Kematian Mahasiswi UNIMA Mengungkap Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus
Kematian Anthonieta Evia Maria Mangolo (21), seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA), telah memicu kembali isu pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Tragedi ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga mengungkap rekam jejak dugaan tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh seorang dosen berinisial DM.
Evia Maria ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Kaaten, Kota Tomohon, pada Selasa, 30 Desember 2025. Korban ditemukan dalam kondisi gantung diri, dan di lokasi kejadian ditemukan surat pengaduan yang menyebut dugaan pelecehan seksual yang dialaminya. Surat tersebut ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd., dan mencatat kronologi peristiwa yang memengaruhi kondisi psikologis korban.
Alumni Buka Suara tentang Dugaan Pelaku
Setelah kasus ini mencuat, seorang alumni UNIMA memberikan pengakuan mengejutkan. Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, ia menyebut bahwa dosen berinisial DM bukanlah pelaku baru dalam kasus serupa. Menurut alumni tersebut, perilaku menyimpang dosen tersebut sudah menjadi rahasia umum sejak lebih dari satu dekade lalu.
“Ketika ditelusuri, ini dosen yang sama. Sepuluh tahun lalu saya kuliah di sana, pelakunya juga dia. Saya yakin teman-teman alumni pasti tahu jejak Mner ini. Predator kampus ini harus segera diamankan,” ujar alumni tersebut.
Pengakuan ini memperkuat sorotan publik terhadap dugaan pembiaran sistemik di lingkungan kampus UNIMA.
Isi Lengkap Surat Pengaduan
Surat pengaduan yang ditemukan di lokasi kejadian menunjukkan bahwa korban mengalami tekanan batin yang sangat berat. Dalam surat tersebut, Maria mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dialaminya dari dosen berinisial DM.
Menurut korban, kejadian bermula dari pesan singkat yang dikirimkan oleh dosen tersebut. Ia menulis, “Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya. Beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab, ‘Maria tidak tau ba urut Mner’. Mner bilang, ‘Mener capek sekali’.”
Dalam surat itu, korban juga menyatakan bahwa setiap kali bertemu dengan DM, ia merasa malu jika ada mahasiswa yang melihatnya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan. Ia merasa tertekan dengan masalah ini dan mengungkapkan rasa takut serta trauma akibat kejadian tersebut.
Peristiwa Berlanjut: Dari Pesan Singkat hingga Kecurigaan
Peristiwa berlanjut ketika korban diminta untuk naik ke mobil dosen tersebut. Tanpa kecurigaan, korban menuruti permintaan tersebut. Namun, sejak awal perjalanan, rasa tidak nyaman mulai muncul. Korban sempat menanyakan tujuan perjalanan, termasuk kaitannya dengan urusan akademik dan nilai. Jawaban yang diterimanya justru membuat kebingungan semakin dalam.
“Beliau hanya bilang capek sekali,” tulis korban. Rasa tidak aman kian meningkat, sehingga korban mengirim pesan kepada temannya dan membagikan live location secara diam-diam. Baterai ponsel yang kian menipis membuatnya panik, takut komunikasi terputus sewaktu-waktu.
Kecurigaan Berubah Menjadi Pelecehan
Setibanya di lokasi, situasi berubah semakin mencekam. Korban mengaku dosen tersebut merebahkan sandaran kursi dan kembali meminta diurut. Ia menolak, dengan alasan tidak tahu caranya. Namun penolakan itu tak menghentikan tindakan terduga pelaku. Ia justru memberi contoh langsung. Korban menyebut tangan dosen tersebut mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya, lalu berpindah ke paha korban tanpa izin.
Ucapan bernuansa seksual pun dilontarkan, membuat korban merasa terhina dan ketakutan. Maria menegaskan bahwa tindakan tersebut telah melewati batas, tetapi respons yang diterima justru semakin menekan kondisi mentalnya.
Tindakan yang Terus Berlangsung
Meski korban meminta pulang dengan alasan temannya sudah menunggu, dosen tersebut sempat meminta maaf dan menyebut dirinya “keenakan”. Namun situasi kembali memburuk. Pelaku meminta izin untuk mencium korban. Maria menolak keras sambil menangis. Meski demikian, ia mengaku pipinya tetap ditarik dan dicium secara paksa. Korban menutupi mulut dengan satu tangan dan mendorong pelaku dengan tangan lainnya.
Di tengah kejadian itu, mobil sempat melintas di depan dua petugas keamanan kampus. Pelaku hanya menurunkan kaca sedikit dan menyapa satpam, seolah tak ada apa pun yang terjadi.
Permintaan Sanksi dan Pernyataan Akhir
Korban akhirnya diturunkan di depan prodi sekitar pukul 15.03 WITA. Ia mengaku merasa jijik, marah, dan kecewa karena perilaku dosen tersebut jauh dari nilai seorang pendidik. Dalam pengaduannya, Maria menyatakan mengalami trauma, ketakutan, dan tekanan psikologis. Ia merasa malu dan khawatir terlihat bersama dosen tersebut karena takut menjadi bahan pembicaraan di lingkungan kampus.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi dalam lingkup kampus dan telah berdampak serius pada kondisi mental serta rasa amannya sebagai mahasiswa. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus maupun terlapor.
Informasi Penting dan Layanan Konseling
Berita ini tidak bertujuan menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/











