My WordPress Blog

Kodam I/Bukit Barisan Berduka, Praka Satria Taopan Gugur Ditembak KKB Papua

Prajurit Kodam I/BB Gugur di Medan Pertempuran Papua

Prajurit Kodam I/BB bernama Praka Satria Taopan (29) gugur dalam medan pertempuran di Papua. Ia adalah anggota dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/BB. Kejadian tersebut terjadi di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, pada Kamis (8/1/2026). Jasad Praka Satria kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (11/1/2026) sore.

Proses Pemakaman yang Mengharukan

Prosesi pemakaman dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat. Isak tangis dari pihak keluarga mengiringi upacara pemakaman militer yang dilaksanakan dengan khidmat. Ibunda Praka Satria, Dorkas Johana, tak kuasa menahan air mata saat peti berbalut Merah Putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat. Di situlah putra sulungnya, beristirahat untuk selamanya setelah gugur saat menjalankan tugas negara di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026).

Bagi Dorkas, kehilangan ini adalah luka yang tak pernah ia bayangkan akan datang secepat ini. Namun di balik kesedihan itu, ada kebanggaan yang ia genggam erat. Kebanggaan seorang ibu yang melepas anaknya gugur demi negara.

“Sebenarnya saya tidak kuat menerima ini sebagai seorang mama,” ujar Dorkas dengan suara bergetar.

“Tapi karena dia punya niat sendiri, dia nekat jadi anggota TNI. Dia selalu bilang, mama harus bangga kalau saya gugur di medan pertempuran demi NKRI.” Kata-kata itu kini terngiang jelas di kepalanya.

Pesan Subuh Terakhir

Komunikasi terakhir Dorkas dengan Satria terjadi Rabu (7/1/2026) pagi sehari sebelum gugur. Seperti biasa, pukul 05.00 subuh, ia bangun dan masuk ke ruang doanya. Dari sanalah ia mengirim firman dan salam melalui pesan WhatsApp kepada dua anaknya. Satria yang bertugas di Papua dan adiknya yang berdinas sebagai polisi di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

“Saya tunggu balasan,” tutur Dorkas.

“Kadang Satria yang balas duluan, kadang adiknya. Dia punya kebiasaan bilang, ‘salom mama sayang’.” Pesan itu menjadi salam terakhir yang ia terima dari sang anak.

Satria sempat mengeluh tentang beratnya tugas. Namun sebagai ibu, Dorkas memilih menguatkan, bukan melarang.

“Saya bilang, hari itu kakak yang putuskan jadi TNI. Jangan mengeluh ke mama atau bapa. Kalau sudah pilih jalan ini, harus kuat. Dia jawab, ‘siap mama’,” kenangnya.

Harapan yang Berubah Menjadi Kenyataan

Ironisnya, Minggu (11/1/2026) seharusnya menjadi hari bahagia. Satria dijadwalkan pulang ke Kupang setelah tugasnya di Papua selesai. Kepulangan yang dinanti keluarga itu berubah menjadi kepulangan terakhir, dalam peti jenazah.

Ayah kandung Satria, Dominikus Taopan, menuturkan putranya adalah prajurit yang nyaris tak pernah beristirahat dari medan tugas. “Sejak pertama bertugas tahun 2022, dia tidak pernah benar-benar pulang ke Kupang,” kata Dominikus.

Setelah pendidikan, Satria ditempatkan di Medan, lalu langsung tergabung dalam satuan tugas di Merauke, Papua. Dari Papua, Satria kembali menantang dirinya. Ia mengikuti seleksi pasukan penjaga perdamaian PBB. Dari sekitar 4.000 personel yang mengikuti tes, hanya 900 yang terpilih ke Kongo. Nama Satria termasuk di antaranya.

“Kami bersyukur dan bangga. Dia jadi pasukan PBB,” ujar Dominikus.

Penugasan Kedua Sempat Ditolak Keluarga

Namun tugas belum selesai. Satria kembali ditugaskan ke Papua untuk kedua kalinya. Kali ini muncul penolakan dari rumah, terutama dari sang ibu.

“Saya sudah pasti menolak. Sebagai mama, saya lihat kondisi di sana. Banyak kejadian, banyak korban,” kata Dorkas.

Namun Satria tetap pada pendiriannya. “Dia bilang, ‘Mama, saya sudah jadi anak negara. Saya harus tanggung jawab tugas saya. Kalau Tuhan berkenan saya gugur, saya bangga. Semua orang juga bangga kalau saya di atas tempat tidur jenazah loreng’,” tutur Dorkas lirih.

Kekhawatiran keluarga akhirnya menjadi kenyataan. Dominikus mengaku rasa takut sempat menyelimuti keluarga saat mengetahui Satria kembali ditugaskan ke Papua.

“Ternyata yang kami takuti itu betul-betul terjadi,” ucapnya pelan.

Meski duka mendalam, kebanggaan tak pernah lepas dari hati kedua orangtua itu. Upacara pemakaman militer yang khidmat menjadi penegasan terakhir bahwa Satria adalah prajurit negara.

Usai upacara, Komandan Kodim (Dandim) 1604/Kupang, Kolonel Inf Kadek Abriawan, menyerahkan bendera Merah Putih kepada Dorkas dan Dominikus. Bendera yang sebelumnya menutupi peti jenazah putra mereka.

“Kami akan simpan baik-baik. Ini kenang-kenangan dan sejarah paling terbaik untuk keluarga kami,” kata Dominikus.

Dorkas menambahkan, “Kami bangga. Merah putih ada di atas pundaknya. Dia pergi sebagai prajurit sejati.”

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *