My WordPress Blog

Cara Murah ke Taj Mahal: Hati-Hati dengan Penipu di New Delhi

Pengalaman Perjalanan Menuju Taj Mahal

Berlibur ke India tentu tidak akan lengkap tanpa mengunjungi salah satu ikon terkenal dunia, yaitu Taj Mahal. Bangunan yang diakui sebagai salah satu keajaiban dunia ini memiliki desain yang begitu menakjubkan dan memikat hati para wisatawan dari seluruh dunia. Berikut ini adalah pengalaman pribadi saya dalam perjalanan menuju lokasi tersebut.

Awalnya, saya mengira Taj Mahal berada di Ibu kota India, New Delhi. Namun setelah diteliti lebih lanjut, ternyata tempat ini berada di kota Agra. Dari New Delhi, saya memilih untuk menggunakan kereta api sebagai transportasi. Saya memesan tiket dari Stasiun New Delhi dan turun di Stasiun Agra Cant, salah satu stasiun utama di kota tersebut.

Pemilihan Transportasi

Ada banyak pilihan transportasi umum yang bisa digunakan untuk mencapai Agra, mulai dari bus hingga pesawat. Namun, saya memilih kereta api karena dinilai lebih praktis dan aman. Untuk menghindari antrean panjang dan mengurangi risiko mendapatkan kursi kelas ekonomi yang kurang nyaman, saya memesan tiket tiga bulan sebelum hari H.

Saya memesan tiket melalui aplikasi 12.go dengan harga sekitar Rp. 180.000 sekali jalan. Meskipun harga di loket lebih murah, saya memilih booking online karena lebih mudah dan tidak perlu repot. Dengan harga tersebut, saya mendapatkan kursi di kelas VVIP yang cukup nyaman. Menurut informasi, aplikasi tersebut biasanya hanya menawarkan kursi kelas VVIP, sehingga saat kursi habis, masih tersedia kelas ekonomi yang hanya bisa dipesan langsung di stasiun.

Perjalanan Kereta Api

Perjalanan dimulai pukul 06.00 pagi. Sebelum jam tersebut, saya sudah berangkat dari penginapan pada pukul 05.00. Musim dingin membuat suhu sangat dingin, namun stasiun ternyata buka 24 jam. Seperti biasa, saya harus waspada terhadap penipu yang sering mengganggu wisatawan. Salah satu orang mencoba mengarahkan saya ke peron lain dengan alasan palsu, tetapi saya tetap berada di peron yang benar.

Kereta tiba di stasiun sekitar 30 menit sebelum keberangkatan. Suasana dalam kereta cukup nyaman dengan AC yang belum dinyalakan karena musim dingin. Kursi berwarna hijau tua dan cukup empuk. Di samping atas hanya tersedia dua colokan untuk empat kursi. Saat duduk, petugas memberikan minuman selamat datang, seperti segelas teh hangat dan kue keju kecil yang rasanya enak.

Interaksi Selama Perjalanan

Selama perjalanan, saya berbincang dengan teman sebangku, seorang pria asli Mumbai yang juga ingin berkunjung ke Taj Mahal. Meskipun dia tidak bisa berbicara bahasa Inggris, kami berdua saling berbagi cerita dan saling terkesan dengan pemandangan luar kereta yang diselimuti kabut tebal dan masih gelap meski sudah pukul 8 siang.

Makanan kedua datang dalam bentuk susu pisang kotak, gorengan khas India, serta kue yang rasanya lezat. Namun, ada hal aneh ketika makanan tersebut diberikan kepada saya, padahal teman sebangku tidak diberi. Petugas kemudian meminta saya membayar 100 rupee, yang membuat saya marah karena tidak tahu bahwa makanan tersebut tidak termasuk dalam harga tiket. Akhirnya, saya menolak membayarnya karena merasa tertipu.

Tiba di Agra

Akhirnya, kereta tiba di Agra pukul 09.00, meskipun terlambat satu jam dari jadwal. Setelah turun dari kereta, banyak supir tuktuk yang mencoba menawarkan jasa mereka. Saya akhirnya memilih naik tuktuk dengan harga 100 rupee meskipun menurut saya agak mahal. Alasannya, jarak dari stasiun ke Taj Mahal cukup dekat, dan saya tidak ingin repot berdebat.

Taj Mahal memiliki dua pintu masuk, yaitu Pintu Barat dan Pintu Timur. Saya memilih Pintu Timur karena medannya lebih nyaman dan hotel saya berada di sekitaran area tersebut. Kota Agra terasa tenang dan sunyi, tetapi tetap modern dengan adanya metro yang memudahkan transportasi.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *