My WordPress Blog

Drama pendek mengancam industri film?

Popularitas Drama Pendek yang Mengubah Kebiasaan Hiburan

Popularitas drama pendek atau microdrama kini sulit untuk diabaikan. Ia menjadi candu baru bagi banyak orang, terutama pengguna ponsel. Dengan durasi pendek dan cerita yang padat serta memikat, microdrama memang membuat banyak orang beralih dari film maupun serial konvensional. Logikanya, pada era yang serba cepat ini, produk instan apa pun yang tidak diminati? Microdrama seolah menjadi jawaban untuk pengisi waktu yang juga tidak membutuhkan komitmen tinggi, apalagi daya pikir kritis. Namun, benarkah ia lebih terhormat dibanding doomscroll? Selain itu, apakah eksistensinya juga menjadi ancaman bagi industri film?

Drama Pendek sebagai Inovasi yang Tak Lepas dari Kritik



Drama pendek memang sebuah inovasi brilian. Ia berhasil menjawab tantangan disrupsi digital yang membuat orang asing akan kebosanan. Harus ada sesuatu yang mengisi waktu mereka, entah pekerjaan atau hiburan. Media sosial dan platform streaming menjawab hal itu dengan memastikan akses terhadap hiburan dan narasi yang eskapis bisa diakses dari genggaman tangan: ponsel.

Namun, seiring waktu, muncul fenomena media fatigue, momen saat orang mulai bosan dan lelah dengan interaksi digital terus-menerus di media sosial. Di sisi lain, mereka juga mulai ogah menonton serial bermusim-musim atau film berjam-jam di platform streaming. Di sinilah, produsen microdrama masuk ke celah kosong tersebut. Mereka menawarkan gabungan antara narasi memikat ala film/serial konvensional, tetapi dalam durasi yang jauh lebih pendek, kurang dari 10 menit. Hebatnya lagi, untuk nonton episode berikutnya, pengguna bisa menggulir layar layaknya menonton konten di media sosial.

Tak pelak, microdrama mendulang popularitas. Pertama kali muncul pada 2022, kini microdrama menjadi sesuatu yang normal dikonsumsi. Louis Zhao dalam video esainya yang berjudul “The Rise of China’s Micro Dramas: The Death of Attention Span?” menganalogikan drama pendek seperti camilan. Kamu mengonsumsinya tanpa pikir panjang, tanpa harus memasaknya terlebih dahulu, apalagi membeli dan memilih bahan. Ia tersedia dalam bentuk siap konsumsi, ringan di perut, tetapi bikin nyaman. Kurang lebih seperti itulah drama pendek buat konsumennya.

Namun, seperti camilan pula, drama pendek punya efek adiktif yang sama halnya dengan doomscroll. Orang termasuk konsumennya pun menyadari bahwa drama pendek punya kualitas tak bagus, plotnya formulaik alias mudah ditebak, dan aktingnya pun tak maksimal. Namun, demi menghindari kebosanan, ia dipilih jadi sumber hiburan mudah dan murah.

Ladang Profit untuk Kapitalis



Harga ini jadi unik. Sebenarnya, biaya yang kamu bayar untuk nonton ratusan opsi drama pendek tidak jauh beda dengan biaya langganan bulanan platform streaming pada umumnya. Namun, mereka tak jarang memberi opsi gratis beberapa episode atau membuat gebrakan bersama penyedia layanan seluler. Tak sedikit provider telepon seluler yang menawarkan opsi pembelian paket data bundel dengan langganan OTT drama pendek. Ini jelas menarik kaum mendang-mending yang gak mau rugi.

Gebrakan itu sebenarnya sudah dilakukan pula oleh penyedia layanan OTT pelopor. Namun, satu yang mereka tidak bisa penuhi ialah format vertikal dan kualitas gambar HD. Penyedia layanan streaming platform besar tentu gak mau rugi. Mereka memang awalnya mendesain konten mereka untuk layar desktop dan televisi.

Dari sisi produsen dan pemilik modal (kapitalis), drama pendek juga menguntungkan. Mereka tak perlu anggaran besar untuk produksi layaknya film konvensional. Jumlah kru dan aktor bisa ditekan, begitu pula durasi produksi. Namun, keuntungannya gak main-main. Menurut data yang dihimpun CNBC dari China Netcasting Services Association, sebuah lembaga yang mengatur industri konten audiovisual daring di China yang juga produsen terbesar microdrama, valuasi sektor ini mencapai 6,9 miliar dolar AS (Rp116,7 triliun). Perusahaan konsultan media dan hiburan Owl & Co merilis estimasi bahwa drama pendek asal China bisa menghasilkan pendapatan sampai 3 miliar dolar AS (Rp50,7 triliun) dari audiens luar negeri pada 2025.

Ini memang belum bisa menyamai platform streaming besar, macam Netflix dan Prime Video, tetapi pertumbuhannya sangat cepat. Apalagi, konsumen drama pendek ternyata gak terbatas pada anak muda. Ia justru cukup populer di kalangan penonton berumur 25 tahun ke atas dengan rentang usia 30–40-an sebagai kelompok usia terbanyak. Ini artinya, audiens mereka sudah relatif stabil secara finansial. Produsen dan distributor drama pendek memanfaatkan media sosial dan platform streaming, seperti YouTube, sebagai tempat mereka beriklan. Coba sudah berapa kali kamu melihat iklan drama pendek saat lagi asyik menggulir layar HP?

Bisakah Microdrama Mematikan Industri Film Konvensional?



Pertanyaannya, apakah drama pendek bisa jadi ancaman buat industri film konvensional? Jawabannya belum bisa dipastikan mengingat drama pendek baru eksis beberapa tahun. Namun, perkembangan pesatnya mungkin dikhawatirkan bisa bikin investor melirik drama pendek ketimbang menggelontorkan dana ke rumah produksi konvensional, apalagi sineas independen.

Kita bahkan sudah disuguhi banyak kasus miris soal rumah produksi dan distributor film konvensional yang mengalami kontraksi finansial. Warner Bros., misalnya, bersiap menjual sahamnya pada Netflix. Sementara, MUBI yang dikenal sebagai surga sinefili progresif sampai melepas idealisme mereka dengan menerima investasi dari perusahaan problematik Sequoia Capital. Kita pun tak bisa memungkiri beralihnya perusahaan distributor film arthouse berbujet rendah seperti A24 ke arah mainstream demi mempertahankan bisnis mereka.

Berkaca dari itu, sebenarnya gak berlebihan ketika orang mengeklaim microdrama sebagai ancaman. Nyatanya, meski tak serta-merta mematikan industri film konvensional, tren microdrama bakal mengubah pola konsumsi dan sikap pasar secara perlahan.

Rekomendasi Film Terbaru di Netflix

8 Film Seru yang Tayang Terakhir di Netflix Januari 2026

7 Rekomendasi Film Klasik Pemenang Golden Globe di Netflix

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *