 bulan penjara atas pencurian di penerbangan Singapore Airlines dari Dubai ke Singapura.
Tiket kelas bisnis Liu diduga dibiayai oleh sindikat kejahatan, memungkinkannya untuk mencuri tas penumpang berisi barang senilai lebih dari 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,6 miliar), termasuk jam mewah Audemars Piguet dan Chopard.
Tantangan Keamanan di Kabin Pesawat
Pengawasan penuh terhadap pergerakan penumpang dan tas di kabin hampir mustahil dilakukan. Dr Mohd Harridon Mohamen Suffian dari Universiti Kuala Lumpur Business School mengatakan bahwa pelaku pencurian sangat jeli melihat celah ini dan telah menyusun strategi untuk menyasar tas kabin yang tidak diawasi dalam waktu tertentu selama penerbangan.
Perbaikan Sistem Keamanan
Beberapa maskapai seperti Emirates, Cathay Pacific, dan Singapore Airlines telah memasang kamera pengawas di kabin, namun banyak maskapai lain belum melakukannya karena biaya dan isu privasi. Kamera kabin juga belum diwajibkan dan sempat ditentang oleh regulator penerbangan AS serta asosiasi pilot internasional.
Belum adanya sistem pelaporan terpadu antar-maskapai dinilai memberi celah bagi sindikat untuk berpindah-pindah penerbangan tanpa terdeteksi. Kapten Abdul Manan Mansor dari University College of Aviation Malaysia menyarankan agar maskapai memimpin dengan memperbaiki sistem pelaporan, melatih awak kabin dalam pencegahan pencurian, dan berinvestasi pada langkah keamanan yang lebih baik.











