Transformasi Data Statistik dengan CAPI di BPS
Dalam era digitalisasi pemerintahan, Badan Pusat Statistik (BPS) terus melakukan transformasi dalam metode pengumpulan data. Salah satu inovasi terbesarnya adalah penerapan CAPI (Computer-Assisted Personal Interviewing), sistem wawancara berbasis perangkat digital yang menggantikan metode kuesioner kertas tradisional.
Penerapan teknologi ini menjadi langkah penting bagi BPS untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kegiatan statistik nasional. Dengan CAPI, petugas lapangan atau Mitra Statistik tidak lagi membawa tumpukan formulir kertas, melainkan cukup menggunakan tablet atau smartphone untuk menginput data secara langsung di lapangan.
Bagi calon Mitra Statistik, memahami cara kerja dan fungsi CAPI menjadi hal yang sangat penting. Sebab, sebagian besar survei dan sensus BPS kini sepenuhnya menggunakan sistem digital ini. Pengetahuan tentang CAPI bukan hanya menjadi nilai tambah saat seleksi, tetapi juga menjadi kunci dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Apa Itu CAPI dalam BPS?

CAPI merupakan singkatan dari Computer-Assisted Personal Interviewing, yaitu metode wawancara tatap muka menggunakan perangkat elektronik seperti tablet atau ponsel pintar. Melalui sistem ini, pewawancara dapat langsung memasukkan jawaban responden ke dalam aplikasi resmi BPS tanpa harus menuliskannya di atas kertas.
BPS menggunakan aplikasi bernama Fasih (Flexible Authentic Survey Instrument Harmony) sebagai platform utama dalam pelaksanaan metode ini. Aplikasi Fasih dirancang secara fleksibel agar bisa digunakan dalam berbagai jenis survei, mulai dari survei sosial ekonomi hingga survei potensi desa.
CAPI bukan hanya sekadar alat bantu, tetapi juga simbol modernisasi tata kelola data di lembaga statistik nasional. Dengan metode ini, proses pencacahan, validasi, hingga pelaporan hasil survei menjadi lebih cepat, efisien, dan transparan.
Manfaat Penggunaan CAPI bagi BPS
Penggunaan CAPI membawa sejumlah manfaat besar, baik bagi BPS maupun bagi mitra statistik yang bertugas di lapangan:
- Efisiensi waktu dan tenaga sehingga proses pengumpulan data menjadi lebih cepat karena pewawancara dapat langsung menginput jawaban tanpa menunggu proses entri data manual.
- Akurasi data lebih tinggi karena memungkinkan struktur pertanyaan dalam aplikasi digital meminimalkan kesalahan input dan menghindari kekeliruan pembacaan tulisan tangan, sehingga hasil survei lebih valid.
- Mendukung program ramah lingkungan karena tidak menggunakan kertas, sistem ini membantu BPS dalam mendukung gerakan go green dan mengurangi limbah kertas dari kegiatan sensus dan survei besar.
- Kemudahan dalam pemantauan dan analisis sehingga data yang terkumpul bisa langsung dikirim ke server pusat dan dianalisis secara cepat oleh tim BPS, mempercepat proses publikasi hasil survei nasional.
Penerapan dan Tantangan CAPI
CAPI telah digunakan BPS dalam berbagai kegiatan statistik seperti Survei Industri Mikro dan Kecil (IMK), Survei Tingkat Penghunian Hotel (VHTS), serta Survei Potensi Desa (Podes). Sebelum diterapkan secara nasional, aplikasi Fasih terlebih dahulu diuji coba di sejumlah daerah untuk memastikan kinerja dan kestabilannya di lapangan.
Namun, di balik keunggulannya, sistem ini juga menghadapi tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sinyal internet di daerah terpencil, yang dapat menghambat proses pengiriman data secara real-time. Untuk mengatasi hal ini, BPS menyediakan fitur penyimpanan offline agar petugas tetap bisa bekerja meski tanpa koneksi internet stabil.
Dengan penerapan CAPI, BPS membuktikan komitmennya dalam menghadirkan data berkualitas tinggi dengan cara yang efisien, akurat, dan ramah lingkungan. Bagi calon Mitra Statistik 2026, kemampuan menggunakan aplikasi Fasih dan memahami prinsip kerja CAPI menjadi syarat penting agar siap berkontribusi dalam sistem statistik nasional yang semakin modern.











