Gelagat Janggal AKBP Basuki dalam Kematian Dosen Untag Semarang
Sejumlah tanda-tanda aneh yang terjadi sebelum kematian dosen Untag Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35), mulai terungkap. Rekaman CCTV, kesaksian saksi, hingga pengakuan keluarga menunjukkan tindakan tak biasa dari perwira tersebut sebelum korban ditemukan meninggal tanpa busana di sebuah kostel kawasan Gajahmungkur, Semarang.
AKBP Basuki diketahui tinggal bersama dosen muda tersebut selama beberapa waktu. Mereka menjalin hubungan tidak resmi selama lima tahun. Namun, kejadian tragis ini memicu banyak pertanyaan dan kecurigaan.
Rekaman CCTV yang Menunjukkan Keluar Masuk Kamar
Berdasarkan rekaman CCTV, terlihat bahwa AKBP Basuki sering kali keluar masuk kamar korban. Ia disebut melakukan hal tersebut lebih dari lima kali sekitar pukul 03.00 WIB. Kuasa hukum keluarga korban, Zainal Abidin Petir, menyatakan bahwa pada jam tersebut, Doktor Levi belum tentu sudah meninggal atau dalam kondisi kritis.
“Nah, apakah jam itu Doktor Levi sudah meninggal atau dalam kondisi kritis?” tanya Zainal. Ia juga mengungkap bahwa AKBP Basuki tampak mondar-mandir tanpa melakukan tindakan apa pun, seperti seseorang yang sedang bingung.
Selain itu, Zainal mempertanyakan mengapa laporan ke polisi baru dilakukan setelah pukul 10.00 WIB. “Ini yang perlu didalami penyidik, karena sepertinya AKBP B baru lapor polisi di atas jam 10.00 WIB,” ujarnya.
Hubungan dengan Teman, Bukan Polisi
Terkuak bahwa AKBP Basuki sempat menghubungi seorang pria bernama Hananto setelah mengetahui kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35). Hananto adalah teman dekat AKBP Basuki dan bukan anggota polisi. Ia kemudian dimintai keterangan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum).
“Hananto ini teman AKBP Basuki, dia bukan polisi, warga sipil biasa. Mereka berteman,” jelas Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto.
Pengiriman Foto Jenazah yang Langsung Dihapus
Keluarga korban juga menemukan kejanggalan lain. AKBP Basuki diduga mengirim foto jenazah kepada seorang kerabat, namun foto tersebut langsung dihapus setelah terkirim. Dalam foto tersebut, terdapat bercak pada bagian paha dan perut korban.
“Iya bude kami mendapatkan kiriman foto dari nomor asing tapi kemudian dihapus oleh si pengirim. Dalam foto itu simpang siur (diduga ada bercak darah) sehingga menambah kecurigaan,” kata kakak korban, Vian.
Belakangan, keluarga mengetahui bahwa nomor misterius itu diduga merupakan nomor pribadi milik AKBP Basuki. Karena melihat berbagai kejanggalan, keluarga akhirnya memutuskan untuk melakukan autopsi.
Respons Tak Biasa di Lokasi Kejadian
Zainal Abidin Petir, kuasa hukum keluarga, menyampaikan bahwa Basuki menunjukkan respons yang tidak biasa di lokasi kejadian. Ia bahkan sempat meminta penyidik menyerahkan laptop dan ponsel korban, permintaan yang langsung ditolak petugas.
“AKBP B ini juga panik di lokasi kejadian. Kami menduga kepanikan tersebut ada sesuatu yang disembunyikan,” kata Zainal. Keanehan tidak berhenti di situ. Zainal mengungkap bahwa Basuki justru memanggil petugas INAFIS dengan panggilan “komandan”, padahal pangkatnya jauh lebih tinggi.
“Dan anehnya dengan petugas INAFIS yang pangkatnya lebih rendah dari AKBP, dia (Basuki) selalu bilang ndan ndan (komandan), artinya ada kepanikan dia dalam keadaan panik dan bingung,” katanya.
Penyidikan Kasus Kematian Dosen Levi
Dirreskrimum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Dwi Subagio, mengatakan penyidik telah mengamankan sejumlah barang bukti dan menaikkan status kasus ke tahap penyidikan. “Selasa kemarin kami telah melakukan gelar perkara internal dan kami tingkatkan ke penyidikan,” kata Dwi di Mapolda Jateng, Rabu (26/11/2025).
Sedikitnya, penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) tiga kali: dua kali di kamar kostel kawasan Gajahmungkur dan sekali di mobil pribadi AKBP Basuki. “Kami masih menunggu hasil otopsi dari pihak forensik RSUP Kariadi,” ujarnya.











