“Kak, sebentar lagi anak kamu lahir. Katamu, dia perempuan. Semoga ibu dan si kecil sehat-sehat ya, Kak. Nanti, suatu saat, anak kamu akan tumbuh besar. Dia akan mengalami menstruasi. Kalau ibunya masih ada, alhamdullilah. Tapi kalau sampai ternyata kamu yang harus mengurusnya di masa remajanya, kamu tahu nggak harus bagaimana menghadapi anak remaja yang sedang mengalami menstruasi pertama kali? Kamu mau anak perempuanmu diajarkan oleh orang lain yang belum tentu benar?”
Pertanyaan ini saya sampaikan kepada rekan kerja saya ketika atasan meminta kami ikut merayakan Hari Kesehatan Menstruasi yang diperingati setiap bulan Mei dengan mengadakan acara online. Pertanyaan ini awalnya hanya untuk memancing rekan kerja saya agar mulai mempersiapkan acara tersebut. Saya tidak menyangka bahwa pertanyaan itu justru memiliki makna yang lebih dalam.
Saat itu, saya juga menulis tentang eye shadow ilegal. Beberapa bapak berkunjung dan meninggalkan respons di sana, namun ada satu yang saya garisbawahi. “Kan saya laki-laki,” katanya.
Laki-laki dan produk kecantikan
Laki-laki dan produk kecantikan memang seperti dua kutub magnet U atau dua kutub magnet S yang jika didekatkan akan saling menolak. Produk kecantikan mungkin mengejar, tapi laki-laki menolak karena merasa tidak butuh dengan kehadiran mereka. Umumnya, laki-laki khawatir dilabeli kata “lembut” atau “feminin” jika terkait dengan produk tersebut. Atau sekadar merasa tidak butuh saja, bahkan mau tahu informasinya pun untuk apa?
Padahal, urusan make up sendiri, laki-laki sudah banyak nyemplung di dalamnya. Bukan hanya kecipratan air, tapi benar-benar nyemplung dan basah. Mereka pro dalam setiap produk dan pulasannya.
Ada Bennu Serumba, Bubah Alfian, Irwan Riady, Ferry Fahrizal, hingga Andi Chu. Nama-nama ini cukup mentereng dan terdengar familiar. Ya, mereka adalah MUA-MUA kondang yang sering dipercaya memoles wajah cantik para artis Indonesia.
Bicara soal skincare, jika dulu produk ini dan laki-laki bak rival, sejumlah kaum adam kini sudah sepakat bahwa skincare yang sesuai dengan jenis kulitnya dibutuhkan jika ingin mendapatkan kulit yang sehat.
Menurut survei bertajuk Beauty Trends 2022 yang dirilis Jakpat, 64% responden laki-laki mengaku menggunakan produk skincare. Kabar baik dari survei ini adalah, hampir seluruh laki-laki percaya bahwa kondisi kulit yang baik dapat meningkatkan kepercayaan diri. Dan 94% responden laki-laki sepakat bahwa merawat kulit wajah menggunakan produk skincare merupakan salah satu bentuk investasi kulit yang sehat.
Jadi, bagi para laki-laki yang ingin mulai menggunakan skincare, tidak usah malu-malu, apalagi merasa kehilangan harga diri. Anda hanya menggunakan skincare untuk menjaga kesehatan kulit dan itu sah-sah saja.
Kata siapa ayah tak perlu tahu menahu urusan tren kecantikan?
Kembali dengan kepedulian laki-laki terhadap produk kecantikan. Jika Anda adalah seorang ayah, suami, atau saudara laki-laki dari sebuah keluarga yang tiba di artikel ini, saya ingin ajak Anda untuk lebih peduli. Bukan untuk menggunakannya, namun lebih ke mengedukasi diri, yang barangkali bisa dibagikan kepada perempuan mana pun yang Anda kasihi; apakah ia adalah adik, kakak, keponakan, pacar, sahabat, putri atau istri tercinta.
Wenda Tan, Head of Professional Affairs dari The Face Inc Group bilang, idealnya usia 18 adalah usia untuk seseorang mulai menggunakan produk perawatan kulit. Namun berdasarkan survei online yang dilakukan oleh Zap Clinic bersama MarkPlus Inc, anak remaja usia 13 tahun pun sudah mulai menggunakan produk-produk skincare.
Peralatan make up apalagi. Anak perempuan yang duduk di SD aja sekarang kalau ada kegiatan seremonial sudah minta full make up. Sebagai gambaran, perempuan yang jatuh cinta dengan produk make up apalagi memiliki influencer sebagai acuan style nya, biasanya tidak lagi melakukan crosscheck seputar produk tersebut dengan tameng “influencer gue juga pake kok” apalagi remaja yang baru kenal dengan dunia beauty, mudah terpengaruh, minim pengetahuan pula.
Riset BPOM mengatakan, pasar kosmetik Indonesia tahun 2018 saja mencapai Rp78,2 M. Tinggi sekali. Hal ini terjadi karena pemasarannya tak lagi dilakukan hanya secara konvensional, namun dilakukan pula secara online. Memudahkan memang, tapi di balik itu, konsumen juga perlu hati-hati terhadap peredaran kosmetik ilegal dan palsu yang dapat membahayakan kesehatan.
Di sinilah peran ayah dibutuhkan. Sesekali, mainlah ke area produk make up sang buah hati atau istri tercinta, cek satu per satu produk yang digunakan untuk kesehatan dan keamanan selama penggunaan.
Ada satu langkah memilih kosmetik aman yang bisa diterapkan, yaitu Cek KLIK atau Cek Kemasan, Label, Izin Edar dan Tanggal Kedaluwarsa. Cek setiap sisi wadah kemasan untuk memastikan ada tidaknya kecacatan dan perbedaan dengan kemasan kosmetik asli. Lalu temukan Nomor Izin Edar (NIE) sebab kosmetik yang legal dan aman sudah pasti mengantongi izin resmi dari BPOM dan memiliki izin edar karena keamanan kandungan bahan yang digunakan sudah lebih dahulu diuji oleh BPOM. Jika ada, lakukan crosscheck. Buka web resmi BPOM, dan pastikan nomor izin edar yang tertera benar-benar terdaftar. Kemudian cek tanggal kedaluwarsa pada label produk. Kalau sudah lewat, ngga usah pake acara “sayang dibuang padahal baru beli,” langsung buang saja.
Nah kalau peran ayah mau lebih afdol lagi, “hadirlah” saat anak atau pasangan akan berbelanja kebutuhan beauty apapun itu jenisnya. Di setiap berbelanja kebutuhan ini, saya selalu perhatikan, laki-laki lebih memilih menunggu di luar daripada mendampingi.
Saya mengerti, ayah mungkin tidak paham. Ayah mungkin jenuh diajak muter-muter padahal di mata ayah semua lipstik dan warna-warnanya yang kami sebut variatif itu sama. Tapi lewat pembekalan diri dengan pemahaman ini, barangkali ayah jadi tokoh penyadar bagi buah hati dan pasangan untuk lebih selektif dalam menggunakan produk beauty. Ayah juga jadi punya bahan diskusi selama proses memilih produk “Iya ka, ini warnanya cantik deh buat kakak. Boleh beli, tapi sebelum ke kasir, kita cek KLIK dulu ya, biar kakak ngga cuma cantik, tapi tetep sehat dan aman selama penggunaan” misalnya.
Kalau sudah kadung beli, selain boros, produk tidak terpakai, ngotor-ngotorin lingkungan pula. Diskusi pra belanja ini jadi cara yang lebih efektif dalam berbelanja produk beauty. Atauu, anggap saja jadi momen untuk lebih bonding dengan buah hati dan pasangan. Lagian ngga tiap hari juga begini kan, Yah?
Perempuan mana sihhh yang ngga bahagia belanjanya didampingin sama ayah atau pasangan mereka? Ayah yang awas dengan produk-produk ini juga jadi benteng keluarga untuk menghindari putri dan pasangan tercinta jadi korban produk abal-abal. Kalau sampai dipakai dan masuk rumah sakit, kan ayah juga yang repot urus dan bayarnya. Heheh.
Jadi ayah, ngga ada alasan lagi bilang belanja produk beauty itu bukan urusan ayah, ya!
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”










