Delapan Santriwati Tenggelam di Sungai Lusi Ditemukan Semua
Delapan santriwati dari Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora yang tenggelam di Sungai Lusi, Kelurahan Kedungjenar, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora pada Kamis (11/12) pagi, telah ditemukan semua. Proses pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan berlangsung selama dua hari dan berhasil menemukan seluruh korban.
Pada hari pertama pencarian, Kamis (11/12), tiga santriwati ditemukan dalam kondisi selamat. Mereka adalah AG dan RAM yang berasal dari Randublatung, serta FAA yang berasal dari Kedungjenar Blora. Namun, dua santriwati lainnya ditemukan meninggal dunia pada hari yang sama, yaitu NAS (16 tahun) asal Kunduran dan NC (15 tahun) asal Jepon.
Pada hari kedua pencarian, Jumat (12/12), tiga santriwati lagi ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Mereka adalah SR (14 tahun) asal Tunjungan, AFR (13 tahun) asal Tunjungan, dan CPM (16 tahun) asal Todanan. Dengan ditemukannya seluruh jenazah, operasi pencarian dihentikan.
Kepala Pelaksana BPBD Blora, Mulyowati, menjelaskan bahwa jenazah CPM ditemukan terlebih dahulu pada hari kedua pencarian. Jenazah tersebut dievakuasi pukul 13.25 dan ditemukan berjarak 1,5 kilometer dari lokasi kejadian. Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke rumah sakit, disucikan, dan diserahkan ke pihak keluarga.
Menurut Mulyowati, jenazah CPM ditemukan paling jauh dari lokasi kejadian dibandingkan dengan lokasi ditemukannya jenazah lain. Selain itu, saat ditemukan, posisi tangan jenazah CPM seperti orang yang sedang melambai. “Saat ditemukan tadi posisi tangannya seperti sedang melambai. Berarti korban pada saat sebelum tenggelam itu diduga sempat melambaikan tangan meminta pertolongan,” jelasnya.
Jenazah santriwati yang selanjutnya ditemukan yakni SR sekira pukul 14.30. “Jenazah ditemukan 1 kilometer dari lokasi kejadian. Setelah dievakuasi, jenazah dibawa ke rumah sakit, dan tadi sudah diserahkan ke pihak keluarga,” terang Mulyowati.
Selanjutnya, jenazah AFR ditemukan sekira pukul 14.45. “Ditemukan dengan jarak 1,2 kilometer dari lokasi kejadian. Dan jenazah dibawa ke rumah sakit lalu, diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” paparnya.
Kisah Heroik Aditya Edo Ardianto
Di balik proses evakuasi delapan santriwati yang tenggelam, ada kisah heroik dalam penyelamatan dua korban selamat pada Kamis (11/12). Pagi itu, Aditya Edo Ardianto, masih tidur nyenyak di kamarnya. Tiba-tiba, adiknya membangunkannya lantaran mendengar ada orang minta tolong di area Sungai Lusi.
Rumah Aditya berada di pinggir Sungai Lusi. Seketika itu, pria berusia 25 tahun itu langsung bangun dari tidurnya, dan bergegas ke sungai mencari sumber suara. Sesampainya di sungai, ia melihat ada dua perempuan meminta tolong sambil berpegangan bambu. Lokasi dua perempuan itu, berjauhan.
“Saya bangun, dan langsung terjun ke sungai. Yang di situ ada dua korban, yang satu pegangan bambu sisi kiri, yang satu sisi kanan,” tuturnya, saat ditemui di rumahnya, Jumat (12/12).
Edo berusaha membantu perempuan yang dekat terlebih dahulu. Lantaran posisi perempuan itu, berada sedikit ke tengah sungai, Edo berusaha menolongnya dengan kayu. Ia mengambil kayu kemudian menyodorkannya ke perempuan tersebut. Perempuan itupun langsung memegang kayu tersebut, dan melepaskan bambu yang sempat dipegangnya.
Sayangnya, kayu itu patah saat perempuan itu memegangnya, dan hanyut. Kondisi arus sungai saat itu cukup deras. Mengetahui perempuan itu hanyut, Edo langsung menceburkan diri ke sungai, dan langsung memegang perempuan itu, kemudian mendorongnya ke tepian barat sungai.
“Kayu yang saya kasih saat dipegang korban tiba-tiba patah. Orangnya hanyut, saya spontan terjun ke sungai, menyelam, saya dorong korban ke pinggir sungai,” bebernya.
Sesampainya di tepi sungai, perempuan itu dibantu warga lainnya, dievakuasi ke pemukiman warga. Selanjutnya, Edo berusaha ikut menyelamatkan perempuan yang kedua. Di sana sudah ada beberapa warga yang berusaha menolong. Posisi perempuan yang kedua, juga berpegangan bambu.
“Di situ sudah ada beberapa warga yang menolong. Terus saya ke sana bantu ngambil tali. Saya nyebrang, saya tolongin dengan saya tarik korban ke pinggir, terus saya taruh ke atas (tepi sungai),” paparnya.
Setelah menolong dua santriwati itu, Edo tetap melanjutkan untuk membantu pencarian korban yang masih belum ditemukan. Sayangnya, pada siang hari saat proses pencarian korban lain, kaki Edo terkena pecahan kaca di sungai, sehingga ia pun terpaksa menghentikan aksinya. “Ini kena pecahan kaca,” tukasnya, sambil menunjuk kakinya yang diperban.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











