My WordPress Blog

Festival Anggur yang Menarik

PearFest 2025: Ruang untuk Membentuk Suara dan Karya yang Berkelanjutan

PearFest 2025 kembali menghadirkan berbagai kesempatan bagi para penulis muda di Indonesia. Dalam acara ini, sebanyak 14 peserta dari 10 kota berbeda berkumpul dalam sebuah lokakarya bertajuk PearWorkshop x MTN Lab: Name Your Book, Shape Your Voice. Lokakarya ini diselenggarakan di Melting Pop, MBloc Space, Blok M, Jakarta Selatan.

Lokakarya ini merupakan bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan RI. Program ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni dan budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi bersama Pear Press, lokakarya ini memberikan ruang bagi para penulis muda untuk berkembang melalui proses kreatif yang menyeluruh.

Pear Press sendiri adalah ekosistem penerbitan milik PT Simpul Aksara Grup, sebuah creative agency yang berbasis di Jakarta dan telah berdiri sejak tahun 2019. Tahun ini menandai penyelenggaraan PearFest yang ketiga sebagai festival literasi tahunan milik Pear Press, setelah pertama kali digelar pada 2023.

Tujuan dan Fokus Lokakarya

Tujuan utama dari lokakarya ini adalah membantu para penulis muda memahami bagaimana suara mereka dapat dibentuk menjadi sesuatu yang khas dan bertahan lama. Mulai dari cerita yang ingin disampaikan hingga bagaimana karya tersebut diposisikan dan dihadirkan kepada penerbit dan pembaca.

“Di era ini, memiliki cerita yang kuat adalah satu hal, tapi setiap penulis harus membangun citra dan branding-nya, tidak hanya untuk bukunya tapi juga dirinya sebagai penulis,” ujar Namira Daufina, General Manager Pear Press. Ia menambahkan bahwa industri buku saat ini memberikan banyak pilihan, sehingga para penulis perlu membangun kehadiran yang kuat di media sosial agar bisa menarik perhatian pembaca dan penerbit.

Pemateri dan Proses Diskusi

Untuk memperkaya sesi lokakarya, Pear Press mengundang beberapa pemateri ternama. Antara lain, Christina M. Udiani, Editorial & Production Manager Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yang memberikan pemaparan tentang buku yang menarik dan stand out di mata penerbit. Selain itu, Felix K. Nesi, seorang penulis dan scriptwriter, berbagi pengalamannya dalam menyiapkan naskah premis yang kuat, menemukan suaranya, hingga membuat pitch mempromosikan dirinya kepada pembaca dan penerbit.

Sesi lokakarya dipandu oleh Nathalie Indry, seorang penyiar radio, MC, dan pegiat literasi. Peserta juga diberikan kesempatan untuk berproses dengan kertas kerjanya, yang kemudian akan di-review singkat oleh perwakilan penerbit dan mendapatkan umpan balik langsung dari para penerbit.

Pandangan dari Para Penerbit

Menurut Felix K. Nesi, para penulis perlu memetakan penerbit mana yang cocok dengan naskah mereka. “Pelajari dan cari tahu tentang apa yang dicari oleh penerbit tersebut dan bagian mana dari cerita kita yang paling cocok atau bisa menarik perhatian penerbit tersebut,” ujarnya. Menurutnya, targeting dan penyesuaian sangat penting agar naskah bisa menembus meja redaksi.

Christina M. Udiani, Editorial & Production Manager KPG, menambahkan bahwa naskah yang masuk ke penerbit bisa mencapai ratusan dalam sekali waktu. Oleh karena itu, ia menyarankan para penulis untuk terus mengejar penerbit dan tidak hanya menunggu dalam diam. “Upayakan juga naskah yang sudah kalian kirim. Cari kepastian dan jawaban dari kami, jangan dibiarkan dan dilupakan,” katanya.

Pengalaman Peserta

Salah satu peserta, Alghifahri Jasin, mengatakan bahwa workshop seperti ini sangat penting karena memberikan kesempatan bagi penulis untuk bertukar pikiran dan memahami apa yang dicari oleh para penerbit. “Jarak antara penulis dan penerbit juga jadi terjembatani,” ujarnya.

Harapan dan Tujuan Akhir

Harapan dari PearFest 2025 adalah menjadi medium advokasi suara generasi muda yang berani mendobrak batasan. Dengan tema besar “The Age of Unlearning”, festival ini mengajak para peserta untuk berhenti sejenak, mempertanyakan apa yang mereka pikir sudah diketahui, melepaskan kebenaran dan kenyamanan lama, serta memberi ruang pada apa yang belum dipahami.

Dari 14 peserta yang hadir dalam lokakarya ini, termasuk Abu Wafa, Alghifahri Jasin, Arnoldus Sailang, Iin Farliani, Ita Siregar, Juli Prasetya, Krisna Agustriana, Putu Mahatma, Ruhaeni Intan, Sunarti, Varla Nurul, Wisnu Suryaning, Wiwik Haswinda, dan Zulkifli, semoga bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar bagi para penulis muda di seluruh Indonesia.


Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *