Cerita tentang pasangan yang siap menikah. Menikah dengan bahagia tanpa mengundang banyak teman. Perjalanan mereka begitu lancar, tidak ada cekcok rumah tangga. Salim (Donny Alamsyah) dan Rifa (Shareefa Danish) menjalani bahtera kehidupan dengan tenang. Kehamilan Rifa menjadi hal yang paling mereka tunggu. Kelahiran anak perempuan menambah kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri. Di tengah kehidupan mereka, sering terjadi obrolan antara keduanya. Seperti suami istri biasa. Obrolan tentang jika salah satu dari mereka meninggal duluan pun pernah jadi topik. Bagi Salim, jika istrinya lebih dulu tiada, ia tidak akan menikah lagi, begitu pun Rifa mendukung, ia tidak rela jika suaminya jadi istri orang lain. Bahkan bilang jika itu kejadian Rifa akan menghantui Salim. Itu diucapkan Rifa sambil berkelakar dengan suaminya.
Sampai…
Kamera menyoroti Rifa yang sudah mengenakan jilbab dan tidur ditengah orang yang mengaji. Rifa sudah dikelilingi para tetangga, beserta suaminya yang sedang membaca ayat suci. Mendoakan orang yang terbaring ditengah. Ditutupi oleh kain putih dan kain batik coklat menutupi badan.
“Ternyata Benar, Aku yang meninggal lebih dulu…” Ucap Rifa, berupa entitas roh.
Film ini bagiku menjadi film yang unik. Dibilang film horor bukan. Dibilang film keluarga. Ya, tokoh berada di dua dunia. Alam dan ghaib. Namun tidak untuk saling menakuti. Melainkan hidup berdampingan walaupun hanya tokoh Rifa yang berupa entitas (roh) tidak bisa berkomunikasi dengan suami dan anaknya karena manusia.
Sepeninggal istrinya, Salim membesarkan anaknya, Nasya seorang diri. Jatuh bangunnya Salim membesarkan anak semata wayang, hingga belasan tahun terlalu, Salim masih sendiri. Ia teguh pendirian untuk tetap menjadi suami dari satu orang saja.
14 tahun berlalu, waktu bergulir.. selama itu pula sosok Rifa masih selalu menemani Salim dalam keseharian. Saat Salim makan, Salim tidur, sosok Rifa selalu menyertai kehidupan Salim, walau Salim tak mengetahui. Sampai Nasya sudah menikah dan sedang hamil besar. Nasya sebagai anak mulai khawatir dengan kondisi ayahnya, terlebih seringnya melihat Salim mencium daster mendiang ibunya di dalam lemari yang masih tertata rapi.
Sampai suatu hari datanglah tetangga baru dari Jogja, namanya Mila (Adinda Thomas). Salim melihat orang baru tersebut dengan tatapan biasa. Sambil menyiram tanaman rutin tiap hari. Sebagai seorang duda yang sudah lama sendiri Salim sering mendapat tanya dari orang sekitar untuk menikah lagi namun Salim hanya diam saja, dan membalas dengan senyum.
Menonton cerita ini dari awal terasa agak flat. Namun 30 menit sebelum selesai terjadi beberapa hal dan sangat menguras perasaan dan mengaduk emosi. Tentang jantung Salim yang ternyata bermasalah, kerinduannya pada mendiang istri yang makin memuncak. Sampai anaknya Nasya (Ashel eks Jkt48) yang khawatir dengan ayahnya, apalagi ketika ia memikirkan akan memiliki anak takut tak ada yang memperhatikan ayahnya.
Tetangga baru itu, Mila memberikan pepes tahu kepada Salim sebagai ucapan terimakasih sudah meminjamkan dongkrak. Salim tak langsung mencicipi, melainkan meletakkan bekal itu di kulkas. Di tempat kerja Salim mendapat kabar bahwa tugas dirinya akan digantikan dengan aplikasi yang lebih cepat. Mendengar bahwa ia akan dipindah tugaskan membuat Salim gusar. Ia pulang dalam keadaan basah. Karena hujan deras.
Membuat Salim Flashback pada masa itu, saat istrinya masih ada. Salim pulang basah kuyup membawa semua berkas dan barang dari kantor. “Aku di pecat bu…”
“Ya Allah. Aku kira apa Pak. Ku kira kamu mau bilang kamu sudah gak sayang lagi sama aku…”
“Bu… ini masalah besar bu…. Nasya baru lahir.. dan aku di pecat!” Ucap Salim gusar.
“Pak.. pekerjaan kamu memang selesai. Tapi Rezeki kita tetap ada dari Allah sang pemberi Rezeki…” Ucap Rifa mantap.
Salim terdiam, dan mengangguk.
Hari itu di meja makan ia mencicipi pepes tahu dari Mila. Suapan pertama, membuat ia mengagguk. Rasanya enak juga. Seperti biasa arwah Rifa menemani Salim makan.
Salim mengembalikan wadah tempat makan ke rumah Mila. Mila bertanya tempat bubur ayam yang enak wilayah sini.. akhirnya Salim dan Mila sarapan bersama. Menanyakan tentang aktivitas sehari-hari. Dan ternyata Mila belum menikah, calonnya meninggal h-1 sebelum pernikahannya. Keesokan harinya, Mila bertemu Salim lagi di Panti Asuhan. Salim datang untuk menyumbangkan baju-baju Rifa yang masih bagus di lemari. Hal ini karena sudah ditegur anaknya, karena terlalu banyak baju Rifa yang masih disimpan. Panti Asuhan ini tempat yang selalu Salim dan Rifa datangi belasan tahun lalu. Semenjak Rifa tiada, Salim sudah sangat jarang ke Panti Asuhan ini untuk memberikan sumbangan. Sepulang dari Panti, hujan deras turun Salim menawarkan Mila untuk pulang bersama karena mobil masih diperbaiki di Bengkel. Di dalam mobil kini ada Salim, Mila dan Rifa walau berwujud entitas Rifa mendampingi dan ikut mengobrol diantara mereka walau Salim dan Mila tak melihat Rifa namun ucapan Rifa yang mendoakan mobil jadi mogok terbukti. Mobil benar mogok dan hujan deras, namun hal ini membuat Mila dan Salim lebih mengenal.
Nasya sudah hamil besar, sebentar lagi akan melahirkan. Salim berusaha untuk menjaga makanan agar jantungnya tetap stabil dan tetap sehat. Mila memberikan bekal makan untuk Salim bawa ke kantor, bekal makan itu dinikmati, dengan senyum. Salim seperti menemukan hari-hari yang lebih ceria dari sebelumnya. Malamnya Salim bermimpi bertemu Rifa, istri yang sangat ia rindukan. Suasana dalam mimpi berada di atas jembatan yang di bawahnya ada sungai. Mereka mengobrol akrab . Rifa membicarakan tentang Salim yang harus meneruskan kehidupan. Mencolek pula pengganti Rifa yang sedang dekat. Mereka tertawa bersama, namun Salim tetap tegas mengatakan belum ada pengganti Rifa di hatinya. Salim tersentak bangun dari tidur, lalu merasakan dada kirinya nyeri sekali. Ia mencari obat namun tak ditemukan, lalu turun ke lantai 2, tidak ada yang menemani Salim sehingga Salim tak bisa minta bantuan siapapun. Lalu Salim terjerembab jatuh di bawah tangga. Entitas Rifa panik melihat saminya jatuh, ia meminta pertolongan ke luar namun semua orang tentu tak bisa komunikasi dengan Rifa.
Di depan Rumah Mila menyapa David security komplek. Melihat Salim belum keluar pagi ini membuat Mila khawatir, karena biasanya jam segini Salim menyiram tanaman di depan rumah. Rifa bersusah payah bilang ke Mila “Ayo dong buka pintunya…”
Seakan firasatnya sama dengan Rifa, Mila bilang dengan keras.. “Pak David, pintunya DOBRAK SAJA! saya yang tanggungjawab! Firasat saya gak enak..” ucap Mila.
Pak David langsung mendobrak pintu rumah Salim. Dan mendapati Salim tergeletak di lantai rumah. Mereka panik dan membawa Salim ke rumah sakit. Saat itu juga Nasya merasakan kontraksi hebat. Sepertinya ia akan melahirkan.
Salim nyaris tak tertolong. Sempat asistole. Namun karena langsung di tangani dan dipcu jantung, jantung Salim kembali nyala. Berdetak lagi. Salim memiliki cucu perempuan.
Sepulang dari Rumah sakit, Salim mengunjungi makam Rifa. “Maaf ya Bu, sudah 2 minggu aku tidak menengok. Aku hampir mati bu, dadaku sakit sekali waktu itu. Kita sudah punya cucu bu. Aku sudah jadi kakek, kamu sudah jadi Nenek. Nama cucu kita Ana. Singkatan dari nama ibu dan ayahnya. Norak ya bu…” ucap Salim sambil terbahak. Diikuti dengan entitas Rifa yang juga ikut tertawa bersama.
“Bu, depan rumah kita ada tetangga baru. Mila namanya. Sendirian. Dari Jogja. Belum menikah Bu…” ucap Salim memulai.
“Iya Pak.. aku tahu.. aku tahu apa yang akan kamu katakan Pak..”
Sepertinya penonton juga tahu apa yang akan Salim katakan.. mau izin kah ke istri tentang…. eh tapi bentar.. ada pernyataan yang diluar prediksi penonton..
“Bapak Kangen banget sama ibu. Pingin ngobrol sama ibu.. bapak sendirian.. Mila memang perempuan yang baik. Apalagi saat ia gendong cucu kita yang menangis.. cucu kita langsung diam di gendong Mila bu.. tapi dia bukan kamu bu… aku butuhnya kamu disisiku, Bu…” Ucap Salim sambil menangis. Diikuti tangisan oleh entitas Rifa. Salim kali ini posisi membungkuk menatap nisan Rifa. Ia bersandar di nisan Rifa, entitas Rifa pun memeluk Salim dari belakang.
Salim tampak di pembaringan. Ia berada di tengah keluarga dan para tetangga. Ada Nasya dengan suaminya, dan Mila yang menggendong cucu Salim. Semua orang tampak menunduk membaca kitab, berdoa. Tampak Salim yang sedang didoakan. Entitas Rifa masih disana, melihat Salim di pembaringan. Aku bertanya-tanya apa yang menyebabkan Salim wafat.. mungkin kah saat di pemakaman Rifa Salim kembali terkena serangan jantung lalu meninggal? Tidak ada jawaban sampai film ini selesai. Yang pasti akhir film ini cukup hatu dan mungkin bisa dibilang berbahagia bagi peran utama suami istri ini.
Ditengah doa-doa yang dilantunkan.. tiba-tiba salim dengan baju serba putih memanggi Rifa yang sehak tadi menunduk menatap suaminya..
“Sudah lama menunggu ya, Bu?” Ucap salim tersenyum sambil membuka kedua tangannya hendak memeluk istri tercinta.
Disambut Rifa yang dengan bersemangat memeluk suaminya seakan rindu yang sudah teramat sangat, akhirnya bertemu kembali. Rifa dan Slaim masuk kesebuah pintu yang penuh cahaya terang.
Di film ini kita tak akan menemukan sosok lelaki yang ditinggal istri lalu bersegera mencari istri baru. Melainkan sosok suami yang teguh pada prinsip, mencintai istrinya. Sesuai pada janji Salim sebagai seorang lelaki. “Hanya ingin mejadi suami dari satu perempuan, dan perempuan itu adalah Rifa..”
Aku sebagai penonton mengambil pelajaran bahwa:
* Beratnya menjadi seseorang yang ditinggalkan, pun sama beratnya perasaan orang yang meninggalkan
* Setiap pasangan ingin pasangannya di Dunia (suami-istri) menjadi pasangan sehidup sesyurga, bertemu lagi di alam yang kekal.
* Semua istri mungkin tak akan rela istrinya menikah lagi sepeninggal dirinya, namun di satu titik akhirnya seorang istri akan sadar bahwa benar suami juga butuh pendamping untuk melanjutkan hidupnya, dalam film ini Rifa kemudian mengizinkan suaminya untuk menikah.. namun Salim lah yang memang tak berkehendak menikah sampai akhir film mereka akhirnya bersama kembali.
* Setiap anak ingin orangtuanya berbahagia
* Masih ada lelaki yang teguh pendirian, tidak bisa menyamaratakan semua lelaki adalah sama. Setiap orang memiliki sifat dan sikap masing-masing
Film lebih dari selamanya bisa di tonton untuk semua umur. Film karya Ary Ambiary, M. Ali Ghifari, Muhammad Irfan dan skenario ditulis oleh M. Ali Ghifari dan diproduksi oleh Golden Scenes Pictures dan FMM Studios, saat ini sudah tayang di Netflix baru pada 15 Januari 2026 rilis. Shareefa Danish yang terbiasa menjadi hantu di film horor, kini menjadi entitas hantu namun di film drama yang tak menakutkan namun memberi makna. Film ini sangat cocok menemani malam hangat bersama keluarga tercinta. Saat ini film Lebih dari Selamanya menjadi Film Pilihan No 2 di Netflix. Adegan terakhir film ini, kala kedua tokoh utama kembali bersama membuatku menangis haru, sesenggukan. Huhu pikiranku jadi kemana-mana.. apakah pasangan suami istri yang baik akan bersama dan berbahagia di alam sana juga?











