Memahami Peran Ibu dalam Perspektif yang Lebih Manusia
Menjadi seorang ibu sering kali datang dengan berbagai tantangan yang tidak terlihat. Ada harapan untuk selalu hadir, sabar, dan sigap dalam menjalani banyak peran sekaligus. Namun, ketika realitas tidak sesuai dengan bayangan, rasa bersalah kerap muncul dan membuat ibu mempertanyakan dirinya sendiri.
Isu ini diangkat dalam agenda “Momspiration Day” yang diselenggarakan pada Minggu (14/12/2025) di T-Space Bintaro, Tangerang Selatan. Acara ini merupakan inisiatif dari Indonesia Women Fest Go To Community sebagai ruang diskusi bagi para ibu untuk berbagi dan belajar bersama.
Indonesia Women Fest adalah komunitas yang menghadirkan percakapan dan agenda yang berkaitan dengan kehidupan perempuan di berbagai fase. Mulai dari kesehatan mental, relasi, hingga pengembangan diri. Dalam acara ini, para ibu diajak untuk melihat kembali peran mereka dari sudut pandang yang lebih manusiawi, termasuk soal menerima diri sebagai imperfect mom.
Sesi tentang Imperfect Mom
Sesi tentang imperfect mom dibahas dalam workshop bertajuk “Goodbye Mom Guilt: Kekuatan Journaling untuk Imperfect Mom” yang dibawakan oleh Psikolog Klinis sekaligus Mitra Psikolog Halodoc Miki Amrilya Wardati. Dalam sesinya, Miki mengajak para ibu untuk memahami dari mana rasa bersalah itu muncul dan bagaimana cara menyikapinya dengan lebih sehat.
Banyak ibu kesulitan menerima diri bukan karena kurang berusaha, melainkan karena ekspektasi yang tidak realistis. Ekspektasi ini kerap terbentuk dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, termasuk dari apa yang terlihat di media sosial.
Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
Tekanan tersebut juga tercermin dalam laporan Indonesia Health Insights 2025: Wellness Warriors in Silence yang dipublikasikan Halodoc. Dalam laporan tersebut, sebanyak 66 persen ibu merasakan adanya ekspektasi masyarakat agar perempuan menjadi pengasuh utama dalam keluarga. Sementara itu, tuntutan serupa tidak banyak dibebankan kepada laki-laki.
Kondisi ini membuat fokus ibu bergeser dari proses pribadi ke standar eksternal. Padahal, setiap ibu memiliki kondisi, tantangan, dan perjalanan yang berbeda. “Ekspektasi itu tetap perlu, tapi harus tahu sejauh apa realistisnya dan sejauh apa kemungkinan untuk dilakukan,” ujar Miki.
Kebutuhan Dukungan Emosional
Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa selain aspek medis, kebutuhan lain yang sangat kuat pada ibu adalah dukungan emosional atau psikologis. Sebanyak 36 persen responden menyebut dukungan kesehatan mental sebagai kebutuhan utama, sementara 25 persen lainnya menekankan pentingnya ruang aman untuk berbagi tanpa stigma.
Miki menegaskan bahwa evaluasi diri seharusnya membantu ibu bertumbuh, bukan membuatnya terus menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang belum tercapai.
Identitas DirI yang Perlahan Menghilang
Dalam pemaparannya, Miki juga menyoroti perasaan kehilangan identitas yang kerap dialami ibu, terutama mereka yang memiliki anak kecil. Peran sebagai ibu dan istri sering kali menjadi pusat kehidupan, sementara identitas sebagai individu terasa memudar.
“Banyak ibu merasa hidupnya sepenuhnya untuk orang lain. Waktu, energi, dan perhatian tercurah untuk keluarga, hingga kebutuhan diri sendiri kerap terabaikan,” ungkap Miki. Padahal, setiap ibu memiliki minat, ketertarikan, dan cara sendiri untuk merasa utuh sebagai pribadi.
Merawat Diri di Tengah Kesibukan
Menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri. Miki menekankan pentingnya menjaga ruang pribadi, sekecil apa pun bentuknya. Aktivitas sederhana yang membahagiakan diri dapat membantu ibu kembali terhubung dengan dirinya.
Di sisi lain, media sosial perlu disikapi dengan lebih bijak. Banyak konten yang menampilkan sisi terbaik dan paling mulus dari kehidupan seseorang, tanpa menunjukkan proses di baliknya. “Media sosial itu seperti dua mata pisau. Ada hal baik yang bisa diambil, tapi banyak juga yang sifatnya hiburan dan tidak selalu mencerminkan realitas,” ujarnya.
Berdamai sebagai Imperfect Mom
Miki menekankan bahwa menjadi ibu dan istri tidak menghapus identitas diri. Setiap perempuan tetap berhak merawat dirinya sendiri, termasuk memberi ruang untuk beristirahat secara emosional. Menurutnya, upaya merawat diri bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian penting agar ibu dapat menjalani peran secara berkelanjutan.
Laporan Indonesia Health Insights 2025: Wellness Warriors in Silence yang dipublikasikan Halodoc menggambarkan ibu sebagai wellness warrior, sosok yang berada di garis depan dalam menjaga kesehatan keluarga, namun kerap menempatkan kesehatannya sendiri di urutan terakhir.
Self-Care yang Realistis
Self-care pun tidak harus rumit atau mahal. Yang terpenting adalah realistis dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, agar bisa dijalani secara konsisten tanpa menambah beban. Bentuknya bisa sederhana, seperti memberi waktu untuk diri sendiri, mencari ruang aman untuk berbagi tanpa stigma, atau mendapatkan dukungan profesional saat dibutuhkan.
Sejalan dengan pesan tersebut, Halodoc juga mengangkat narasi imperfect mom sebagai bagian dari kampanye untuk mendorong ibu lebih menerima diri apa adanya, sekaligus berani mencari dukungan saat dibutuhkan. Menjadi imperfect mom bukan kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan menjadi ibu yang terus belajar, bertumbuh, dan tetap layak dirawat sebagai manusia seutuhnya.
Lewat Momspiration Day, Indonesia Women Fest menghadirkan ruang aman bagi para ibu untuk berdamai dengan diri sendiri dan menjalani peran dengan lebih ringan. Bagi para ibu yang ingin mencari dukungan, konsultasi dengan psikolog dapat dilakukan melalui aplikasi Halodoc.










