Pengalaman Seorang Perempuan dalam Mencari “Cukup”

Sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya adalah: Apa arti cukup bagi seorang perempuan di dunia yang kini begitu jauh melaju dalam pelukan teknologi, perubahan tatanan sosial, dan ekspektasi akan peran perempuan? Pertanyaan ini terus menggerakkan saya untuk merenungkan bagaimana perempuan bisa menemukan kepuasan dalam hidupnya tanpa harus terjebak pada standar yang ditentukan oleh orang lain.
Saya telah menjalani pendidikan S1, S2, dan S3 di Amerika antara tahun 2000 hingga 2010. Gelar Ph.D saya berasal dari jurusan psikologi kognitif/neurosains kognitif. Psikologi kognitif adalah cabang ilmu psikologi yang memfokuskan penelitian pada sistem pemikiran manusia seperti memori, bahasa, pengambilan keputusan, dan lainnya. Penelitian dalam bidang ini umumnya bersifat kuantitatif dengan penekanan pada pelaksanaan eksperimen yang terkontrol. Neurosains kognitif sendiri merupakan interkoneksi antara psikologi kognitif dan fungsi berbagai struktur otak dalam menjalankan fungsi-fungsi kognitif tersebut, misalnya peran struktur otak hippocampus dalam pembentukan memori-memori baru.
Salah satu pertanyaan yang pernah saya terima adalah: Bagaimana rasanya menjalani proses meraih gelar S3? Profesor pembimbing saya—seorang neuroscientist dan neuropsikolog wanita yang menjadi contoh bagi saya—pernah berkata, “Menjadi doktor, dengan Ph.D di belakang namamu atau Dr. di depan namamu hanyalah awal dari perjalanan intelektualmu.”

Banyak hal yang kamu pelajari saat proses riset S3-mu adalah hal-hal yang bisa kamu baca dan cari online juga. Namun, hal yang tak tergantikan adalah pengalaman melakukan riset, jatuh bangun intelektualitasmu, belajar mengungkapkan pendapatmu, dan berkomunikasi mengenai ide-ide serta penerapannya. Riset doktoral adalah semacam kawah candradimuka untuk belajar mengenal kekuatan dan kelemahanmu.
Setelah meraih S3, saya mendapatkan pekerjaan sebagai dosen di National University of Singapore dan bekerja di sana antara tahun 2010 hingga 2016. Menariknya, setelah meraih gelar Ph.D, saya pikir orang akan membiarkan saya melakukan apa yang saya mau tanpa perlu diberi komentar. Ternyata tidak juga.
Saat saya mendapatkan gelar Ph.D, menikah, dan mulai bekerja sebagai dosen, komentar-komentar seperti “Kamu kok kerja terus?” atau “Kapan punya anak? Jangan lama-lama ditunda, nanti ketuaan.” mulai terdengar. Saya meraih gelar saya di usia 28 dan tentunya pada usia tersebut, saya belum “ketuaan” untuk punya anak.

Setelah saya punya anak, komentar lain mulai terdengar: “Kamu setiap hari sibuk kerja, suamimu juga, apa ada waktu mengurus anak?” “Apa bagus anak dititipkan di daycare?” “Jangan kebanyakan kerja, nanti anak dan suamimu telantar, kasihan kan.”
Sebagai catatan, anak dan suami saya tidak pernah telantar. Saya suka memasak (penghilang stres bagi saya) dan mereka makan masakan rumahan yang saya buat—saya sering memasak dalam porsi yang banyak, lalu saya bagi-bagi dan masukkan ke dalam freezer untuk dimakan berkali-kali. Suami dan saya bahu-membahu dan bekerja sama dalam mengasuh serta membesarkan anak kami. Sejak balita, anak kami dititipkan ke tempat penitipan anak dan itu adalah hal yang sangat bagus bagi perkembangan emosi, kognisi, dan sosialnya.

Jadi, tidak ada ceritanya anak dan suami yang telantar karena saya gila kerja. Saya merasa bahwa saya sebagai perempuan akan diukur dari apakah anak dan suami terurus (entah apa definisi terurus di mata orang lain, pasti beda-beda standarnya) serta apakah saya melaksanakan semua tugas rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Pencapaian saya—S3, dosen, neuroscientist—baru akan dianggap kalau ada bukti di mana saya tidak menelantarkan anak dan suami.
Ada satu lagi pertanyaan yang juga saya dapatkan karena saya “hanya” punya satu anak: “Kapan nambah anak? Kasihan anakmu enggak ada teman nanti. Tambah anak, mumpung masih kecil, jadi repotnya sekalian aja.”
Lalu setelah saya memutuskan jadi stay at home mom, pertanyaannya berubah: “Kok tidak kerja? Apa tidak sayang punya Ph.D, tapi cuma jadi mama saja?” “Ngapain sekolah tinggi-tinggi malah balik jadi IRT?”

Awalnya, segala komentar dan pertanyaan seperti itu cukup membuat saya sedih, seakan saya tidak akan pernah tiba pada fase cukup baik: selalu ada yang tidak beres, selalu ada yang masih belum saya lakukan, atau belum saya lakukan dengan benar (entah apa definisi benar di sini). Butuh waktu lama bagi saya untuk bisa mengatakan pada diri saya sendiri kalau saya merasa cukup; kalau saya berhak menjalani pilihan saya tanpa merasa bersalah. Saya adalah mama dan istri yang baik, yang kebetulan juga menyandang gelar S3, meskipun saya tidak bekerja di bidang S3 saya saat ini.
Suami saya mendukung saya sepenuhnya dalam segala keputusan saya dan bagi saya hal itu adalah pendorong paling utama. Yang terpenting—setidaknya bagi saya—adalah dukungan orang-orang terdekat saya dalam apa pun pilihan hidup saya dan itu cukup. Orang-orang ini melihat air mata dan jatuh bangun saya untuk mencapai mimpi, yang tahu pasti seberapa penting hal yang saya raih sebagai manusia.
Sekarang, saya mencoba merintis jejak kepenulisan saya karena menjadi penulis adalah impian saya sedari kecil. Saya sudah menerbitkan satu novel debut dan cerpen-cerpen saya sudah terbit di berbagai majalah sastra, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris.
Saat ini, saya bukan “hanya” ibu rumah tangga, melainkan juga IRT yang kebetulan juga sedang mengejar mimpi menjadi penulis. Gelar S3 yang saya miliki tentunya sangat saya manfaatkan dalam mengasuh dan mendidik anak. Bagi saya, gelar tersebut bukanlah sebuah kesia-siaan.
Saya perempuan yang punya mimpi. Dan yang terpenting sekarang—baik bagi saya pribadi dan bagi orang-orang terdekat saya—saya sudah merasa “cukup”.










