Penjelasan Rizki Nurfadhila tentang Isu TPPO di Kamboja
Rizki Nurfadhila, seorang pemain sepak bola muda asal Bandung, akhirnya memberikan klarifikasi terkait isu yang menyebutnya sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Dalam video klarifikasinya yang diunggah ke media sosial, Rizki membantah adanya penyiksaan selama bekerja di negara tersebut. Namun, banyak netizen yang merasa ada hal yang tidak wajar dalam penjelasannya.
Dalam video tersebut, Rizki mengatakan bahwa ia pergi ke Kamboja atas kemauannya sendiri dan tidak ada pihak mana pun yang memaksanya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya diperlakukan baik selama berada di sana. “Saya tidak disiksa selama bekerja di Kamboja. Saya baik-baik saja, kondisi saya aman,” ujar Rizki dalam video yang diunggah beberapa waktu lalu.
Namun, video klarifikasi Rizki justru memicu kontroversi. Banyak netizen yang merasa ada kejanggalan dalam narasi yang disampaikannya. Beberapa komentar di media sosial menunjukkan ketidakpercayaan terhadap penjelasan Rizki. Misalnya, salah satu netizen berkomentar: “+62 ngk semudah itu percaya bang, up aja kalo emng bner ada tindakan intimidasi.” Ada juga yang menyoroti tangan Rizki yang terlihat diborgol dalam video tersebut.
Selain itu, beberapa netizen mengkritik alasan Rizki untuk ingin pulang. Menurut mereka, ada kontradiksi antara pernyataan Rizki bahwa ia tidak disiksa dengan pernyataannya bahwa ia ingin pulang karena tidak betah. “Keinginan dia sendiri tetapi diakhir dia bilang ‘itu alasan karena saya ingin pulang cepat’ wahh ada kejanggalan,” tulis salah satu netizen.
Klarifikasi Kedua dan Alasan Berbohong
Rizki tidak hanya membuat satu video klarifikasi, tetapi dua. Dalam klarifikasi kedua, ia menjelaskan alasannya berbohong kepada orangtuanya. Rizki menyesali tindakannya dan mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. “Saya ingin meluruskan masalah yang terkait viral di Indonesia, saya sebenarnya tidak di siksa dan tidak diapa-apakan cuma saya pengin pulang aja karena tidak betah,” ujarnya dalam caption video.
Selain itu, Rizki juga menyebutkan bahwa perusahaan tempatnya bekerja meminta uang tebusan sebesar 42 juta rupiah jika ingin pulang ke Indonesia. Uang tersebut digunakan untuk tiket, ongkos taksi, makan, serta biaya lainnya. “Pihak perusahaan tidak meminta uang sedikit pun, terima kasih,” tambahnya.
Cerita Ayah Rizki yang Berbeda
Sebelum Rizki memberikan klarifikasi, ayahnya, Dedi Solehudin, mengungkap cerita yang jauh berbeda. Dedi mengatakan bahwa putranya menjadi korban TPPO setelah ditipu oleh agen sepak bola di Facebook. Awalnya, Rizki dijanjikan akan dikontrak selama satu tahun di sekolah sepak bola di Medan. Namun, ternyata Rizki tidak benar-benar dibawa ke Medan, melainkan diputar-putar ke beberapa daerah.
Menurut Dedi, Rizki diterbangkan ke Malaysia sebelum akhirnya dibawa ke Kamboja. Tiga hari setelah tiba di Kamboja, Rizki mengabari ayahnya bahwa ia sedang berada di sana. “Anak kasih kabar (chat bilang) ‘pah, Aa kejebak’. (kata ayah) ‘kejebak gimana?’, (kata korban) ‘aa dijebak’,” kata Dedi.
Dalam cerita yang diceritakan ulang oleh Dedi, Rizki menceritakan bahwa ia sering disiksa selama bekerja di Kamboja. Setiap hari, ia diminta memenuhi target pekerjaan. Jika gagal, Rizki dipaksa melakukan push-up atau membawa galon dari lantai 1 hingga lantai 10.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











