My WordPress Blog

Polisi Belum Tindak Warga yang Robohkan Pondok Tahfidz, Fokus Kasus Dugaan Pelecehan 7 Santriwati

Kasus Pelecehan Seksual di Pondok Tahfidz, 7 Santriwati Diduga Jadi Korban

Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Pada Minggu (4/1/2026) malam lalu, sejumlah warga setempat dan para wali santri ramai-ramai merobohkan sebuah Pondok Tahfidz. Kejadian ini dipicu oleh dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh AMR (31), pengasuh pondok tersebut.

Menurut informasi yang beredar, AMR diduga telah melakukan tindakan tidak senonoh terhadap sejumlah santriwati. Hingga saat ini, ada tujuh korban yang disebut-sebut menjadi korban pelecehan, namun hanya satu orang yang melaporkannya ke polisi. Korban tersebut berinisial N, seorang siswi kelas 1 SMA.

Kasus ini terungkap setelah N bercerita kepada orangtuanya saat liburan. Setelah mendengar cerita putrinya, keluarga langsung mengunjungi pondok tersebut dan menemukan fakta bahwa anak-anak lain juga mungkin menjadi korban. Dari situ, muncul kecurigaan dan kemudian memicu aksi massa yang merobohkan pondok tersebut.

Polrestabes Medan telah menahan AMR sebagai tersangka. Kanit PPA Sat Reskrim Polrestabes Medan, Iptu Dearma Agustina, menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya hanya menerima satu Laporan Polisi (LP) dari korban N. “Saat ini korbannya yang melapor cuma satu orang,” ujarnya.

Meskipun ada enam santriwati lain yang disebut-sebut menjadi korban, mereka belum membuat LP, tetapi dianggap sebagai saksi dalam kasus ini. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk melengkapi berkas perkara dan akan melanjutkannya ke Jaksa Penuntut Umum.

Kekhawatiran dan Tindakan Massa

Seorang warga setempat, Hendro, menyampaikan bahwa dugaan perbuatan cabul itu terungkap setelah korban mengadu kepada orang tuanya usai masa libur. Menurut Hendro, korban menolak kembali ke pondok setelah liburan, sehingga menimbulkan kecurigaan pihak keluarga hingga akhirnya korban mengaku mengalami pelecehan.

“Pas libur, dia enggak mau balik ke pondok. Terus mengaku kalau pernah dilecehkan,” ujar Hendro saat ditemui di lokasi kejadian.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah wali santriwati lain turut mengungkap bahwa anak mereka juga diduga menjadi korban pelecehan oleh AMR. “Mereka wali santri ada grup WhatsApp. Di situ pada mengaku kalau anaknya pernah dilecehkan,” kata warga.

Pentingnya Pendidikan Seksual

Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani SPsi MSi, menyoroti pentingnya pendidikan seksual bagi anak-anak. Menurutnya, norma-norma yang berkembang di masyarakat sering kali merugikan perempuan atau anak, terutama dalam hal kesetaraan gender.

“Karena posisi perempuan dianggap di bawah laki-laki, secara gender (dianggap) tidak setara. Sering juga ada anggapan di masyarakat bahwa murid itu harus menurut apa pun yang dikatakan guru,” ujar Nina.

Ia menegaskan bahwa pendidikan seksual bukan berarti mengajarkan anak tentang hubungan seks, tetapi lebih pada memberikan pemahaman tentang batasan dan cara melindungi diri. “Justru pendidikan seksual seperti inilah yang sangat penting. Jadi dia (anak) tahu, misal, kalau ada guru atau siapa pun itu menyuruhnya membuka baju atau telanjang, maka jangan mau.”

Nina menyarankan agar orang tua dan guru memberikan penjelasan serta cara-cara yang bisa dilakukan oleh anak saat menghadapi kondisi ketika diminta membuka baju oleh orang lain atau mendapat perlakuan tidak senonoh. “Kita ajarkan cara-cara menolak, kita kasih kalimat-kalimat yang konkret yang bisa dia ucapkan. Kami juga beri tahu langkah-langkah yang bisa dilakukan, kalau sampai ada pemaksaan, ‘Kamu bisa, kok, lari,’” tambahnya.

Langkah Ke depan

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran masyarakat dan sistem pendidikan dalam melindungi anak-anak dari tindakan tidak senonoh. Selain itu, upaya pencegahan melalui pendidikan seksual dan sosialisasi kekerasan seksual perlu terus dilakukan agar anak-anak dapat melindungi diri dan mengenali tanda-tanda bahaya.


Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *