Pengalaman Menantang Saat Syuting Film Dusun Mayit
Aktor Randy Martin berbagi pengalaman yang menantang saat menjalani proses syuting film terbarunya, Dusun Mayit. Film ini mengambil latar belakang pendakian gunung, dan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh tim pemain. Randy menyebutkan bahwa dirinya dan tiga rekan lainnya, yaitu Amanda Manopo, Ersya Aurelia, dan Fahad Haydra, sama sekali belum pernah melakukan pendakian sebelumnya.
“Nah, fun fact-nya kita berempat nggak ada yang pernah naik gunung. Jadi sebelum Amanda pun naik gunung sama kru-nya dan lain sebagainya, ini yang pertama kali gitu. Termasuk aku juga, ini yang pertama kali gitu,” ujar Randy Martin di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.
Pembekalan Lengkap Sebelum Syuting
Sebelum proses syuting dimulai, seluruh tim pemain mendapatkan pembekalan lengkap. Tidak hanya tentang karakter, tetapi juga pelatihan teknis dan fisik yang ketat. Randy mengatakan bahwa film ini membutuhkan daya tahan tubuh yang kuat.
“Dan akhirnya kita dibekali banyak, gitu. Nggak cuman briefing karakter, penokohan, tapi juga kita teknisnya ada, fisiknya ada, dan memang juga film ini physically demanding. Karena aku sampai datangin fisioterapis,” tuturnya.
Tantangan Adegan Menggendong
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Randy adalah adegan di mana ia harus menggendong karakter Nita, yang diperankan oleh Ersya Aurelia, hampir sepanjang film sambil melalui jalur pendakian yang berat.
“Karena aku ada scene gendong Nita, itu kurang lebih hampir separuh film kayaknya aku gendong dia. Naik gunung. Jadi secara nggak langsung ngebayangin peran Raka sih, ngebayangin apa yang dirasain Raka gitu,” ungkap Randy.
Menurut Randy, adegan tersebut bukan hanya berat secara fisik, tetapi juga emosional. Karakternya, Raka, digambarkan tetap setia membawa kekasihnya meski dalam kondisi terjebak dan menghadapi banyak rintangan.
“Dia terjebak, tapi dia masih mau gendong kekasihnya yang mungkin bisa aja dia tinggalkan atau dia taruh atau gimana kek, tapi dia putusin dia tetap bawa walaupun malang rintangan yang terjadi di atas gunung,” sambungnya.
Masalah Fisik Akibat Syuting
Beratnya syuting membuat Randy mengalami masalah pada bagian belikat dan punggung bawah. Bahkan, fisioterapis harus datang langsung ke lokasi syuting yang berada di area pegunungan.
“Dan itu sampai di belikat saya, di belikat itu, untung nggak sobek ya, di belikat itu ada muscle soreness ya, radang kayaknya. Jadi di karavan tuh aku didatangin tengah malam, di tengah gunung, tengah malam tuh datang untuk belikat sama lower back,” cerita Randy.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pendakian sungguhan. Ya, harus menggendong manusia di medan yang cukup susah tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Randy Martin.
“Jadi memang kebayang banget, memang kalau in real life kan kita bawa carrier aja berat kan, ini kita bawa orang, gitu. Jadi dengan elevasi seperti itu pasti no human possibility,” sambungnya.
Durasi Syuting dan Kesulitan Medan
Selama total syuting yang berlangsung sekitar 40 hari, Randy memperkirakan ada sekitar 7 sampai 10 hari yang penuh dengan adegan menggendong, berjalan, hingga berlari di medan tidak rata.
“Hmm, ada semingguan lebih kali ya. Kita syuting 40 hari kurang lebih, gendong-gendong itu ada mungkin 7-10 hari ada. Banyak, banyak. Lari-lari lagi. Dan itu kontur tanah kan nggak rata ya, jadi aku sempat jatuh satu dua kali lah,” ujarnya.
Meski sempat terjatuh, Randy tetap berusaha memastikan keselamatan Ersya selama adegan berlangsung. Salah satu kejadian yang paling diingat Randy adalah ketika ia terperosok di balik ilalang saat pengambilan wide shot.
“Untungnya dengkul nggak tuh. Untungnya ya. Karena aku jatuh memang aku kan ngejagain Ersya juga ya, gitu, jangan sampai aku jatuh dia pun kena imbasnya gitu. Aku berusaha safety-in dia, karena kan ini tanggung jawabku juga. Dia kan udah pasrah sama aku, aku yang pegang kendali gitu,” tutur Randy.
Sinopsis Film Dusun Mayit
Film Dusun Mayit bercerita tentang Aryo, Yuni, Nita, dan Raka yang adalah 4 mahasiswa yang mendaki Gunung Welirang untuk mengisi liburan. Namun, petualangan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika Nita menemukan sesajen di sana dan terjatuh ke sebuah telaga.
Setelah kejadian itu, Nita berubah. Ia menjadi seperti bukan dirinya sendiri, menyeringai seram, dan mengucapkan kata-kata berbahasa Jawa, “Siji, loro, telu… Sing podo teko, lali dalan mulih.”
Khawatir pada keadaan Nita, mereka memutuskan untuk turun dari gunung. Tetapi jalan pulang tidak ketemu. Mereka tersesat. Jalan seperti berputar di tempat yang sama, hingga mereka bertemu pasar gaib, sosok seram, pagelaran wayang yang janggal, dan ilalang tak berujung yang menjebak mereka.
Dengan bantuan Mbah Surop, seorang kakek misterius, mereka tahu kalau mereka sedang berada di Dusun Mayit, sebuah desa gaib yang menuntut tumbal dan Nita telah ditandai sebagai tumbal.
Akankah mereka bisa menyelamatkan Nita? Akankan mereka bisa pergi dari desa itu dan pulang dengan selamat? Atau mereka akan terjebak selamanya?
Semua pertanyaan yang belum terjawab bisa kamu saksikan lewat film Dusun Mayit yang akan tayang di bioskop pada 31 Desember 2025.











