My WordPress Blog

Narasi peneliti Cambridge: Usia 32 Masih Remaja?

Penelitian dari University of Cambridge Mengungkap Fase Perkembangan Otak Manusia

Beberapa waktu terakhir, beredar sebuah narasi yang viral di media sosial dengan isi, “Peneliti dari Cambridge University Ungkap Jika Umur 32 Tahun Masih Dianggap Remaja”. Narasi ini menarik perhatian banyak orang, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi fase krisis kehidupan atau cicilan hidup. Namun, sebelum merasa bahwa hal ini adalah validasi atas kebingungan hidup, mari kita pelajari lebih dalam apa yang sebenarnya dimaksud oleh para ilmuwan.

Tim peneliti mencoba mencari sumber jurnal asli dari unggahan tersebut. Pencarian merujuk pada rilis dari University of Cambridge pada November 2025 lalu. Setelah itu, berhasil ditemukan jurnal penelitian yang terbit dalam Nature Communications pada 25 November 2025. Riset ini membahas perubahan jaringan otak sepanjang hidup manusia.

Faktanya, yang dibahas bukanlah remaja dalam arti status sosial atau tahap hidup seperti yang kita kenal sehari-hari. Penelitian ini justru membahas tentang fase perubahan jaringan otak dari lahir sampai lanjut usia. Dalam salah satu fase tersebut, peneliti menggunakan istilah adolescent atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai remaja. Namun, yang dimaksud dalam fase ini adalah konektivitas otak.

Fase Perkembangan Otak Manusia

Riset ini dilakukan untuk memetakan bagaimana otak manusia terhubung dan berubah. Peneliti menggunakan pencitraan MRI pada 3.802 partisipan dalam rentang usia 0-90 tahun. Data tersebut digunakan untuk melihat pola konektivitas otak. Hasilnya, perkembangan otak manusia ternyata tidak linier melainkan punya 4 titik balik yang spesifik.

Salah satunya adalah fase remaja pada usia 9-32 tahun. “Kita tahu, susunan saraf otak sangat penting bagi perkembangan manusia, tapi kita belum memiliki gambaran besar tentang bagaimana itu berubah sepanjang hidup dan mengapa,” kata pemimpin penelitian ini, Dr. Alexa Mousley.

Fase Remaja: Otak Sedang “Encer-Encernya”

Temuan utama yang sering disalahartikan adalah mengenai durasi perkembangan otak. Mousley dan rekannya mengidentifikasi bahwa terdapat empat titik balik utama dalam topologi otak manusia, yaitu pada usia sekitar 9, 32, 66, dan 83 tahun. Titik-titik ini membagi kehidupan kita menjadi lima babak atau fase yang berbeda.

Fase pertama adalah childhood atau anak-anak pada rentang usia 0-9 tahun. Yang menjadi sorotan adalah fase kedua, yang dimulai dari usia 9 tahun dan baru berakhir di usia 32 tahun. Dalam konteks neurosains, para peneliti menyebut periode panjang ini sebagai fase “adolescence” atau masa remaja dalam artian biologis jaringan saraf otak.

Dari usia 9 hingga 32 tahun, otak kita berada dalam lintasan pengembangan yang sama, yaitu fokus pada peningkatan integrasi jaringan. Artinya, kecepatan informasi yang berpindah di otak terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 29 tahun. Dengan kata lain, dalam rentang usia 9-32 tahun, otak sedang encer-encernya. Pada usia ini, orang lebih cepat belajar dan adaptif.

Fase Dewasa: Stabilitas dan Spesialisasi

Setelah melewati usia 32, kita memasuki fase ketiga yang berlangsung hingga usia 66 tahun. Ini adalah era terpanjang dalam kehidupan otak manusia, yang oleh tim peneliti disebut sebagai masa “adult brain” atau dewasa. Berbeda dengan fase sebelumnya yang penuh gejolak perubahan dan peningkatan efisiensi, fase ini ditandai dengan stabilitas.

Di fase ini, otak mulai melakukan segregasi atau pengelompokan area yang lebih spesifik. Jika di fase “remaja” otak kita seperti startup yang sedang lincah dan mencoba menghubungkan segala hal, maka di fase dewasa, otak kita berubah menjadi korporasi yang mapan dengan kotak-kotak departemen yang sudah bisa bekerja secara efisien di ranahnya masing-masing.

Fase Lanjut Usia: Penurunan Integrasi Jaringan Otak

Studi dalam Nature Communications ini juga menyoroti apa yang terjadi di usia senja melalui fase 4 yang diberi label early ageing (66-83 tahun) dan fase 5 atau late ageing (83-90 tahun). Titik balik di usia 66 tahun menandai dimulainya integrasi jaringan otak menurun. Bukan hanya itu, mulai terlihat keterpisahan antar-jaringan otak yang meningkat tajam.

Di fase late ageing (di atas 83 tahun), konektivitas otak menjadi sangat terlokalisasi, bergantung pada area-area tertentu saja. Titik balik di usia 66 dan 83 tahun mengingatkan kita bahwa penurunan fungsi otak adalah proses biologis yang terstruktur, bukan kegagalan tiba-tiba.

Kesimpulan

Narasi bahwa usia 32 tahun masih masuk masa remaja tidak sepenuhnya salah. Narasi ini bisa diartikan bahwa di awal usia 30-an, sains masih membuktikan bahwa ini waktu yang tepat untuk terus berproses dan upgrade diri karena otak sedang encer-encernya. Jadi, jangan ragu untuk terus “upgrade” untuk menyiapkan fondasi kedewasaan Anda di usia kepala tiga.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *