Fasilitas Chairlift di Tugu Monas untuk Membantu Pengunjung dengan Keterbatasan Mobilitas
Tugu Monumen Nasional (Monas) di Gambir, Jakarta Pusat, kini dilengkapi fasilitas chairlift atau kursi angkat yang bertujuan untuk membantu mobilitas pengunjung lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, hingga ibu hamil saat naik dan turun tangga di area tersebut. Fasilitas ini diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pihak pengelola untuk memastikan seluruh pengunjung dapat menikmati keindahan dan sejarah Monas tanpa mengalami kesulitan.
Chairlift digunakan untuk membantu lansia dan penyandang disabilitas agar bisa berkunjung ke ruang diorama dan puncak Tugu Monas. Fasilitas ini berupa kursi yang menempel pada rel besi yang dipasang di sepanjang jalur tangga Tugu Monas dan dapat digunakan tanpa pungutan biaya.
Pengadaan chairlift di kawasan Monas telah dilakukan secara bertahap sejak 2020 dengan sumber anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf). Realisasi tahap awal dilakukan di dekat pintu masuk Museum Monas. Selanjutnya, chairlift dipasang pada rute dari ruang diorama menuju tangga tengah yang mengarah ke pelataran cawan Monas. Pada 2025, fasilitas serupa kembali ditambahkan di titik pintu keluar Museum Monas yang terhubung dengan ruang diorama.
Cara Kerja Chairlift
Saepudin, salah satu petugas Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, menjelaskan bahwa sebelum memanfaatkan fasilitas tersebut, pengunjung lansia dan ibu hamil akan terlebih dahulu ditanya oleh petugas UPK Monas. Pertanyaan itu biasanya disampaikan ketika petugas melihat lansia, ibu hamil, atau penyandang disabilitas yang hendak memasuki Kompleks Tugu Monas.
Petugas akan bertanya apakah pengunjung masih kuat naik tangga atau ada kendala saat turun tangga. Jika ada, mereka akan dibantu untuk memanfaatkan chairlift. Untuk penyandang disabilitas, pihak pengelola langsung fasilitasi. Saat menggunakan chairlift, semua tetap diawasi dan bantuan diberikan melalui remote control untuk menggerakkan lift angkat.
Petugas kemudian akan membuka kursi chairlift yang terlipat agar bisa diduduki oleh pengguna. Setelah pengguna duduk, sabuk pengaman dipasang melintang di bagian paha untuk menjaga keamanan. Selanjutnya, petugas memberi aba-aba bahwa chairlift siap digunakan. Petugas menekan tombol pada remote control, dan pengguna hanya perlu duduk saja. Chairlift akan langsung membawa menaiki tangga sampai ke atas atau sebaliknya.
Petugas siap mengawasi selama chairlift digunakan untuk menaiki dan menuruni tangga. Namun, para pengguna juga bisa mengatur pergerakan chairlift secara mandiri dengan menyentuh alat pengendali seperti bola yang ada di lengan kursi chairlift. Tekan dan tahan, lalu chairlift akan bergerak saat naik ke arah atas atau bawah. Jika dilepas, kursi akan berhenti.
Kapasitas dan Pengalaman Pengguna
Saepudin menyebutkan bahwa kapasitas chairlift memiliki batas berat maksimal untuk pengguna yang diangkut. Maksimal chairlift ini mengangkut beban 120 kilogram (kg). Jika lebih dari itu, berisiko.
Saat mencoba chairlift, waktu tempuh naik maupun turun masing-masing sekitar satu menit. Sementara itu, pada tangga yang menghubungkan Museum Monas dengan tangga menuju Cawan Monas, waktu yang diperlukan untuk naik dan turun masing-masing sekitar 1 menit 45 detik. Adapun untuk menaiki tangga menuju Cawan Monas, waktu tempuhnya kurang dari satu menit.
Chairlift buatan Taiwan ini bergerak perlahan dan tidak terasa curam saat digunakan untuk turun tangga. Saat chairlift bergerak naik maupun turun, terdengar alunan musik berupa petikan gitar dengan irama pop. Menurut Saepudin, musik tersebut sudah menjadi bagian dari desain produsen.
Tanggapan Warga
Sejumlah warga turut menggunakan fasilitas ini saat berkunjung di Monas. Salah satunya adalah Eli Nursari (59 tahun), warga Lumajang, Jawa Timur, yang kakinya sakit akibat faktor usia. Ia mengaku bahwa naik tangga masih kuat, tetapi sulit saat turun. Ia langsung setuju saat ditawarkan untuk mencoba chairlift. Ia berharap fasilitas ini disosialisasikan lebih luas agar pengunjung lebih paham fungsinya dan tahu bahwa fasilitas ini dapat digunakan secara gratis.
Pengunjung lain, Lukita (64 tahun), awalnya menduga fasilitas chairlift berbayar. Ia mengatakan bahwa meskipun masih kuat naik dan turun tangga, ia merasa malu jika harus menggunakan chairlift. Namun, ia berencana memberi tahu teman-temannya tentang fasilitas ini.
Gratis dan Akan Ditambah
Pengelola kawasan Monas memastikan fasilitas chairlift atau kursi angkat di dalam area Tugu Monas dapat digunakan secara gratis bagi pengunjung yang membutuhkan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas. Fasilitas ini disediakan untuk membantu pengunjung dengan keterbatasan mobilitas agar tetap dapat menikmati seluruh area Monas, termasuk ruang diorama dan pelataran cawan.
Ke depan, pengelola Monas juga berencana menambah satu rute chairlift baru, yakni dari ruang tengah ke pelataran Utara. Insya Allah, rute ini akan dianggarkan dalam tahun ini sehingga nanti bisa digunakan di dua sisi (dekat pelataran selatan dan utara).
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










